BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 79


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 79...


...------- o0o -------...


Selesai bertanya-jawab dengan Mbak Darmi, aku pun bergegas berangkat ke rumah Om Bram ... eh, Della bersama Andre. Semula sih, rencananya mau mengajak serta Mbak Darmi tadi, tapi dikhawatirkan justru akan menambah kekisruhan jika sampai sosok tersebut turut hadir serta.


Turun dari kendaraan bermotor setibanya di tempat tujuan, aku dan Andre bergegas masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Sengaja kulakukan, sampai-sampai lelaki bule itu terheran-heran dengan sikapku ini.


"Gak apa-apa, 'kan? Aku cuma butuh sedikit support aja, Ndre," kataku beralasan dengan nada suara tercekat. Untungnya Andre mengiakan tanpa banyak berbicara. Syukurlah.


Maka, dengan kondisi jantung berdebar-debar, aku menguatkan diri berjalan berdampingan di sisi Andre.


Orang pertama yang datang menyambut begitu kami tiba di beranda rumah adalah Bi Mamas. Perempuan tua itu langsung memburu pelukku dengan raut wajah terkejut sekaligus senang, tampaknya.


"Non Alya! Alhamdulillah ... akhirnya Non Alya pulang lagi ke sini!" seru Bi Mamas semringah. "Ke mana saja sih, Non? Pak Bram dan Non Della terus-terusan nanyain keberadaan Non Alya."


"Ada, Bi. Saya ndak kemana-mana, kok," jawabku seraya melirik pada sosok Andre.


"Ditelpon juga gak pernah nyambung, Non. Saya khawatir banget sama Non Alya. Takut kenapa-kenapa," imbuh kembali perempuan tua itu begitu kami selesai berpelukan. "Ayo, masuk yuk, Non."


"Della-nya ada, Bi?" tanyaku berbasa-basi.


Jawab Bi Mamas, "Ada di kamarnya. Pak Bram juga ada, tapi gak tahu ada di mana. Mungkin di kamarnya?"


"Ooohhh," sahutku berusaha tegar. Mudah-mudahan saja lelaki berbulu dan berewokan itu tidak sampai muncul sampai aku pulang lagi nanti. Malas, ah. Lagipula, maksud kedatanganku ke sini juga khusus buat menemui Della seorang, kok. Bukan si Bram.


Aku kembali menggaet lengan Andre sewaktu hendak melangkah memasuki rumah. Sehingga menarik perhatian Bi Mamas sejenak.


"Tapi kok, datangnya barengan sama Mas Andre? Non Alya dan Mas Andre ketemuan di mana?" tanya Bi Mamas seraya mengikuti langkah kami.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum tipis tanpa mau menjawab. Hingga akhirnya, Bi Mamas minta izin untuk menyiapkan air minum buat kami berdua.


Agak ragu hati ini saat hendak menapaki anak tangga guna menuju kamar Della yang berada di atas sana.


"Kenapa, Lya? Ada apa?" tanya Andre ikut berhenti.


Aku menggeleng pelan.


"Ndak apa-apa, Ndre. Aku cuma bingung saja," jawabku tercekat.


Tanya Andre kembali, "Bingung kenapa, Lya? Kita sudah sampai di sini. Yuk, temuin Della di kamarnya."


Ah, beban kaki ini rasanya semakin bertambah berat. Sampai-sampai aku tidak sanggup mengayunkan langkah ini. Perlukah mengesot? Hhmmm, apa tidak bakal dikira suster ngesot nanti?


"A-aku ... A-aku ngerasa bersalah saja sama Della, Ndre. A-aku jadi malu buat bertemu sama dia," kataku masih bergeming di tempatku berdiri sekarang. "Kayaknya aku ndak sanggup, Ndre."


"Lya ... tenangin dulu dirimu. Oke? Coba tarik napas dalam-dalam melalui hidung, terus kamu keluarin dari mulut secara perlahan-lahan," ujar Andre memberi saran.


Aku menurut, tapi hanya sebentar. Jantung ini tidak juga kunjung normal. Masih berdetak hebat mengguncang seisi dada.


"Bagaimana sekarang? Sudah agak baikan?" tanya Andre dengan suara lembut sekali.


"Andre," panggilku pada lelaki tersebut seraya menghambur peluk.


