BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 42


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 42...


...------- o0o -------...


"Sudah agak tenang?" tanyanya setelah beberapa saat. Om Bram ingin meyakinkan.


Aku mengangguk perlahan. Masih dengan mata tertutup rapat. Takut begitu terbuka akan kembali ke suasana semula. Artinya, harus mengulang tarik-hembus napas.


"Sudah, Om," jawabku, fokus dengan pertanyaan yang masih menggumpal.


"Sekarang, bicaralah. Perlahan saja. Jangan terburu-buru," pinta Om Bram makin mengeratkan genggaman jemarinya.


"Iya, Om."


Aku mulai menguatkan hati. Menyusun kembali kata-kata yang tadi sempat sirna.


"Ayo, mulai bicara, Alya. Satu ... dua ... tiga ...." Om Bram memberi aba-aba.


Diawali dengkusan napas, kugerakkan bibir yang gemetar ini untuk berucap, "Alya ... ingin bertanya sama, Om Bram."


SREK! SREK! SREK!


Kudengar Om Bram menggaruk kuat kulit kepalanya. Mungkin kesal atau ada rasa lain? Bisa jadi juga, dia tengah mencakar-cakar kain beludru sofa. Ah, aku tak berani membuka mata ini untuk mengetahui.


"Iya, Alya ingin bertanya tentang apa?" Suara laki-laki itu agak tertahan. Pasti karena menahan rasa jemu. "Dari tadi, Om sudah tahu, Alya memang mau nanya, 'kan?"


SREK! SREK!


Suara itu kembali terdengar.


"Om .... "


"Iya."


"Alya ingin .... "


"Bertanya?"


"Bukan, Om."


"Lalu?"


Sejenak mengatur napas yang sesak, kulanjutkan ucapan, "Alya ... ingin ... membalik badan. Alya ndak sanggup kalau bicaranya berhadapan begini."


SREK! SREK! SREK!


"Baiklah. Terserah Alya saja, deh," jawab Om Bram diiringi dengkusan napas panjang. Dia segera melepas genggamannya. Kemudian kuputar tubuh ini, membelakangi laki-laki flamboyan itu, dengan mata terpejam. Itu pasti!


"Om .... "

__ADS_1


"Iya!"


"Maafin Alya, ya."


"Iya, dimaafkan!"


Kuatur napas kembali. "Sebelumnya Alya mohon maaf, ya, Om."


"He'eh!"


"Sebenarnya ... Alya ... minta maaf sebelumnya, karena mau bertanya sama Om."


SREK! SREK! SREK!


Hening. Tak ada tanggapan maupun balasan. Ke mana Om Bram?


"Om?" kupanggil laki-laki itu. "Om masih di belakangku, 'kan?"


Terdengar deham dan batuk kecil. "Uhuk! Uhuk! Eheemmm!"


"Oh, syukurlah," aku bergumam, "itu ... Om. mengenai Om Bram sendiri."


"Mengenai Om? Tentang apa?" Suara laki-laki itu terdengar bersemangat.


Kutelan liurku. Sekadar membasahi tenggorokan ini yang kering. "Perasaan Om sama Alya." Dadaku kembali bergemuruh.


"Perasaan apa, Lya?"


Dih, malah balik tanya. Sikap kamu yang ambigu itu, Bram!


Laki-laki itu mendeham sebentar. "Yaaa ... Om sudah menganggap Alya sebagai bagian dari keluarga Om dan Della. Bukankah sudah pernah di bahas waktu di kantor Om, sebelumnya?"


Hhhmmm, dia belum mau jujur juga! Mau sampai mana kaulari, Bram? Akan kukejar dirimu sampai titik peluh ini kerontang! Detik ini juga, atau tidak sama sekali!


"Bagian dari keluarga, ya, Om?"


"Iya, Alya. Apa masih kurang?"


"Maksud Om?"


"Memasukkan nama Alya ke dalam daftar Kartu Keluarga Om, misalnya?"


'Hhmmm, itu belum cukup, Om. Lebih lengkapnya, daftarkan nama kita ke dalam buku nikah. Mauku begitu, lho,' kataku dalam hati.


"Sebagai apa, Om?" tanyaku kian mendesaknya.


"Maksud Alya, bagaimana?" Suara Om Bram tercekat. Pasti dia mulai terpojok. Rasakan!


"Maksud Alya ... sebagai anak, keponakan, adik, cucu ... atau juga .... " Aku tak meneruskan ucapan. Biarlah tugas dia yang akan mencerna dan menerjemahkannya. Hanya ingin tahu, sampai berapa lama akan terus jadi laki-laki misterius.


