
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 23...
...------- o0o -------...
Sialan! Dia paling bisa, deh, membuatku jantungan. Khawatir sekali Della akan berkata yang bukan-bukan. Hafal banget, mulut dia itu ‘ngember’.
Gadis itu buru-buru beringsut menjauh ketika sikutku bersiap-siap mendepak lengannya.
“Bisa saja, deh, kamu, Del.”
Om Bram ikut tersenyum. “Saya juga senang sekali. Semenjak Alya bersama kami, Della berubah menjadi sosok yang periang.”
“Memang sebelumnya bagaimana, Om?” Aku penasaran. “Dia itu tipe anak pendiam. Tak begitu suka bergaul dan tak banyak teman yang dia miliki,” jawab Om Bram.
“Pah!” seru Della protes. Tak ingin Om Bram membuka masa lalunya. Laki-laki itu malah semakin lebar tersenyum.
“Sikap Della memang terkesan jutek, sombong, atau apalah. Tapi aslinya seperti yang Alya kenal selama ini. Ketawa-ketiwi atau bahkan gemar bercanda. Saya sangat mensyukurinya. Anak kesayangan Papah telah kembali ceria .... “ Om Bram tak mempedulikan rengutan Della. “Terserah kalian akan menganggap kalian seperti apa. Siapa yang merasa kakak atau adik. Bagi saya itu tak begitu penting. Pokoknya, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan saya juga.”
“Pah! Udah, dong!” rengek Della.
“Dan buat kamu Alya .... “ Om Bram menatapku dalam-dalam.
“Iya, Om,” jawabku cepat.
“Mulai saat ini, kalau kamu mau memanggil saya ... Papah juga gak apa-apa.”
“Maksud Om bagaimana? Alya belum paham.”
“Sudah lama ... saya menganggapmu sebagai anak kandung sendiri, Lya,” ujar Om Bram akhirnya. “Apalagi saya dengar, kamu sudah tak mempunyai orangtua 'kan, Lya?”
__ADS_1
Apa? Tak salah dengarkah? Nyatakah ini? Aku ingin memastikan bahwa ini bukanlah sedang bermimpi. Kucubit keras-keras paha sendiri, dan ....
“Aduh!” Tak sadar aku menjerit keras.
“Kenapa lu?” tanya Della terkejut. “Ndak apa-apa. Aku hanya kaget saja,” jawabku asal, sambil meringis mengusap-usap paha.
“Bagaimana, Lya?” Om Bram bertanya. “Apanya, Om?” Aku bingung harus bahagia ataukah sedih. Jelasnya kalau mau jujur, justru seperti patah hati. Cintaku berbalas hubungan bapak-anak.
“Kamu boleh memanggil saya Papah, Lya,” jawab Om Bram. “Atau kalo lebih senang dengan panggilan Om juga, tak apa-apa. Saya tetap senang, kok.”
Tidak! Yang kuharapkan bukan itu, Om! Hubungan seperti itu justru akan semakin membuatku tersiksa. Selamanya? Entahlah. Cintamu, Om! Cintamu!
“Alya .... “
“Iya, Om. Eh, Pah! Eh?“
Om Bram menatapku dengan saksama. “Kamu kok, malah terlihat murung?”
“Elu gak seneng ama berita ini, Cuy?” Della ikut bertanya. Mereka berdua memandangiku sedemikian rupa. Ya, Tuhan! Aku bingung harus menjawab apa, ya?
“O, iya. Saya minta maaf. Mungkin ini terlalu terburu-buru, Alya.” Buru-buru Om Bram menimpali. “Tidak seharusnya secepat ini, kan, Alya? Saya .... “
Tidak, Bram! Aku mencintai kamu, Pria Berbulu! Mengapa kamu tak mau memahami aku, sih? Aku cinta setengah gila sama kamu, Bramanditya!
Kalau saja tak ada Della di sana, ingin rasanya menghambur peluk ke arah tubuh Om Bram. Menangis tersedu dalam dekapannya. Lalu berteriak histeris bahwa sebenarnya aku sangat mencintai dia. Tak peduli apa pun risiko yang akan dihadapi. Itu akan lebih melegakan sesak paru, ketimbang harus terus-terusan memendam rasa menyiksa ini.
