
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 21...
...------- o0o -------...
Aku mengangguk. Memang selama tinggal bersama keluarga Della, belum pernah sekalipun aku mengetahui tempat bekerja Om Bram. Entah mengapa, tiba-tiba saja hati ini serasa berbunga-bunga kalau sudah mendengar nama tersebut.
Om Bram ... Om Bram ... Om Bram ...
Berkali-kali nama itu kusebut di dalam hati.
“Hei, ngapain elu senyum-senyum gitu, Cuy?”
Ya, ampun! Gadis itu rupanya memperhatikan tingkahku. “Ndak ada!”
Mata Della menyipit. “Elu lagi ngebayangin si Andre, ya?”
Lho, kok ... jadi Andre? Aku sedang membayangkan Om Bram, Del! Mengapa harus laki-laki setengah bule itu?
“Ngaco kamu, Del.” Aku tak mau beradu tatap dengan Della melalui kaca spion tengah.
“Gue perhatiin tadi di kelas, dia terus-terusan ngelihatin elu,” kata Della kemudian. “Sebenarnya ada apa, sih, di antara elu berdua?”
“Hah?” Kali ini aku benar-benar menoleh. “Masa, sih?” tanyaku pura-pura tak tahu. “Aku ndak begitu merhatiin, Del.”
“Gak merhatiin atau pura-pura gak tahu?” selidik Della kembali. “ ... atau jangan-jangan selama ini elu ngebohongin gue?”
“Bohong apaan lagi, sih, Del?” Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Takut kalau sebenarnya Della sudah mengetahui perihal perasaan Andre padaku tersebut. “Perasaan ... selama ini aku ndak pernah bohong sama kamu.”
“Serius?”
“Beneran!”
__ADS_1
“Elu gak ada hubungan apa-apa sama dia?”
“Dia?” Detak jantungku tambah kencang. “Dia siapa?” Jangan sampai nama papah Della yang disebut, Tuhan! Tak tahu harus menjawab apa kalau sampai gadis itu mencurigai rasa ini pada Om Bram.
“Si Andre, Cuy! Siapa lagi?” Della menegaskan. “Memangnya ada laki-laki lain dalam hati elu?”
“Ya, ndaklah, Del. Kamu ini makin ngaco, deh, ah!”
Della terkekeh. “Ya, gue pikir ... mungkin aja ada.”
“Ada apa? Maksudnya mikirin aku ada apa, begitu?” Benar-benar takut kalau sampai Della tahu bahwa aku naksir papahnya. Duh, ngeri sekali, Tuhan!
Della mengerutkan kening. “Gue pikir ... elu ada rasa ama cowok blasteran itu, Lya! Elu mikirnya ke mana, sih? Busyet, deh! Dari tadi gue ajak ngomong, elu gak nyambung, deh!”
Ya, Tuhan! Syukurlah! Tidak seperti yang kubayangkan!
“Ndak ada! Sumpah! Aku ndak bohong!” seruku sampai mengacungkan dua jari ke depan Della.
“Nah, tinggal jawab begitu aja. Apa susahnya, sih?” seloroh Della. “Capek ngomong ama elu, Cuy! Susah koneknya!”
Perjalanan kami akhirnya tiba juga. Della memarkirkan kendaraan di tempat khusus. Setelah menyapa petugas keamanan setempat, dia berjalan menuju sebuah ruangan. Kuikuti langkahnya sambil memperhatikan suasana kantor tempat Om Bram bekerja. Rapih dan bersih, juga megah.
Melewati beberapa koridor yang dihiasi beberapa jenis tanaman segar. Kemudian sampai di sebuah ruangan khusus. Di depannya ada seorang pekerja perempuan muda dan cantik, menyapa kami dengan ramah. Sepertinya dia sudah mengenali Della. Tentu saja karena Om Bram adalah salah seorang pegawai berpengaruh di sana.
“Papahnya ada, Bu?” tanya Della pada perempuan tadi. “Sedang meeting, Mbak. Sebentar lagi juga selesai,” jawabnya ramah. Sesekali dia memperhatikanku.
“Oh, iya. Kenalkan ini ... namanya Alya. Keluarga Papah juga,” ujar Della memperkenalku dengan perempuan tadi.
“Hai, Mbak. Saya Cassandra. Senang sekali bisa bertemu,” kata perempuan itu seraya menyalami. “Aku Alya, Bu,” balasku agak sungkan.
