BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 37


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 37...


...------- o0o -------...


“Ya, sudah. Kamu urus dulu, deh, Alya. Papah mau istirahat dulu, ya, Sayang,” Om Bram pamit pada Della. Senyum di bibir laki-laki itu menjadi pengantar malam peristirahatan kami. Usai mengecup kening Della, Om Bram bergegas meninggalkan kamar.


“Perlu gue temenin gak tidurnya, Cuy?”


“Ndak usah. Aku ingin sendiri, Del.”


“Ya, sudah. Gue juga mau tidur dulu, ya,” ujar Della. “Jangan lupa, minum obatnya sebelum tidur.”


“Del.”


“Hhmmm.”


“Kalau besok aku ndak bisa ikut kamu nganter Tante Cassandra, ndak apa-apa, kan?”


Della tersenyum. “Gak apa-apa, Lya. Elu istirahat aja di rumah. Kalo perlu, besok elu jangan masuk kuliah dulu, deh.”


“Aku ndak tahu.”


Della menarik napas dalam-dalam. “Ya, pokoknya terserah elu, deh. Biar gue aja yang pergi sendirian, besok.”


Usai berpamitan, Della meninggalkan kamar. Kini tinggal aku sendiri, terdiam merenungi. Entah nasib apalagi yang akan diterima.


Terbayang, bulan depan akan selalu disuguhi pemandangan yang menyakitkan. Om Bram dan Tante Cassandra. Laki-laki impian itu jatuh ke pelukan wanita lain.


Aku tak tahu, seberapa kuat bisa menahan kepedihan ini. Atau mungkinkah, ada salah satu pihak yang harus mengalah. Pergi menjauh, entah ke mana. Memendam kecewa di sepanjang sisa usia. Aku ... ya, sebaiknya akulah yang undur diri. Meninggalkan semua kenangan di dalam rumah ini. Termasuk memutus persahabatan dengan Della. Kembali merajut awal di mana letakku berasal.


Aku menangis meratapi diri. Berlinang air mata dalam kesunyian malam. Tak ada yang mau memahami, termasuk binatang malam itu. Dia tak peduli. Menikmati setiap tetes darah yang terisap, tanpa berbelas kasih pada sang pemilik yang tengah gundah gulana.


Aku harus pergi ....


...------- o0o -------...


Geliatku pagi ini terasa berbeda. Hambar tak sebagaimana biasa menyambut awal hari, dengan kepul panas secangkir kopi. Teruntuk seseorang di bawah sana, lengkap dengan balutan handuk yang masih basah serta bertelanjang dada. Ah, sungguh menjemukan kini. Asa menggebu tak lagi seru. Memburu impian sedari awal tarikan paru, perlahan memudar di akhir waktu.


Bram, mungkinkah dia cinta pertamaku? Sulit sekali melumpuhkan kekuatan rasa ini dari harapnya. Mengganti dengan daya sumber yang lain? Kecil kemungkinan terjadi. Walau kesempatan itu ada di depan mata. Andre.


Seperti halnya hari ini. Benakku sulit untuk bekerja sama. Raga ini hampa dari tutur kata. Melewati desah kosong di gendang telinga. Itu terjadi hingga ....


"Yakin elu gak mau ikut gue nemenin Tante Cassandra, Cuy?" tanya Della usai jam kuliah habis. Aku menggeleng lesu. "Masih gak enak badan?"


Aku menoleh sejenak. "Aku mau langsung pulang saja, Del. Maaf, ya."


Della menarik napas panjang, mengangkat bahu, lalu menghempaskan sisa hirupnya. "Ya, sudah. Gue gak mau maksa," ujar Della kemudian. "Yakin elu bisa pulang sendiri? Soalnya, gue mau langsung ke kantor Papah. Menjemput Tante Cassandra."


"Aku sudah pesan taksi online, kok, Del. Tenang saja. Aku baik-baik saja," tukasku seraya bersiap meninggalkan kelas. "Maafkan aku, ya, Del."


Kali ini sikap Della lebih kalem. Tak seperti biasa, sesuai dengan karakter aslinya. 3C; Cuek, cempreng, dan 'cablak'.


"Elu sehat, kan, Cuy?" Della menatapku tajam. "Aku pengen istirahat," jawabku pendek. Sambung gadis itu kemudian, "Maksud gue, hati elu."


Aku tersenyum kecut. "Memangnya terlihat bagaimana, Del?"


"Luar-dalam elu lagi sakit."

__ADS_1


"Ah, kamu bisa saja, Del."


"Bukan karena Papah gue mau kawin, 'kan?"


"Kamu ini apaan, sih?" Buru-buru aku menangkis. Khawatir pertanyaan Della akan berlanjut. "Orang tua sendiri nikah, masa jadi beban?"


Pertanyaan aneh. Apakah Della sudah bisa menduga sikapku pada Om Bram? Selama ini dia kerap bertanya ke arah itu. Gawat!


"Apa elu—"


Kutepuk lengannya. "Sudah, ah. Ndak usah ngomong macam-macam. Aku pulang sekarang, ya, Del. Titip salamku buat calon Mamah baru kita, Tante Cassandra."


