BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 61


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 61...


...------- o0o -------...


"Alya .... " panggil Om Bram beberapa saat kemudian.


"Iya, Om."


"Kamu gak apa-apa, 'kan?" tanyanya kembali. Aku menoleh ke arahnya, lalu menggeleng perlahan. "Beneran kamu .... "


Tiba-tiba Della menyela, "Tadi elu manggil nama And--"


Om Bram menyilangkan telunjuknya di bibir sembari menatap gadis tersebut. "Sssttt!"


"Tahu, tuh, Om. Della berisik terus," timpalku pelan.


Om Bram tersenyum. "Ya, sudahlah. Mungkin karena Della kangen sama kamu, Lya."


"Alya juga, Om."


"Huh!" Della mendengkus untuk kesekian kali.


Laki-laki itu menyeringai. "Temani saya nyari makanan, yuk. Kamu pasti belum makan malam, 'kan?"


Ini kesempatanku untuk melabrak si brewok itu. Memaksa dia untuk jujur tentang kebohongannya akan rencana pernikahan dengan Tante Cassandra. Sekaligus ingin mengetahui alasan, mengapa harus ada sandiwara seperti itu di antara kami.


"Belum, Om. Tadi belum sempat," jawabku setelah melirik pada Della dan Bi Mamas yang mesem-mesem. "Bibi kenapa senyum-senyum begitu, sih? Ada yang aneh?"


"Enggak, Non. Saya cuma--"


"Bibi mau pesan makanan apa? Nanti akan saya bawakan, ya." Buru-buru Om Bram memotong ucapan Bi Mamas.


"Eh, iya, Pak. Apa saja, deh," jawab Bi Mamas manggut-manggut.


"Ya, sudah. Yuk, Alya," ajak Om Bram sambil menarik lenganku ke luar ruangan.


"Del, aku cari makan dulu, ya. Kamu istirahat yang benar. Biar lekas .... "


"Aaahh, sudah. Ayo, kita makan." Om Bram kembali menarikku.


Della memonyongkan bibir sesaat sebelum kami menghilang di balik pintu. Tidak ada percakapan sepanjang kami melangkah. Menyusuri lorong rumah sakit menuju arah luar gedung. Yang menyebalkan, Om Bram melepaskan pegangannya begitu kami berjalan berdampingan. Inginnya, sih, dia tetap menarik tangan ini hingga menemukan tempat makan di seberang jalan sana. Namun itu tak terjadi lagi.


"Mau makan apa, Sayang?" tanya Om Bram begitu kami duduk berhadapan di dalam sebuah rumah makan.


Sayang ... sayang ... huh! Dasar mulut pembohong!


Aku mulai berpikir, kira-kira strategi apa yang akan kulancarkan untuk membongkar sandiwara laki-laki ini. Apakah langsung menyerangnya? Atau membeberkan cerita Tante Cassandra tadi siang? Ah, terlalu dini untuk memulai sebuah misi. Pasti dia memiliki jurus-jurus penangkal untuk mengelak. Setidaknya ada dusta susulan yang akan dia ucapkan. Lalu?


"Alya .... "


"Eh, iya, Om!"


"Kamu mau makan apa?" Om Bram menatapku saksama.


"Oh, itu?" Aku menunduk dalam-dalam. Tak berani berlama-lama beradu pandang dengan pemilik mata kecoklatan itu. Khawatir rencanaku semula, hancur berantakan. "Terserah Om saja. Alya ngidem sama Om."


"Ngidam?"


Aku mengangkat wajah. "Hah?"


"Tadi Alya bilang apa?" Bulatan mata itu seperti akan menelanku utuh dengan penuh pesona. "Ngidam?"


"Ngidem, Om. Bukan ngidam."


"Artinya?"


"Maksud Alya ... samain sama pesanan Om. Idem, Om. Idem."


"Ooohh, idem. Aku pikir ngidam?"


"Ah, Om ini .... " Kembali aku menunduk dengan rasa malu. 'Mau dong ngidamin kamu, Om. Apalagi ngidam gara-gara Om Bram. Hihihi.'

__ADS_1


Sesaat kemudian kulit wajah ini mulai terasa memanas. Mudah-mudahan dengan bantuan lampu ruangan yang tidak terlalu terang itu, dia tak melihat ada perubahan warna pipiku.


"Eh, Sayang. Tadi kamu nyebut nama Andre waktu di dalam ruangan. Sebenarnya ada apa, sih, di antara kalian?" Tiba-tiba Om Bram bertanya.


Waduh, pertanyaan itu!


Aku menggeleng. "Endak ada apa-apa, Om."


"Kamu bohong," ujar Om Bram.


'Kamu juga selama ini selalu bohongin aku, Bram! Dasar si Brewok!' umpatku dalam hati.


"Beneran. Endak ada apa-apa. Hanya .... " Sengaja kuhentikan ucapanku agar dia penasaran. Ternyata itu terbukti. Om Bram kembali bertanya. "Hanya apa?"


Aku pura-pura tersenyum.


"Kok, malah senyum-senyum?"


"Dih, Om Bram cemburu, ya?" Aku mencoba menggoda. Mengulur-ulur waktu sambil menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan dadakan.


