BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 68


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 68...


...—---- o0o —----...


Aku pikir, sekarang keadaannya berbalik 180° (seratus delapan puluh derajat). Kartu AS Om Bram sudah kukantongi. Tidak ada lagi celah bagi dia untuk mengelak maupun berbohong kini.


"Kuakui semuanya, Alya sayang," kata Om Bram mulai bertutur. "Dulu … aku memang pernah ngelakuin kesalahan. Fatal, mungkin. Dan aku … gak nyangka bakal kayak begini akibatnya."


Kubiarkan dia berbicara. Tak akan disela maupun ditanya-tanya. Ingin tahu saja, sampai dimana kejujuran itu akan terungkap dengan sendirinya. Walaupun sebenarnya, ingin sekali hati ini lekas mendengar inti dari permasalahan atau kesalahan yang dia maksud itu.


"Bertahun-tahun aku berusaha buat memperbaiki diri. Gak begini atau gak begitu."


Sebal!


Kenapa sih, kalimatnya serba ambigu seperti itu? Tadi bilangnya 'berbuat kesalahan', sekarang malah 'gak begini-begitu'. Maksud Om Bram itu apa coba? Jelas sekali, dia masih berusaha menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya. Masih mau mengelak? Entahlah. Lebih baik aku tunggu saja untuk sementara waktu.


Lanjut Om Bram bertutur, "Kamu tahu? Aku membesarkan Della seorang diri, sejak Mamanya meninggal dulu. Aku gak ingin ada campur tangan dari perempuan manapun saat merawat anak itu hingga kini. Makanya, aku memilih buat enggak beristri. Berapa tahun coba, Alya?"


Hitung saja sendiri, Bram. Soal matematika, otak ini agak kurang bersahabat difungsikan. Terkecuali mengejar hati dan cintamu. Hi-hi. 


Aku masih tidak ingin menjawab. Biarkan saja sampai dia tuntas bercerita atau dengan sendirinya mengajukan pertanyaan yang benar-benar wajib kujawab.


"Sekarang dia seumuran kamu," kata Om Bram kembali. "Selama itu, aku berusaha bersabar dan menahan diri untuk gak menikah. Sampai akhirnya … kedatanganmu ke tengah-tengah keluarga kami, sedikit banyaknya telah mempengaruhi niatku semula."


Sejak kedatanganku? Maksudnya Om Bram menyukaiku dari pertama kali kenal? 


Ya, Tuhan! Benarkah itu? Kupikir selama ini cuma aku seorang yang memiliki perasaan itu. Berlama-lama harus bersandiwara dan memendam impian ini dari semua orang. Pantas saja, sepintas terkadang dia seperti hendak membalas cintaku, tapi seringkali pula terlihat apatis. 


Eh, sebentar ….


Haruskah aku percaya begitu saja pada omongannya? Tidak. Aku harus terlihat mahal kini. Pengalaman dibohongi Om Bram selama ini, kudu dijadikan pelajaran berharga. Biasanya, orang yang suka berdusta, akan kembali melakukannya jika dalam kondisi terdesak. Tidak menutup kemungkinan Om Bram pun sedang melakukan tindakan yang satu itu.

__ADS_1


"Terus terang saja, Alya, aku memang menyukai kamu," pungkas laki-laki itu mengakhiri kisah.


"Kamu yakin dengan perasaanmu itu, Bram?" tanyaku seraya menahan diri untuk tidak lekas-lekas menghambur ke dalam peluknya. Pokoknya aku harus jual mahal! Tidak ada bonus free ongkir maupun diskonan. Titik segede kelapa … diparut halus!


"Kamu ngeraguin kata-kataku, Alya?" 


"Ya, iyalah!" jawabku sengit tanpa sedikit pun mau menoleh maupun menatap indahnya bola mata makhluk yang sangat kukagumi tersebut. "Kamu pikir aku akan langsung percaya, 'gitu, setelah berkali-kali kalian bohongin? Ya, ndak begitu juga 'ngkali, Bram!"


"Ooohh … begitu, ya?" tanyanya menyebalkan. Cukup bilang itu. Tidak ada lagi kelanjutannya. Minimal berusaha meyakinkan aku atau bagaimanalah terserah dia. Benar-benar tidak peka dan sangat kurang dewasa! Huh!


"Ya, iyalah!"


"Terus supaya kamu percaya sama aku, 'gimana mau kamu sekarang, Alya?"


Waduh! Jelas itu pertanyaan menjebak. Aku tidak boleh terlena atau terperangkap. Dia pikir, aku akan mengajukan keinginanku yang terbesar saat ini untuk sebuah pembuktian. Memang, persentase bakal dikabulkan itu teramat besar. Namun apa iya, aku harus menjual diriku secara gratis pada sosok pembohong seperti dia? 