"Yaaa ... sebagai ... anak, Lya. Bersaudara dengan Della, tentunya," jawabnya tercekat.


Aku menarik napas dulu. Berancang-ancang melancarkan serangan berikutnya. "Sebagai anak, ya, Om?"


"I-iya."

__ADS_1


Hhmmm, mulai gugup dia.


"Beneran? Hanya sebagai anak?" Aku ingin lebih menekannya. Kali ini cukup sebatas pribadi. Mungkin lain kali berupa tekanan dalam bentuk lain. Jika perlu, pemaksaan!


"I-iya, L-lya. Maunya Alya, dianggap s-sebagai a-pa?" Kudengar dengkusannya untuk kesekian kali. Ingin sekali rasanya segera balik badan. Melihat raut wajah laki-laki itu seperti apa kini.


"Lalu ... yang pernah Om lakukan sama Alya beberapa malam yang lalu, itu apa, Om?" Makin bersemangat aku mencecarnya. "Itu bentuk pengakuan dari seorang papah terhadap anak?"


Ya, waktu itu Om Bram pulang malam dalam keadaan setengah mabuk. Dia memeluk dan menciumku. Perlakuan orang tua terhadap anak? Omong kosong! Dia sempat mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Ciuman seperti apa itu? Kasih sayang atau nafsu, Bram?


"I-itu ... i-tu .... "


"Om mencium Alya, Om!" kataku setengah berteriak, seraya membalikkan badan serta membuka mata. "Della?"


Ya, Tuhan! Della ada di sana. Duduk tak jauh dari Om Bram. Sejak kapan gadis itu datang? Menatap tajam padaku dan papahnya.


"Kaget?" tanya Della disertai senyuman kecut. "Kenapa? Gue gak boleh ikut dengar obrolan elu ama Papah, Lya?"


Jantungku kembali berdetak kencang. Jadi, bukan karena laki-laki itu gugup karena terdesak pertanyaanku? Della penyebabnya? Sungguh, ini akan semakin rumit.


"Kapan kamu datang, Del?" Aku mencoba berbasa-basi dan menenangkan diri.


"Sejak elu membelakangi bokap gue. Gak nyadar, ya, lu?" Della makin galak.


Gawat! Mungkin, ini akan jadi akhir dari persahabatan kami. Della sudah mengetahui rahasia yang selama ini kupendam. Tak ayal lagi, dia pasti akan mendepakku dari rumah ini. Seperti yang dilakukannya pada pembantu-pembantu terdahulu.


"Della, tenanglah, Sayang," ujar Om Bram berusaha menengahi.


"Pah!" Della balik melotot pada papahnya. "Apa yang pernah Papah lakuin sama Alya malam lalu itu? Malam kapan, sih? Della gak pernah tahu, selama ini ada hubungan khusus antara Papah dengan Alya."


"Tenang, Della. Papah gak ngelakuin apa pun. Tanya ama Alya kalo Della gak percaya." Om Bram mengedipkan mata sebelah.


Hhmmm, kode apa itu, Om? Minta aku berbohong, 'kan? Begitu pengecutnya dirimu, Om. Tak kusangka.


"Ya, Om Bram menciumku, Del," jawabku disambut belalak Della. Om Bram malah menepuk kening.


Bukan jawaban itu, 'kan, yang kamu harapkan, Bram? Ingin aku ikut berbohong untuk menutupi kelakuanmu itu? Hhmmm, jangan harap!


"Mencium elu?" Seakan Della belum mau memercayai ucapanku. "Berapa kali, Lya?"


"Sering, Del."


"Sering?" Mata Della makin melotot.


Om Bram menatapku tajam. Mungkin dia tak percaya, aku telah membongkar semuanya. "Lya. Kamu .... "


Mataku menyipit, diiringi senyuman puas. "Ya, sering," tegasku kembali. "Seperti halnya Om Bram menciummu juga, Del."


Della mengernyitkan dahi. "Maksud elu?"


Kulirik Om Bram sesaat, lalu lanjut menjawab, "Papahmu juga sering menciumku di sini." Aku menunjuk kening. "Kenapa? Kamu cemburu, Del?" Diiringi tawa, semakin terasa drama picisan ini berlaku.


Om Bram melongo, kemudian menarik napas lega. Namun tidak begitu dengan Della. Gadis itu kelihatannya ---malah--- masih penasaran.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2