BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 44


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 44...


...------- o0o -------...


Tampak dia kembali berpikir. Sampai kemudian menjawab, “Aku memang menyukainya. Tapi kehadiranmu dalam hidupku, membuatku lebih bersemangat, Lya.”


“Memangnya sama dia, Om ndak bersemangat?”


“Dia gak bisa masak, Lya.”


“Masa?”


“He’eh. Malah gak bisa bedain antara mecin dengan bubuk sitrun.”


“Masa, sih?”


“Iya. Kopi buatannya gak seenak buatan kamu, Lya.”


“Ah, Om bisa saja. Dih!” Kucubit lengannya yang berbulu. “Om mau kopi? Biar Alya buatkan.”


“Aku inginnya ... kamu, Alya!” goda Om Bram.


SEERRR!


Darahku tiba-tiba berdesir. Duh, jadi salah tingkah, nih!


“Jangan, Om. Kita belum halal,” balasku, “dosa!”


Om Bram mengerutkan kening. “Lho, tadi kamu minta sampai dua kali. Itu apa, coba?”


Ah, jadi bingung menjawab. Yang pasti, sih, di mukaku seperti ada api unggun. “Yang atas masih boleh, sih, Om. Asal jangan bagian yang lain. Hihihi.”


PLOK!


Kutepuk paha laki-laki. Menyebalkan tapi gemas.


“Aw! Sakit, Sayang!” seru Om Bram sambil meringis. Dia kembali mencubit daguku.


Ya, ampun! So sweet banget, sih! Kalau saja sudah jadi pasangan resmi, kutubruk dia. Namun .... ah, sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain. Tak mungkin melakukan hal semacam itu. Karena aku tak ingin menjadi anggota KPI. Komunitas Pelakor Indonesia. Bisa berjilid-jilid kisah hidupku disantap ribuan mata kutu buku daring.


“Om.”


“Hhmmm.”


“Kalau sampe Della tahu semua ini, bagaimana?”


“Aku dan kamu?”

__ADS_1


“Iyalah. Masa Om Bram dan Bi Mamas, sih?”


Laki-laki itu berpikir agak lama. “Sebaiknya kita rahasiakan dulu. Aku kenal sekali watak anak itu. Jika sampai tahu, aku takut kamu akan diusir dari sini, Lya.”


“Apa sebaiknya Alya pergi saja dari sini, Om?”


“Ke mana?”


“Cari kontrakan baru.”


“Jangan!”


“Daripada seperti ini? Kita harus berpura-pura terus. Lagipula, sebentar lagi bakal ada penghuni baru, ‘kan?” kataku tiba-tiba merasa cemburu mengingat Tante Cassandra.


“Jangan! Pokoknya kamu harus tetap tinggal di sini, Sayang. Della membutuhkanmu,” ujar Om Bram menegaskan.


“Dan melihat Om bersama Tante Cassandra setiap hari?”


Sumpah! Aku tak bakal sanggup, melihat pemandangan yang bisa membuat jantungku bekerja dua kali lipat. Bisa-bisa pingsan setiap hari. Khawatirnya malah tambah parah. Epilepsi. Amit-amit!


“Kita pikirkan cara lain nanti.”


“Maksud Om? Hubungan kita akan seperti ini selamanya? Sementara Om enak-enakan bersama Tante Cassandra?” Aku menggeleng-geleng, tak paham dengan jalan pikiran laki-laki ini.


“Maksudku ... mungkin Cassandra tak akan tinggal di sini.” Dia mulai bingung.


“Lalu aku ndak akan bisa lagi bertemu dengan Om?” Tiba-tiba aku ingin menangis. “Om ndak paham perasaan Alya, sih! Alya sangat mencintai Om, tahu? Alya juga ingin bersama Om!”


SREK! SREK! SREK!


Aku menggeleng-geleng kembali.


“Alya ndak ingin jadi pelakor,” kataku lirih.


“Mengapa harus melapor? Memangnya kamu mau laporan apa? Ke siapa? Della? Polisi?”


Wah, gawat! Di samping gagah, telinga laki-laki ini juga error. Sama seperti dokter tua dan gundul yang jidatnya mengilap seperti etalase toko itu.


“Pelakor, Om. Perebut laki-laki orang lain. P-E-L-A-K-O-R,” kueja huruf per huruf agar dia paham.


“Jadi aku harus bagaimana, Lya? Aku tak mungkin membatalkan pernikahan itu. Sementara Della sudah setuju, aku menikahi Cassandra. Sepuluh tahun aku menduda dan menunggu persetujuan Della untuk menikah lagi, Lya,” ujar Om Bram.


