
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 35...
...------- o0o -------...
"Maaf, ya, Om." Kusuapi Om Bram perlahan. Menikmati setiap gerak mulut itu mengunyah kue yang diberikan. Teringat saat bibirnya menyentuh lembut bibirku, malam kemarin. Selama itu pula mata ini saling beradu pandang. "Ingin lagi, Om?"
Om Bram mengangguk. Dengan senang hati kuturuti, hingga sisa potongan kue di tangan ini habis tak tersisa.
"Mau lagi, Om?"
"Tidak. Terima kasih, Alya. Sudah cukup."
Sayang sekali. Padahal aku masih ingin menikmati gerak rahang itu saat asyik mengunyah.
"Lya!"
"Ya, Om."
"Gue yang manggil elu, Cuy!" sentak Della di samping. Aku terperangah. "Oh, kamu, Del. Maaf."
"Hhmmm," gumam Andre. Om Bram melirik anak muda itu, diiringi seringainya.
Della menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Seperti pernah melihatnya. "Ini hadiah dari gue dan Papah buat elu."
"Apa ini, Del?"
"Buka aja!"
Sebuah gaun indah. Berwarna biru dan lembut. Pasti mahal. Bahan kain serta modelnya itu, lho!
"Ini seperti baju buat kondangan, Del," kataku usai membuka dan melihatnya dengan utuh. "Memang!" jawab Della lantang.
"Kita mau menghadiri acara pernikahan?"
"Iya."
"Kapan?"
"Bulan depan."
__ADS_1
"Pernikahan siapa?"
Della melirik ke arah Om Bram. "Papahku, Cuy."
"Apa?" Hampir saja gaun yang kupegang terlepas. "Kamu serius?"
Della mengangguk. "Serius dong, Cuy. Papah sebentar lagi akan menikah dengan Tante Cassandra."
"Tante Cassandra? Sekretaris kantor Om Bram?" Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Diikuti getaran kaki, serta tubuh ini. Laksana mimpi tak berkesudahan. "Mengapa aku baru tahu sekarang?"
Om Bram menarik napas panjang, kemudian bantu menjawab, "Sebenarnya sudah lama, saya menjalin hubungan dengan Cassandra. Jauh sebelum Alya tinggal bersama kami. Bahkan, Della sendiri belum lama bersedia dan mengijinkan saya untuk menikah lagi. Maaf, jika kami berdua baru memberi tahu hal ini pada Alya sekarang."
"Kamu senang, 'kan, kita bakal punya Mamah lagi, Cuy?" tanya Della antusias.
Aku tak mampu menjawab. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu. Tenggorokan kering. Suara pun menghilang. Ini pasti bukan tanda-tanda panas dalam, 'kan? Tapi ....
"Alya!"
Hanya suara itu yang sempat kudengar. Setelah itu, berubah gelap gulita.
...------- o0o -------...
Kubuka mata perlahan dengan rasa berat yang masih bergelayut di kepala. Samar menghirup aroma tak asing, menyengat memenuhi rongga hidung. Kemudian, hadir dia raut wajah mengitari area pandangan.
“Nah, Alya sudah siuman!” seru suara Della menusuk telinga. “Cepetan! Jauhin kaos kakinya, Ndre!”
‘Kaos kaki?’ pikirku langsung merasa mual ketika bayangan pembungkus kaki itu hadir di ruang imajinasi. “Kalian menyebalkan!” gerutuku begitu gerbang alam sadar telah terbuka utuh. “Kaos kaki kamu, ya, Ndre?”
Andre terkekeh sendiri. “Maaf, Lya. Tadi disuruh Della.”
PLAK!
Bahu anak muda itu dikeplak Della. “Sakit, Del,” sambung Andre sambil meringis. “Comel lu kayak cewek!” gerutu gadis itu, bersungut-sungut. Lalu dia mendekatiku. Duduk di samping, sembari memijit kaki. “Kenapa, sih, tiap kali deket Papah, elu pingsan melulu, Cuy? Elu ada rasa ama bokap gue?”
Waduh, mengapa Della tiba-tiba bertanya seperti itu? Jangan-jangan dia sudah mulai curiga dengan kelakuanku selama ini? Gawat!
Secepat kilat aku bangkit. Duduk berselonjor sambil menatap mata Della. “Rasa apaan? Aku selama ini menganggap Om Bram sebagai orang tuaku sendiri. Bukankah beliau sendiri yang ingin menjadikanku anak angkat? Apakah itu salah, Del?”
