
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 58...
...------ o0o ------...
Selepas mengikuti mata kuliah terakhir, kuputuskan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terdekat, untuk membeli keperluan pribadi. Sebelum menjenguk Della di rumah sakit. Ada beberapa barang yang harus kucari di sana.
Sengaja, sejak pagi berusaha menghindar dari Andre yang kerap mengikuti ke mana pun aku melangkah.
"Kenapa, sih, kamu mengikuti aku terus, Ndre?" tanyaku kesal seraya menatap galak laki-laki berdarah campuran bule itu. Jawabnya, "Aku pengen ngomong sama kamu, Lya. Dari tadi kamu gak dengar?"
Kuhempas napas kesal, sambil memalingkan muka. "Sudah kubilang dari tadi juga, 'kan? Aku ndak mau bicara sama kamu, Ndre. Kamu ndak paham?"
"Lya, please. Dengerin aku." Andre semakin mendekatiku. "Ada sesuatu yang harus kujelaskan padamu. Please, Lya."
"Aku bilang tidak, ya … tidak, Ndre," balasku bersikeras. "Cukup, jangan ikuti terus."
"Tapi, Lya. Aku …. " Andre masih bersikukuh dan mengikuti langkahku.
"Aku mau masuk toilet. Kamu mau ikut juga?"
Tatapanku makin galak. Andre tersurut dan tampak bingung hendak berbicara. "Aku … mmhhh, enggak, Lya. Masuk aja, deh. Aku tunggu di luar aja, ya?"
"Terserah, tapi aku tetap ndak ingin bicara sama kamu," timpalku menegaskan.
"Sampai kapan?" tanya Andre.
Kupikir-pikir terlebih dahulu beberapa saat. Kemudian jawabku, "Sampai aku sendiri yang memutuskan, kapan mau bicara sama kamu."
"Please, deh, Lya."
"Please, deh, Andre! Aku pengen pipis!" Kudorong tubuh lelaki itu agar menjauh. "Kamu mau lihat aku pipis di sini?"
"Eh, jangan! Sana di dalam, dong!" balas Andre.
"Makanya kamu jauhan sana. Ini toilet perempuan, tahu?"
"Iya, aku tahu."
"Pergilah. Atau mau kuteriakin?"
"Eh, jangan, Lya!" Andre mundur beberapa langkah. "Ya, sudah. Pipis, ya, pipis saja. Yang tenang di dalam sana, ya."
Aku melotot bulat. Tanya laki-laki bule itu kembali, "Apalagi? Kok, malah makin marah? Aku, 'kan, sudah menjauh."
__ADS_1
"Kata-katamu yang terakhir tadi!"
"Yang mana? Masalah pipis? Ya, sudah. Kamu memang mau pipis, 'kan?"
"Ih!"
Masih dengan rasa kesal, kutinggal Andre mematung di depan pintu toilet. Sementara aku sendiri, malah asyik mematut diri melalui cermin besar di tempat cuci tangan.
'Cantik …. ' gumamku di dalam hati. 'Ndak berbeda jauh dengan gadis-gadis kota pada umumnya. Hanya sedikit berkulit kecoklatan. O, iya. Istilahnya, eksotis. Begitu menurut kaum lelaki yang kudengar. Tinggi badan ideal seperti rata-rata perempuan lainnya. Ndak gemuk, apalagi kurus. Rambut?' Kugerai mahkota kepala ini hingga jatuh ke depan. Menutupi sebagian area wajah hingga dada. 'Lurus dan juga hitam. Dadaku pun …. '
Kuputar tubuh ini sambil memajukan sedikit bagian rusuk. 'Hhmmm, standar juga, sih. Natural. Ndak seperti milik Pamela Anderson yang super jumbo, tapi sudah bercampur getah silikon. Hihihi.' Aku tertawa sendiri di balik telapak tangan. Nyaris tanpa suara. Khawatir ada orang di dalam ruang toilet dalam, dan mengira suara cekikik ini disangka penampakan di siang bolong.
'Tapi … ah, mengapa si Bram ndak kunjung menampakkan rasa tertariknya sama aku? Malah lebih lebih memilih janda beranak satu, si Cassandra itu. Hih, sebel! Padahal aku, 'kan, masih original.'
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar ruang toilet. Suara perempuan yang marah-marah. Tak jelas apa yang dikatakan, tapi dari nadanya seperti sedang memarahi seseorang.
Tak berapa lama pintu toilet terbuka. Sesosok perempuan seusiaku masuk dengan wajah cemberut.
