
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 51...
...------- o0o -------...
Kembali pandanganku terfokus pada sosok Della. Rasa bersalah ini masih menggayuti hati. Bagaimana tidak? Seandainya tadi pagi memaksa gadis itu berobat, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.
Kini dia terbaring lemah di sana. Bernapas dengan bantuan oksigen. Terpejam rapat. Entah tengah tidur atau tak sadarkan diri. Aku tak tahu.
Kutarik kain yang tadi digunakan untuk menyelimuti oleh Bi Mamas. Diperhatikan, rupanya sebuah jas yang biasa dikenakan Om Bram kala kerja di kantor. Jadi, orangnya masih di rumah sakit, 'kan? Tapi di mana dia? Sejak bertemu awal tadi, Om Bram selalu sibuk dengan ponselnya. Mungkin mengurus agenda pekerjaan yang terbengkalai gara-gara kejadian ini.
Perlahan bangkit dari duduk. Berjalan keluar dari ruang perawatan. Saat itulah, kulihat dua sosok manusia sedang duduk berdampingan di kursi panjang. Tak lain, mereka adalah Om Bram dan Cassandra.
Hhmmm, perempuan itu rupanya ikut datang juga. Mau apa? Pasti sedang melakukan pencitraan pada laki-laki di sampingnya. Huh! Seketika dada ini bergemuruh hebat menahan luapan rasa cemburu.
Dengan kepal di tangan dan gemeretak gigi, kuhampiri mereka berdua. Fokus mata ini menatap tajam pada sosok Cassandra!
Om Bram dan Cassandra tengah asyik bercakap-cakap. Tampak begitu serius. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah terkait rencana pernikahan itu? Bisa jadi.
"Eh, Mbak Alya," sapa Cassandra begitu melihat kedatanganku. Om Bram turut menoleh. "Tadi aku sempat masuk ke dalam, tapi Mbak Alya lagi tidur."
Aku tak ingin menjawab. Cukup melempar sedikit senyum tawar, seraya mendekati mereka.
Mendadak Om Bram terlihat kikuk. Kemudian lekas berkata, "Baiklah. Percakapan ini kita cukupkan dulu, Sandra. Besok kita lanjut di kantor."
Cassandra mengiakan. Segera mengemas tasnya lalu berdiri. "Baik, Pak. Kalau begitu saya izin pamit," ujarnya, kemudian memandangku. "Mbak Alya, aku permisi pulang dulu, ya."
__ADS_1
"Eh, tunggu!" seruku hendak menahan langkah perempuan itu. Tapi buru-buru dihadang oleh Om Bram, "Biarkan Sandra istirahat, Alya. Kalo ada perlu, bisa lain kali, 'kan?"
"Tapi .... " Aku masih bersikeras menahan Cassandra.
Lagi-lagi lelaki itu memotong, "Sudah, ya, Alya. Sandra mau pulang dulu."
Cassandra terlihat bingung. Namun begitu Om Bram memberi kode dengan gerakan kepala, perempuan itu pun bergegas meninggalkan kami.
"Duduklah, Alya," kata Om Bram lembut seraya memegang kedua bahuku.
"Tapi Om .... " Aku merengut. Lelaki itu melihat-lihat keadaan sekeliling, kemudian lanjut berucap sambil tersenyum manis, "Tak baik berbuat keributan di sini. Nanti mengganggu pasien."
"Siapa yang mau ribut, Om? Alya hanya mau menyapa Tante Cassandra, kok."
Dih, dia terlalu yakin. Siapa pula yang hendak bergaduh. Otakku masih waras untuk tak berbuat hal sekonyol itu. Jujur saja, kalau cemburu memang iya.
Sembari menarikku ke kursi, ajak Om Bram, "Ya, sudah. Duduk, ya, Sayang. Kamu belum makan, 'kan?"
Sejak keluar dari kantor Om Bram tadi sore, aku memang belum makan. Walaupun agak segan karena gengsi, namun untuk urusan perut terpaksa diterima juga.
"Bagaimana tadi kondisi Della, Sayang?" tanya lelaki itu disela-sela makan bersama.