"Uhuk! Uhuk!" Om Bram terbatuk-batuk. "Kok, malah cemburu? Apa hubungannya?" Dia mengambil lembar daftar menu makanan di dekatnya. Lanjut membaca tanpa mau menatapku.


"Pasti Om Bram mengira aku ada hubungan dengan Andre, 'kan?" Kulancarkan psy-war kedua.


Laki-laki itu mendecak beberapa kali. "B-buat apa cemburu? B-biasa s-saja, tuh."


"Serius?" tanyaku makin semangat untuk menggodanya.


"Lah, iyalah, Alya. Lagian ... aku masih terikat hubungan dengan Cassandra. Alasan apa aku harus cemburu sama kamu?" ujar Om Bram sambil menaikkan lembar daftar menu makanan. Kali ini lebih tinggi dan menutupi wajah dari pandanganku.


Nah, senjataku mengenai sasaran. Dia masih mengakui memiiki hubungan dengan perempuan itu. Padahal aku sudah mengetahui semuanya. Laki-laki ini masih saja terus berbohong!


Hhhmm, lihat saja. Sampai kapan dia akan terus melakukan sandiwara ini. kartu permainanku sudah hampir ditutup. Masih mau mengelak, Bram?


...------- o0o -------...


Hari ini, aku merasa jauh lebih segar dari biasanya. Entahlah karena faktor apa. Namun sepertinya, kabar dusta perihal pernikahan Om Bram dengan Tante Cassandra itu salah satu penyebabnya. Hhmmm, tega-teganya mereka membohongiku selama ini. Bukan cuma si Brewok ber-multibulu itu seorang, hampir semua pihak ikut terlibat berkonspirasi. Della, Bi Mamas, dan juga Andre.


Heran! Sebenarnya apa maksudnya sih, mereka membuat drama amatiran seperti itu? Bodohnya lagi, berpekan-pekan aku selalu percaya dan tersiksa dengan perasaan dan pikiranku sendiri. Seakan-akan durasi dunia ini akan segera berakhir, tinggal menunggu kemunculan credit title.


Sialan!


Ah, gila! Ini benar-benar sudah gila!


Walaupun sekarang aku sudah mengetahui dan menyadari telah dipecundangi mentah-mentah oleh Om Bram, tapi pesona laki-laki itu masih begitu besar terasa. Bisa saja mulutku mengucap benci, tidak dengan hati ini. Aku berharap sekali suatu waktu bisa bersama … berdua … dengan si pemilik bulu dada lebat itu. Huh, genderuwo yang mengangenkan. Hi-hi.


“Lya ….”


Ah, kudengar suara berat memesona itu di belakang sana. Namun aku tidak ingin lekas menjawab maupun menyahut. Asal sumbernya masih jauh. Biar saja dia mendekat perlahan-lahan, terus kembali memanggil, mengempaskan embusan napasnya di telinga ini, lanjut melingkarkan kedua tangan membelit perutku, kemudian ….


“Hai, selamat pagi,” sapa Om Bram muncul dari samping. “Lagi bikin kopi, ya?” tanyanya terdengar lembut. Pasti pura-pura dan cuma berbasa-basi.


Hhmmm, tidak sesuai ekspektasi!


Sapaan dan pertanyaan yang tidak perlu kubalas dengan ucapan apapun. Sudah tahu ini memang pagi hari dan aku lagi bikin secangkir kopi, buat apa pula ditanya-tanya segala? Akal bulus laki-laki. Jika sudah mulai tercium aroma kebohongannya, pasti akan berubah sok baik dan bijaksana. Teorinya sih, begitu. Contohnya … tuh, orang yang ada di sampingku!


“Lya ….” Kembali om Bram memanggilku. Apakah kali ini harus dijawab? Rasanya belum masanya. Biar dia tahu kalau aku lagi mengambek berat. “Hai, kok diem saja? Sariawan, ya?”


Hhmmm, tidak kreatif! Mau menggodaiku, tapi pakai kalimat endorse. Yang lain dong, Om! Meluk aku misalnya. Eh?


“Kamu kenapa sih, Alya?” tanya Om Bram untuk yang kesekian kali. “Perasaan … dari sepulang kemaren dari rumah sakit, kamu gak banyak omong sama aku. Ada apa, sih?”


Pret! Ada apa, sih? Pura-pura bertanya pula. kebohonganmu sudah aku bongkar, Om! Tidak peka amat sih, jadi laki-laki.


“Hei ….”


Duh, tanganku dicekal Om Bram! Padahal saat ini aku ingin buru-buru menghindar dari area panas tersebut.


“Kamu marah sama aku?” tanya Om Bram masih juga berusaha mencegah aku untuks segera bergegas kabur dari sana. “Marah karena apa, sih? Aku nanya baik-baik loh, Lya.”


Tidak usah banyak tanya, Om! Tarik saja tanganku dengan kuat agar tubuh ini ikut tergerak mundur dan jatuh ke dalam dekapanmu. Hi-hi. Ngarep!


“Lya ndak apa-apa, Om,” jawabku akhirnya penuh keterpaksaan. “Lya cuman ndak enak badan.”