Buru-buru aku membenahi sikap agar tak terlihat aneh. Lalu bertanya pada perempuan tadi, "Ada apa, Mbak?"
Dia berdiri di sampingku. Sama-sama menatap cermin. Masih dengan roman yang sama. Jawabnya, "Itu … cowok yang berdiri di luar itu. Ngapain, coba, dia ada di situ? Ini, 'kan, toilet cewek. Bikin gue curiga aja."
Aku tersenyum kecut. "Oh, si Andre."
Perempuan itu menoleh. "Elu kenal dia?"
Dia mendengkus. "Iyalah. Tadi sempet gue omelin. Dia nungguin elu?"
Aku melirik sejenak. "Ndak tahu, Mbak. Tadi juga sudah aku coba menyuruh dia pergi. Tapi … rupanya masih bertahan di sana."
"Pacar elu, ya?"
"Hah?" Kututup cerat air. "Pacar?" Aku tertawa sebentar.
"Kok, malah nyengir? Kenapa?" Perempuan itu menatapku heran.
"Dia bukan pacarku, Mbak. Cuma temen kuliahan saja," jawabku, kali ini pura-pura mengeringkan tangan dengan selembar tisu. "Pacarku itu … tinggi, besar, rambut ikal, dada serta lengannya berbulu. Lalu—"
"Hhmmm, mirip sekali ciri-cirinya," kata perempuan itu memotong imajinasiku.
"Siapa? Bram?" Aku terkejut.
Dia mengernyit. "Namanya Bram? Keren sekali. Baru kali ini—"
"Mbak kenal Om Bram?" Aku makin penasaran.
Alis perempuan itu makin meninggi. "Om? Masih saudaraan juga sama elu?"
"Ya, ndak ada pertalian keluarga juga, Mbak," sahutku mulai kesal. "Mbak kenal dia?"
__ADS_1
"Siapa?"
"Bram. Om Bram?"
"Enggak. Cuma tahu aja."
"Tahu di mana?"
"Ragunan!"
"Hah?" Aku terkejut. "Bram yang Mbak maksud itu siapa, sih?"
Tiba-tiba perempuan itu tertawa lebar. "Yang gue maksud … gorila."
"Hah!"
'Sialan! Dia menyamakan Om Bram-ku dengan gorila! Kalau saja dia mengenal laki-laki itu, pasti akan meleleh juga seperti halnya aku! Huh! Belum tahu saja dia!' gerutuku di dalam hati. Kesal juga dengan omongan perempuan itu tadi. Tapi ….
"Sorry, gue cuma bercanda. Hahaha," ujarnya seraya menyodorkan telapak tangan. "Kenalin, gue Siska. Anak Fakultas Teknik. Elu siapa?"
Walau masih dengan hati kesal, kuterima uluran tangannya. "Aku Alya. Dari Fakultas Ekonomi."
Sosok yang bernama Siska itu manggut-manggut. "Ooh. Elu dari daerah Jawa, ya?"
"Kok, Mbak tahu?" Aku heran. Hebat sekali dia bisa langsung menebak asal tempat tinggalku. Apakah ini salah satu ciri-ciri indigo?
Siska tersenyum ditahan, diiringi gelengan kepala berulang-ulang. "Ya, tahulah."
"Tahu dari mana, Mbak?"
Benar-benar si Siska ini lebih cocok jadi dukun ketimbang sarjana teknik. Amazing-nya! Belum lagi tadi, lawakan dia garing bawa-bawa hewan primata segala.
Siska menoleh. "Logat elu itu, tuh, yang bikin orang gampang nebak asal muasal elu, Alya. Hahaha. Gimana, sih?"
O, iya. Betul juga. Kalau begitu, aku yang keliru. Dia tidak usah jadi dukun. Sarjana teknik juga bagus. Sebab, bisa menebak silsilah seseorang. Termasuk aku, tentunya. Terbukti, teknik terkaan Siska tepat.
"Iya, juga, ya. Aku sendiri ndak pernah berpikir sampai situ. Hehe," timpalku baru menyadari sembari membuka kembali cerat air.
"Udah lama elu di sini?" tanya Siska, menatapku tajam.
"Hampir setahunan. Dulu, sih, ngekos. Tapi udah beberapa bulan tinggal sama Om—"
"Maksud gue, sejak kapan elu ada di dalam toilet?" Tawa Siska hampir pecah.
"Lho, memangnya mengapa?"
Mata Siska menatap tumpukan kertas tisu di depanku. "Gue lihat dari tadi elu buka-tutup keran mulu. Mau ngabisin tisu berapa lembar?"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1