“Aku boleh nunggu di ruangan Papah, kan, Bu?” tanya Della sesaat kemudian. “Tentu saja boleh, Mbak. Silakan masuk,” jawab Cassandra. “Mau saya pesankan minuman atau .... “
“Gak usah, Bu. Terima kasih,” ujar Della. “Aku masuk ke dalam, ya.”
“Oh, silakan, Mbak. Nanti saya sampaikan pada Pak Bram, kalau Mbak Della ada di dalam ruangan,” kata Cassandra ramah.
“Oke. Terima kasih, ya, Bu.”
__ADS_1
Aku mengikuti Della masuk ke dalam sebuah ruangan. Besar, rapih, bersih, dan sejuk. Ada meja besar yang dilengkapi komputer berlayar besar. Pesawat televisi, tempat duduk yang besar dan empuk, serta beberapa lukisan dan foto yang terpajang di dinding ruangan. Ada potret Della di sana.
Ya, Tuhan! Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai besar yang menempel dengan indah. Seorang wanita cantik mengenakan busana artistik berwarna merah marun, bersanggul lengkap dengan aksesoris yang menghiasi rambutnya. Kulitnya putih memancarkan aura eksotis. Dihiasi senyum yang begitu manis. Mungkinkah itu ....
“Itu mendiang Mama gue, Cuy,” kata Della begitu mendapatiku tengah memperhatikan foto besar di dinding. “Cantik, kan?”
“Cantik sekali Mama kamu itu, Del,” sahutku terpana.
“Dan .... “ ucapan Della terhenti. Tertegun sambil menatap sebuah foto lain yang tergantung di atas meja kerja papahnya.
“Dan apa, Del?” tanyaku ikut melirik pada arah pandang Della tadi. “Lho ... itu .... “
Ya, Tuhan! Benarkah itu? Di sana ada ada sebuah foto lain di samping potret Della. Seorang perempuan muda berkulit eksotis. Lengkap dengan senyumannya yang manis. Dia ....
“Del, itu ... kan, fotoku. Mengapa ada di meja kerja Om Bram?” Tiba-tiba jantung ini kembali berdetak kencang. Sejak kapan Om Bram mempunyai fotoku?
Seingatku, belum pernah sekalipun aku memberikan foto pada dia. Bahkan pernah diambil gambar pun. Lalu, dari mana Om Bram mendapatkannya?
“Sayang .... “ Satu suara mengejutkan muncul dari balik pintu ruangan. Sesosok laki-laki tinggi dengan perawakan padat dan wajahnya dipenuhi bulu-bulu tipis, tersenyum dengan manis menyambut kehadiran kami.
“Papah .... “ seru Della seraya menghampiri papahnya. Mereka berpelukan dengan erat. Cium laki-laki itu mendarat di kening serta kedua pipi gadis itu. “Maafkan aku, Pah. Gak ngasih tahu dulu kalo hari ini mau ke kantor papah.”
“Gak apa-apa, Sayang,” jawab Om Bram sambil mendaratkan kembali kecupnya di kening Della.
Oh, Tuhan! Seandainya saat itu aku berada pada posisi Della. Dipeluk, dicium, dan ... ah, mengapa pikiran itu harus muncul di saat-saat seperti ini, ya? Om Bram bukan siapa-siapa aku. Tentu saja hal demikian tak akan berlaku buatku. Tapi ....
“Hai, Alya,” sapa Om Bram seketika setelah melihat kehadiranku di antara mereka. Dia berjalan menghampiri.
Tidak! Jangan! Laki-laki berbulu halus itu semakin mendekat. Senyumnya mulai menyeruak dengan indah sambil menatapku dalam-dalam.
“H-ha-i, O-o-om,” balasku menyapa dengan suara terpatah-patah.
Tubuh ini tiba-tiba serasa bergetar hebat. Langkah kaki panjang itu kian mendekat. Ketuk sepatunya beradu dengan lantai seakan mewakili degup jantungku yang semakin menguat. Dia mengayunkan kedua lengan. Bersiap melahap setiap inci tubuh ini jatuh ke dalam pelukan hangat. Sampai kemudian ....
“Selamat datang di kantor saya, Lya,” kata Om Bram sambil mendekapku sepersekian detik. Kecupnya pun turut mendarat dengan lembut menyentuh kening ini. Suara bibirnya membahana beradu dengan indah di permukaan kulitku.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1