“Lya, elu nangis?” Della meraih pundakku. Kemudian menarik tubuh ini ke dalam pelukannya. “Kenapa, Lya? Kamu sedih?”
Benar, aku butuh tempat untuk menumpahkan rasa kecewa ini. Bukan Della yang diharapkan, tapi laki-laki yang ada dihadapan. Tapi tak mungkin, aku masih waras. Apalah jadinya jika tetap berkeras hati melakukan hal itu. Tentu akan melukai gadis itu, kan?
“Maafin gua, Lya,” kata Della. “Gue emang sengaja ngajak elu ke sini buat ngomongin masalah ini. Semua udah kami rencanakan. Elu pernah nanya, kan, ama gua dulu? Tentang hal ini.”
Aku belum sanggup berkata. Hanya bisa menangis dan menangis dalam pelukan Della. Sementara Om Bram memilih diam seribu bahasa.
“Gue ingin elu jadi keluarga gue sendiri, Lya. Karena gue suka ama elu. Berulangkali gue ngomong ama Papah, tapi sering ditolak. Papah tahu ini terlalu cepat. Sampai akhirnya gue berhasil meyakinkan Papah, kalo gue gak salah pilih. Elu emang pantas mendapat kebahagiaan, Lya. Bersama kami. Gue dan Papah,” ujar Della menambahkan.
__ADS_1
Tapi tetap bukan itu yang diinginkan, Della. Aku mengharapkan papahmu! Sekarang, semuanya perlahan sirna. Om Bram hanya menganggapku sebagai seorang anak.
Setelah beberapa lama saling terdiam, akhirnya Om Bram angkat bicara. “Baiklah, jika memang kamu belum siap, gak apa-apa, Lya. Kami menghargai apa pun keputusan kamu. Bagi saya pribadi, kamu adalah keluarga baru kami.”
Aku melepas pelukan Della. Lalu menatap Om Bram tajam. “Aku mencintaimu, Om. Sudah lama aku mencintaimu,” kataku tiba-tiba setengah menggeram. Rasanya sudah tak tahan dari tadi berusaha untuk tak mengatakan kalimat itu.
Della dan Om Bram saling berpandangan.
“Alya .... “ Om Bram terkejut dengan mulut ternganga. “Maksud Alya apa?”
“Alya mencintai Om Bram,” kataku kembali mengulangi dengan jelas.
“Cuy, elu .... “ Della ikut terheran-heran.
Aku tersenyum puas karena telah mampu mengungkapkan separuh dari isi hati ini. Sekarang terserah, apa pun yang terjadi, aku siap menerimanya.
...------- o0o -------...
“Aku mencintaimu, Om. Sudah lama aku mencintaimu,” kataku tiba-tiba setengah menggeram. Rasanya sudah tak tahan lagi untuk mengatakannya.
Della dan Bram saling pandang. “Alya .... “ ujar mereka dengan mulut menganga. “Kenapa?” tanyaku heran. “Ada yang salah dengan ucapanku?”
Bram dan Della menggeleng.
“Lalu?” Aku bingung. “Maksud elu tadi apaan, Cuy?” Della masih ternganga. “Yang mana?” Heran, deh, dengan dua orang ini. “Yang tadi .... ” seloroh Della kembali. Bram hanya termangu, ada gurat gamang di wajah laki-laki flamboyan berbrewok tipis itu.
“Cinta-cintaan, maksud kamu?” tanyaku pada Della. Gadis itu mengangguk. “Ada apa? Kok, bingung?” lanjutku disambut.
“Just tell me, Cuy. Do not telmi (telat mikir/lemot),” balas Della gemas. “Susah amat, sih, ngomong. Repotnya dari tadi bolak-balik kagak jelas!”
Tiba-tiba aku tertawa. Lucu sekali. Bagaimana tidak? Melihat ekspresi kedua orang tersebut. Bram dan Della.
“Lya! Bisa waras gak, sih, lu?” seru Della kesal rupanya. Bram mendelik. Tawaku terhenti perlahan.
“Bisa ... bisa banget!” Aku menepuk paha Della keras-keras. Dia sampai meringis seraya mengusap-usap. “Aku cinta sama Om Bram sebagaimana aku mencintai kedua orangtua sendiri, apa itu salah?”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...