“Kok, jadi Alya yang harus memutuskan? Itu, kan, masalah Om sendiri,” balasku sengit. “Om harus bisa memilih, perawan atau janda? Itu saja.”


“Ini bukan perkara perawan dan jandanya, Lya. Masalahnya tak semudah itu,” jawab Om Bram mulai kesal. “Kalo aku membatalkan pernikahanku dengan Cassandra dan memilih menikahimu, apa Della akan mengizinkan? Kalo iya, jelas ... aku dan kamu, bahagia. Jika tidak? Coba pikir!”


Kutatap mata lelaki itu. Dia benar, tapi juga egois. Ingin menang sendiri. Merengkuh dua pulau sekaligus demi hasrat pribadi, tanpa harus berkorban sama sekali.


Apakah aku yang harus mengalah? Merelakan mereka bersenang-senang, sementara aku tersiksa.


Tuhan! Kisah cinta seperti apa, sih, ini?


“Sayang, mau ke mana kamu?” tanya Om Bram begitu aku bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan. Dia mencekal pegelangan tanganku. “Aku belum selesai bicara.”

__ADS_1


Percuma saja! Tak ada lagi yang perlu dibahas. Intinya memang aku yang harus mengalah. Pergi dari rumah ini, satu-satunya jalan terbaik.


“Alya mau ke kamar. Alya ingin istirahat.”


Om Bram melepaskan cekalannya. “Ya, sudah. Istirahatlah dulu, Sayang.”


Tapi aku tak juga segera melangkah.


“Apalagi? Katanya mau ke kamar?” tanya laki-laki itu heran. Aku masih belum bergerak.


“Om mau kopi, ‘kan?” tanyaku tanpa melihat ke arahnya.


“Biarin. Aku bikin sendiri nanti,” jawab Om Bram.


“Siapa tahu, ini kopi terakhir buatan Alya menjelang pernikahan Om.”


“Oh, Alya. Kamu masih saja memikirkan itu.”


“Lah, iyalah, Om. Bagaimana ndak terpikir, Alya cemburu, tahu?” rajukku sedikit menahan rasa ingin menangis kejer.


“Iya! Iya! Bikinlah, kalo memang itu bisa membuat Alya bahagia,” kata Om Bram mengalah.


Aku masih belum bergerak.


“Apalagi?” tanya laki-laki itu.


Kubalik badan seraya menatapnya. “Tapi beneran kopi buatanku lebih enak dari Tante Cassandra?”


“Ya, ampun, Alya! Sudah kubilang, Cassandra gak bisa masak!”


“Kalau bedain gula dan garam, dia bisa, ‘kan, Om?”


Om Bram mengusap wajah. “Nanti aku tempeli tulisan GARAM dan GULA di tiap wadahnya. Cassandra pasti tahu kalo gitu.”


Hhmmm, semoga saja si Cassandra itu tak akan membuat kopi menggunakan bumbu racik rasa rendang. Kasihan sekali laki-laki terkasihku tak bisa lagi menikmati kopi buatanku kelak.


“Tante Cassandra suka makan jengkol ndak, Om?” Rasa kepoku tiba-tiba naik tingkat. Om Bram melongo. “Hubungannya apa sama aku?” tanyanya kesal.


“Soalnya Alya suka jengkol, Om.”


“Ya, Tuhan! Aku gak pernah peduli orang mau makan apa. Asal jangan suka makan orang saja! Ngeri, nanti aku bisa dikunyah habis.”


“Terus ... kalau .... “


“Sudah! Sudah! Aku mau bikin kopi sendiri saja, deh, Lya,” seru Om Bram seraya bangkit.


“Lya bikinin segera! Om tunggu saja di sini!”


Aku langsung berlari ke dapur. Membuatkan kopi, lalu secepatnya kembali. Namun sosoknya sudah tak ada di tempat. Entah ke mana. Masuk kamarnyakah? Perlu kususul? Jangan! Nanti ketahuan Della. Bisa gawat. Setelah mengucek kopi, bisa-bisa aktivitas berlanjut pada mengucek-ngucek adonan yang lain.


‘Benarkah perempuan itu ndak bisa membuat kopi? Sayang sekali. Kamu ndak sebanding dengan Om Bram-ku, Cassandra! Cuma menyenangkan calon suami dengan kucekan kopi saja ndak bisa, apalagi melayani yang lain? Ini perlu diselidiki! Perempuan tipe apakah sebenarnya dia?’ gumamku dalam hati sambil menyeruput kopi yang ditinggal Om Bram.


“Fuuuhhh!” Aku langsung menyemburkan kembali air kopi yang baru diseduh. “Huh, fangas! Fangas!” seruku sendiri sambil mengipas-ngipas mulut yang kepanasan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2