Sengaja menghindari adu tatap dengan gadis itu. Aku takut suasana akan semakin canggung. Sekaligus tak kuasa menahan kontrol lisan ini dari kalimat, 'Aku mencintai Papahmu, Del. Kauharus memahami itu!'


Tak ada percakapan di sepanjang perjalanan. Melangkah berdampingan bagai dua insan terasing. Hening dan beku menghiasi.


Aku tahu, Della ingin lebih banyak bertanya. Mengorek kabar atas perubahan yang ada. Itu terlihat dari sudut mata ini, sering kali dia mencuri pandang.


"Aku langsung pulang, ya, Del. Daahh," ucapku seraya melempar lambai pada gadis itu.


"Hati-hati, Cuy. Kalo ada apa-apa, elu calling gue, ya," pinta Della sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Atau gini aja, elu gue anterin sampe rumah. Habis itu, gue ke kantor Papah buat ngejemput Tante Cassandra. Gimana?"


"Ndak usah, Del. Aku bisa pulang sendiri, kok," kataku menolak. "Lagian orderanku udah nunggu di depan kampus," lanjut tuturku seraya membuka notifikasi pesan instan yang baru masuk.


"Tapi gue gak bisa ngebiarin elu pulang sendiri, Cuy. Sahabat macam apa gue? Elu lagi sakit." Della bersikukuh.


"Ndak apa-apa. Terima kasih. Aku akan baik-baik saja, kok."


"Tahu dari mana elu bakalan gak apa-apa. Kalo di tengah jalan elu pingsan, gimana?" Della bersikeras.


Hhmmm, itu tak akan terjadi, terkecuali karena ulah papahnya. Om Bram.


"Percayalah, Del. Itu ndak akan terjadi."


Akhirnya, aku pun segera berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Della yang masih berdiri di samping kendaraan. Lalu teriakan itu pun menghentikan langkah, "Alya!"


Aku menoleh. Gadis itu berlari menghampiri, langsung merengkuh, dan mendekap sedemikian erat. "Maafin gue, Lya. Maafin gue," bisik Della lirih.


"Maaf tentang apalagi, Del?" Aku bingung di antara pelukannya.


"Pokoknya ... gue minta maaf sama elu, Lya." Kudengar laun isak dari Della.


Ada apa ini? Selama kenal dan bersamanya, tak pernah sekalipun aku melihat Della menangis. Lalu sekarang? Aneh.


"Kamu menangis?" tanyaku begitu peluk kami terlepas. "Del .... "


Gadis itu menggeleng dengan wajah tertunduk.


"Del," panggilku, "ada apa, sih?"


Della masih terdiam. Dia sibuk mengusap air matanya. Kemudian berkata lirih, "Gue ... gue ... ah, gue belum bisa ngomong sekarang, Lya. Gue .... " Ragu dia meneruskan.


"Ngomong tentang apaan, sih?" Aku penasaran. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


Kembali Della menggeleng. "Bukan itu maksud gue. Tapi ... ah, sudahlah."


"Del," panggilku menegaskan sambil menatap resah bola matanya.


"Jangan lihat gue kayak gitu! Gue makin pengen mewek, Lya!" protes Della seraya mengibaskan tangan di depan wajahku.


"Masa, sih?" Sengaja kukejar tatapnya sambil menggoda. "Ayolah, nangis sekencangnya, Del. Aku menyukai tangisan pertamamu barusan."


"Lya! Iiihh ... apaan, sih, lu?" Della memberontak. "Gue calling-in Andre, ya?"

__ADS_1


Aku tersentak. "Buat apa?" Tak seperti biasanya. Selama ini Della hampir selalu berusaha untuk menghindar dari sosok lelaki itu.


"Supaya dia mau nganter elu pulang."


Refleks aku bereaksi, "Jangan! Ndak usah! Ini malah akan memperkeruh suasana."


"Enggak, Lya! Serius, gue mau minta bantuan dia," Della bersikeras memaksa.


"Ndak usah, Del."


"Mau."


"Ndak."


"Mau!"


"Ndak!"


"Harus!"


"Ndak! Ndak!"


"Wajib, Lya. Harus! Kudu! Mesti! Enggak boleh enggak!"


"Mengapa, sih, kamu maksa?"


"Kenapa juga elu nolak?"


"Mengapa aku harus nerima?"


"Karena harus!"


"Kalau nolak?"


"Haruslah."


"Harus apa?"


"Wajib dipaksa!"


"Hentikan! Aku pusing, Del."


"Tuh, kan ... elu pusing lagi?"


"Tapi bukan karena sakit kepala."


"Lalu?"


"Kamu keras kepala."


"Artinya elu tetep sakit, 'kan?"


Aku mendengkus kesal. "Ya, sudah! Terserah kamu saja. Mau panggil ambulans juga, aku terima!"


"Yang ini mobil jenazah, Lya!"


"Ndak sekalian keranda mayat?"


Sialan! Obrolan macam apa ini?


Della tertawa keras.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2