Aku tidak tahu, harus bagaimana lagi menenangkan perasaan tidak menentu ini. Bayang-bayang akan wajah Della semakin tampak jelas di pelupuk mata ini. Aku benar-benar merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar padanya.


Tersedu sedan di dalam pelukan laki-laki bule itu ternyata sedikit mengurangi tekanan batin yang kurasakan. Begitu hangat dan nyaman sekali hingga aku betah berlama-lama beradu fisik bersama Andre.


"A-alya ...." panggil Andre pelan.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, Ndre. Aku butuh ketenangan," timpalku tidak ingin mempedulikan suara Andre yang terdengar lekat baru saja. "Hanya kamu saat ini yang mampu membuatku tenang."


Aku mendengar tarikan napas lelaki tersebut. Anginnya menerpa keras hingga menyapu helai rambut-rambutku saat dia mengempaskannya.


"Lepaskan dulu sebentar, Lya," pinta Andre.

__ADS_1


Aku mendongak tanpa mau melepaskan pelukan ini. "Ada apa?" tanyaku lirih.


Mata Andre bergerak-gerak padaku dan ke arah belakang. Seperti hendak memberikan kode tertentu. Kemudian firasat ini mengatakan bahwa kemungkinan besar ada seseorang yang tengah berada di sekitar kami.


Benar saja. Begitu aku melepaskan pelukan dan berbalik badan, mata ini langsung tertujukan pada sosok-sosok yang sudah tidak asing lagi di mata ini.


Om Bram, Della, serta Bi Mamas tampak berdiri mematung menatapku dengan tajam.


"Del ...." panggilku pada sosok gadis tersebut dengan perasaan tidak menentu. "A-aku ... A-aku ...."


Della tersenyum di balik wajah pucatnya. Dia mengangkat kedua tangan, lantas mengembangkannya untuk memintaku agar segera berlari memeluknya.


Tentu saja, tanpa dipinta untuk yang kedua kali, aku langsung berlari menghambur peluk ini dengan Della.


"Della ... maafin aku ya, Del," kataku langsung pecah tangis yang sebenarnya. "A-aku ndak ikut ngejemput kamu waktu pulang dari rumah sakit."


Della menepuk-nepuk punggung ini dengan gerakan lemah.


"I-iya, Cuy. Gak apa-apa," kata Della terdengar serak dan sayu. "Gue paham kok, apa yang elu alami selama ini."


Paham tentang yang aku alami selama ini? Maksud Della apa, ya? Dia tahu kalau aku ....


"Gue udah lama nunggu-nunggu kedatangan elu kembali, Lya," imbuh gadis tersebut diiringi isaknya. "Gue kepengen minta maaf sama elu."


Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Kuintip sosok Om Bram di antara pelukan ini. Lelaki tersebut hanya terdiam mematung di sisi kami, tapi sesekali dia melirik ke arahku dengan wajah sendu.


Ya, Tuhan! Tampak sekali raut wajah Om Bram juga sepertinya tengah bersedih. Ada apa ini? Tidak biasanya dan belum sekalipun aku pernah melihat lelaki berberewok itu dalam kondisi begitu. Mendadak jadi timbul rasa kasihan dan ingin sekali turut menjatuhkan pelukan ini ke dalam dadanya. Eh?


"Dell ..." ucapku usai melepaskan pelukan. "Kamu sehat, 'kan? Wajahmu pucat banget, Del."


Gadis itu tersenyum manis. Dia malah mengusap air mataku, bukannya menjawab. "Papa gue kangen banget sama elu, Lya," kata Della tiba-tiba.


Loh, kok jadi membicarakan dia? Yang aku tanya 'kan, kabar tentang Della. Mengapa urusannya jadi ke Om Bram? Piye Iki, ***?


Aku melirik sesaat pada lelaki berbulu dada lebat tersebut. Dia pun masih menatapku seperti tadi. Aku rasa, sepertinya benar apa yang dikatakan Della barusan, Om Bram merindukan aku. Hi-hi-hi. Kalau begitu, sama dong. Aku juga begitu. Hi-hi. Eh?

__ADS_1


Tidak! Jangan terlalu murahan di depan lelaki pembohong itu! Aku harus pura-pura jual mahal. Setidaknya sampai Om Bram meminta maaf dan mengakui dengan jujur kalau dia juga sama-sama menyukaiku. Bukan drama maupun PHP.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2