“Tapi yang gue lihat dari sikap elu ama bokap gue, gak kayak gitu, Cuy,” kilah Della setengah menyelidik. “Elu gak lagi ngebokis, ‘kan?”
“Ya, endaklah. Buat apa aku bohong,” kataku terpaksa berdusta untuk kesekian kali. “Lagi pula, aku pingsan karena sebelumnya udah merasa ndak enak badan, sejak diantar Andre tadi. Iya, kan, Ndre?” tanyaku meminta pembelaan dari laki-laki setengah bule itu. Andre mengangguk. “Tuh, lihat sendiri, ‘kan? Mana mungkin aku bohong sama kamu, Del.”
Gila memang. Lambat laun, kelakuanku makin tak karuan. Dulu sangat anti berbohong, apalagi terhadap Della. Sekarang, sudah menjadi lalapan setiap hari. Alasannya cuma satu; terpaksa.
Benar menurut pepatah, ‘Kebohongan akan terus terlahir, untuk menutupi kebohongan yang lalu’. Eh, begitu, ya, bunyinya?
__ADS_1
Della mendengkus. “Terserah elu, deh, Lya. Gue udah terlanjur sayang sama elu. Jadi, gue pinta jangan keseringan elu ngebohongin gue. Lebih baik jujur walaupun itu bakal bikin gue kecewa.”
Duh, Della serius rupanya. Tak seperti biasa. Ada apa, sih? Jangan-jangan karena cemburu aku jalan dengan Andre?
“Kamu sendiri juga bohong sama aku, Del.” Aku tak mau kalah.
“Bohong apaan?” Della mendelik.
“Katanya kamu benci sama Andre. Kok, malah kerja sama mempermainkan aku, sih?”
“Yang bilang benci sama dia itu, siapa?” Della ngotot. “Gue cuma pengen jaga jarak ama dia.”
“Lho, kenapa?” pancingku.
Kembali Della mendengkus. “Udah, gak usah dibahas. Gue males ngomongin kayak begini,” semprot gadis itu galak. Lalu berbalik badan, menatap Andre yang berdiri di belakangnya. “Elu lagi!”
“Kenapa gue? Elu kalo mau ngomel, sono lanjutin ama Alya. Jangan bawa-bawa gue,” ujar Andre beringsut mundur melihat kilatan bola mata Della.
Gadis itu makin membelalakkan mata. “Ngapain elu masih ada di rumah gue? Ini, kan, udah hampir malem! Ada di kamar cewek pula!”
“Lho, yang bopong Alya dari bawah ke sini, kan, gue. Kalo bukan gue, lalu siapa? Pak Bram? Bisa makin lama, dong, durasi pingsannya,” kata Andre diiringi kekehan menyebalkan.
“Tugas elu udah selesai. Pulang sekarang juga!” sentak Della galak. Andre mundur selangkah. “Tapi gue pengen ngomong dulu ama Alya, Del. Sebentar aja,” pinta Andre memelas.
“Pulang!”
“Lima menit aja, deh, Del. Gue janji.”
“Pulang!” bentak Della makin keras.
“Del, tenang, dong. Jangan teriak-teriak begitu,” kataku mencoba menenangkan.
“Elu diam dulu, Lya. Gue mau urus cowok pecicilan ini,” seru Della sambil menudingkan telunjuknya ke arahku.
Ya, Tuhan! Ada apa, sih, dengan Della? Mengapa semua jadi begini?
“Gue bilang, pulang sekarang, Andre!”
“Iya, gue pulang,” balas Andre kemudian. Perlahan menatapku.
Tiba-tiba muncul Om Bram dari ambang pintu kamar. “Ini ada apa, sih, Sayang? Kok, teriak-teriak begitu?” tanyanya sembari memperhatikan kami bertiga.
Om Bram? Huh! Laki-laki itu. Mendadak muak melihatnya. Kupalingkan pandangan ini ke arah berlawanan. Dihiasi raut masam sedemikian rupa. Siapa tahu, dia mendekat. Lalu bertanya, ‘Ada apa, Alya? Kok, mukanya begitu? Kamu marah sama Om?’
Ditunggu sekian lama, dia tak segera masuk kamar juga. Dasar, laki-laki bedebah! Hhhmmm, aku doakan, semoga Om Bram tak jadi berjodoh dengan si Tante Cassandra.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...