"Lumayan ... " jawabku usai mengecap segigit, " ... lumayan enak, hasil masakan Tante Cassandra ini. Teksturnya lembut. Manis dan asamnya kerasa. Aroma menggugah selera. Mungkin karena diolesi selai stroberi." Kuresapi rasa roti bakar yang masih kukunyah. Om Bram hanya menyeringai sambil memajukan bibir membentuk bulatan. "Tak begitu buruk untuk ukuran seorang perempuan yang tak bisa membedakan vetsin dengan bubuk sitrun."
"Bi Mamas tidur di dalam, 'kan, Sayang?"
Aku mengangguk-angguk. "Ya, boleh juga, sih. Cocok untuk sarapan pagi. Hanya saja ... agak sepat ditenggorokan saat ditelan. Mungkin kurang matang waktu dipanggang."
Om Bram segera memberiku minuman mineral. "Minumlah dulu," katanya, "itu tadi ... karena kamu belum minum. Makanya kerasa sepat."
"Terima kasih, Om." Aku segera meminumnya. "Betul juga. Sekarang jauh lebih baik. Ndak sepat seperti tadi."
__ADS_1
Om Bram menggaruk kepala.
SREK! SREK! SREK!
"Alya tak begitu percaya. Bagaimana mungkin seorang yang tak mengenal bumbu dapur, bisa bikin makanan seenak ini, Om?" Aku memperhatikan sisa gigitan roti bakar di tangan. Lelehan selainya begitu merah dan menggoda. "Pasti Tante Cassandra dapet tips dan tutorialnya dari internet, 'kan?"
Om Bram menyeringai. "Ini dapet beli, Sayang. Banyak yang jual di pinggir jalan depan rumah sakit sana. Bubur ayam juga ada. Atau kalau masih kurang, menu rendang jengkol pun tersedia," ujar laki-laki itu setengah bergurau.
Aku tak membalas. Sibuk mengunyah dan menikmati menu makan malam ini dari awal gigitan hingga berpindah ke lambung.
"Tadi, aku dan Cassandra membicarakan perihal pekerjaan di kantor. Seperti yang kubilang tadi pagi, malam ini ada jadwal bertemu dengan beberapa kolegaku. Namun, terpaksa dibatalkan. Aku hanya bisa mendelegasikan Cassandra untuk hadir di sana. Hasil pembicaraan mereka tadi, disampaikan langsung oleh sekretarisku tersebut," tutur Om Bram tanpa memandangku. "Aku harap, kamu gak ada pikiran macam-macam perihal Sandra datang ke sini tadi. Gak ada maksud lain, Sayang. Percayalah."
Aku tak begitu fokus memperhatikan ucapan Om Bram. Lebih suka konsentrasi mencicipi sisa roti yang ada. "Tapi, Alya pikir ... roti bakar ini rasanya, kok, mirip yang suka dijajakan pedagang kaki lima, ya, Om? Alya curiga, Tante Cassandra ndak bikin sendiri."
Tiba-tiba Om Bram menoleh dengan tatapan aneh.
"Mengapa Om melihat Alya seperti itu? Alya ndak cemburu, kok, Om. Hanya ingin mengomentari perihal roti bakar ini," ujarku mendadak merasa tak enak hati. "Ndak masalah, 'kan?"
SREK! SREK! SREK!
Kulihat laki-laki itu sepertinya kesal. Ada apa dan mengapa? Tersinggung mengeritik makanan yang dibawa Cassandra? Ah, keterlaluan dia. Lalu perasaan panas yang kerap melanda hatiku selama ini, bagaimana? Apakah Om Bram peduli?
"Aku rasa, kamu perlu istirahat total, Alya," ujar lelaki itu seperti kehilangan gairah untuk berbincang lebih lama. Roman mukanya mendadak kurang menarik di mata ini. "Sebaiknya kamu tidur saja. Biar aku yang akan menjaga Della."
"Alya belum ngantuk, Om."
Om Bram menarik napas dalam-dalam. Begitu seterusnya hingga beberapa saat. Tangan kekar itu sampai mengepal keras, disertai seringai tertahan. Mirip orang yang hendak buang hajat pagi, tapi sulit keluar. "Perlu kucarikan obat tidur sekarang juga, Alya?"
Aku menggeleng. "Alya ndak insomnia, kok, Om. Mungkin karena tadi sempat tertidur, makanya sekarang jadi terjaga."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1