“Hah? Kamu sakit, Lya?” tanya Om Bram terdengar panik, tapi tidak juga kunjung membalikkan badanku agar bisa segera saling berhadap-hadapan.


Aku tidak ingin menjawab. Malah memejamkan mata ini dengan kuat dan berusaha memokuskan diri agar bisa semuanya bisa terkontrol sebaik mungkin.

__ADS_1


Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut hinggap di kening ini. Lantas berpindah-pindah ke area pipi dan leher. Gerangan apa yang akan Om Bram lakukan padaku selanjutnya, ya?


Ah, kurasakan denyutan nadi serta aliran darah di dalam tubuh ini sontak seperti tersentak aliran setrum berdaya tegang tinggi.


“Ah, biasa-biasa aja, kok,” ujar Om Bram sangat mengecewakanku. “Suhu badan kamu normal-normal saja. Kamu sehat, Lya.”


Dih, yang lagi meriang itu … yang ada di balik dadaku, Om! Coba periksa dan sentuh juga. Eh? Maksudnya … selami perasaanku … dengan hatimu. Hi-hi.


Ya, ampun! Kok, malah makin menggila sih, aku. Bukannya konsentrasi buat melanjutkan acara merajuk ini. Malah benakku diisi oleh hal-hal yang tidak bermutu seperti itu.


“A-aku … hari ini ndak kuliah dulu deh, Om,” kataku tanpa mau membuka kelopak mata ini sedikitpun. Khawatir jika sampai beradu mata dengan pemilik warna retina coklat dan bulu lentik itu, malah semuanya jadi berantakan. Ambyar. “Alya pengen istirahat panjang ….”


“Astaga! Kok, istirahat panjang sih, Lya?” Om Bram terdengar kaget.


“Eh, maksud Lya … tidur seharian ini, Om,” kataku cepat-cepat meralat. Aneh, malah ‘ngelantur’ ke hal yang panjang-panjang, sih? Kacau. “Alya ngerasa capek.”


“Ooohh … ‘gitu maksudnya. He-he. Sampe kaget aku,” timpal Om Bram. “Ya, sudah … kalo kamu ngerasa capek, istirahat sana. Biar Bi Mamas yang ngerjain kerjaan rumah.”


“Istirahat di mana ya, Om?” tanyaku tiba-tiba seperti melayang-layang pikiran ini diperhatikan sedemikian rupa oleh lelaki brewok tersebut.


“Di kamar Alya sendiri, dong,” jawab Om Bram terdengar agak meninggi. “Mau pake dulu kamar Della? Pake aja. Gak apa-apa, kok.”


“Eh, iya … maksudnya begitu tadi, Om. Maaf,” ucapku seraya menguatkan daya fokus ini yang mulai memudar.


Duh, gila! Bisa-bisanya aku sekonyol itu.


“Della hari ini dijagain sama Andre,” pungkas Om Bram menjelaskan. “Jadi kamu bisa istirahat seharian di rumah.”


“Ooohhh.”


“Lagian … sekarang ‘kan hari Minggu. Kamu ada jadwal ketemuan sama dosen atau ‘gimana? Kok, libur begini masih mau masuk kuliah?”


“Haahhh?”


“Hah kenapa?”


“Ya, Tuhan!”


“Ada apa?”


Aku sampai tidak ingat bahwa hari ini memang hari Minggu. Bagaimana bisa aku membuat alasan yang irrasional? Konyol sekali. Pantas saja si Brewok itu terdengar biasa-biasa saja. Paling tidak, paniklah atau tanya macam-macamlah. Ini malah SNI (Standar Nasional Indonesia). Datar kayak mode TV zaman sekarang. Huh!


“Ndak apa-apa, Om. Aku cuma sedikit amnesia saja.”


“Kok, amnesia?”


“Eh, maksudnya … lupa kalo hari ini libur kuliah.”


Terdengar cekikik kecil di arah depanku. Pasti si genderuwo itu lagi nikmat tertawa. Dasar!


“Oh, begitu. Ya, sudah. Sana istirahat, ya,” ujar Om Bram.


Tanpa menjawab, perlahan-lahan aku mengayunkan kaki menapaki lantai untuk menuju kamarku di atas sana.


“Lya ….”


Dih, apalagi, sih?


“Iya, Om?” Jantungku mendadak berdebar-debar. Gerangan apa selanjutnya yang akan dia lakukan kali ini, ya?


“Matanya sudah dibuka lagi, ‘kan?” tanya Om Bram.


“Haaahhh?”


“Jalannya jangan sambil merem. Bahaya.”


Dih, sialan! Aku kira mau apa. Ternyata cuma mengingatkan dan itu memang murni aku yang salah. Jalan kaki sampai lupa membuka mata ini. Bisa-bisanya ….


DUK!


“Aduh!”


“Tuh, ‘kan? Aku bilang juga apa barusan. Hi-hi!”


Ya, Tuhan!


Huh, sudah berapa kali tembok itu menghantam keningku selama tinggal di rumah ini? Penyebabnya pun hampir semuanya sama, yakni gara-gara si Bram

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2