"Aku ndak mau apa-apa sama kamu, Bram," kataku akhirnya, berhasil melawan gejolak perasaan ini untuk berlabuh ke dalam pelukannya. Terus menikmati sentuhan setiap helai bulu-bulu di setiap inci tubuhnya. Tidak! Aku bukan perempuan bodoh sebagaimana Tante Widya dulu diperdaya oleh si Bram. "Kalo pun kamu mau, cobalah untuk bisa jujur. Jangan dulu terhadapku, tapi mulailah pada dirimu sendiri, Bram."


"Itu mau kamu?" tanyanya kembali terdengar seperti sebuah jebakan bagiku. Antara meyakinkan dengan mendesak. 


Aku tetap tidak ingin menatap wajah laki-laki itu. Konsentrasi dan kontrolku harus terjaga jika ingin tetap berpikir waras.


"Desakan kebutuhan? Maksudmu?"


Haduh, ini laki-laki! Umur sudah benar-benar matang, tapi pikirannya kok kayak masih bocil? Masa untuk makna kata sesederhana itu saja dia tidak bisa memahami, sih?


"Pikir saja sendiri sama kamu, Bram," kataku cuek. "Aku yakin, kamu pasti lebih paham masalah itu dibandingin aku." Aku memejamkan mata. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh. Sedikitpun. "Aku cuman perempuan biasa, Bram. Wong ndeso, masih belia, belum pernah pacaran, masih perawan, eh … maksudku … belum pernah ngerasain dunia pernikahan kayak kamu. Jadi, kamu pasti paham 'gimana aku yang sesungguhnya sekarang, 'kan?"


"Bukan karena Della, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.


Ya, Tuhan!


Hampir saja aku menengok dan mencabik-cabik wajah itu dengan segenap kulit pipi ini.


"Hhmmm, jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan kita ini, Bram. Aku tahu, kamu sendiri belum sepenuhnya jujur sama aku," kataku sengit. "Sebelum-sebelumnya, aku memang jatuh cinta sama kamu, Bram. Teramat cinta malah. Sampai-sampai, aku sendiri ndak kenal siapa aku sebenernya. Aku tergila-gila. Tapi ketika tabir kepalsuanmu mulai tersingkap, hati ini berubah total sedikit demi sedikit, Bram. Aku sadar, apakah ini cinta ataukah sekedar obsesi? Itu yang harus kamu ketahui sekarang tentang aku, Bram."


"Alya …." Tiba-tiba Om Bram meraih jemariku. "A-aku—"

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" 


Laki-laki itu melepaskannya kembali. Kulihat dari sudut mata ini, sepertinya dia menengok-nengok sejenak ke belakang. Arah tangga menuju lantai bawah. Apa maksudnya? Khawatir pekikanku didengar oleh Bi Mamas?


"Maafkan aku, Alya. Aku memang banyak bersalah sama kamu. T-tapi … apa gak ada kesempatan lain buat aku untuk memperbaiki itu semua? Seperti yang pernah aku lakuin dulu sama Mamanya Della?"


Kepalaku berputar, tapi bukan hendak menatap wajah laki-laki itu. Melainkan menunduk dalam-dalam dan hanya terpaku pada jempol kaki Om Bram yang terlihat besar, tersundul lebih panjang ukurannya oleh jari sebelah.


Hhmmm ….


"Kamu ingin kesempatan, Bram?" tanyaku menantang.


"I-iya, Alya. Tapi kenapa sih, kamu mesti menunduk begitu? Tatap aku, dong," ujar Om Bram seraya menyentuh dagu ini.


"Jangan sentuh aku!"


"I-iya! B-baik! Tapi jangan teriak-teriak begitu dong, Alya. Entar Bi Mamas denger dan dikiranya kita—"


"Aku ndak peduli!"


"O-oke … b-baiklah," katanya terdengar gugup. "Tapi ngomongnya tenang, ya? Biasa saja. Datar. Jangan teriak lagi. Oke?"


"Aku ndak lagi ngomongin masalah piala dunia, Bram!"


"Loh, siapa yang ngomongin bola, Alya? Aku 'kan cuman bilang—"


"Tadi kamu bilang-bilang tentang Qatar!"


"Datar, Sayang, bukan Qatar."


"Aku ndak peduli!" kataku jadi kesal sendiri akhirnya. Aku yang keliru mendengar, kok mengapa aku juga yang mesti disalahkan? Seharusnya dia dong yang minta maaf. Aturannya memang begitu, 'kan? Hi-hi.


"Ya, sudah. Terserah kamu saja deh, Alya. Tapi tolong ya, jangan teriak-teriak lagi."


"Oke!" kataku malah makin keras.


"Astagaaa … Alya. Ssttt!"

__ADS_1


Hhmmm, ketakutan dia kini. Khawatir aku diapa-apainkah? Hi-hi-hi. Tumben. Bukankah dulu Om Bram pernah berbuat apa-apa terhadap Tante Widya? Mengapa sekarang berubah jadi sosok pengecut, sih?


...BERSAMBUNG...


__ADS_2