
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 50...
...------- o0o -------...
"Maaf, Mbak," kata sopir tiba-tiba, seraya mengintipku melalui mirror tengah. "Saya sudah berumah tangga. Istri juga lagi hamil besar di rumah."
Aku mengerutkan kening. "Maksud Mas, apa?"
Berusaha menghindari tatapanku melalui cermin, sopir tersebut menjawab, "Saya lihat, dari tadi Mbak ini senyum-senyum terus sama saya. Jadi gak enak hati sayanya, Mbak. Maaf .... "
Dih, 'geer' dia!
"Mas mau aku kasih bintang satu, ndak?" tanyaku mengancam. Sopir terkejut, "Wah, jangan, Mbak. Nanti berpengaruh sama kredibilitas akun transportasi online saya. Maafin saya, ya, Mbak. Saya khilaf."
"Makanya jangan sok tahu!" kataku sengit. "Mas kenal Pak Bram, ndak?"
Sopir berpikir sejenak. "Pak Bram yang mana, ya? Saya gak kenal, Mbak."
Aku tersenyum kambing. "Itu ... nama laki-laki yang akan menjadi suamiku kelak."
"Oh, begitu? Semoga berjodoh dan cepat menikah, ya, Mbak."
Kembali tersenyum penuh harapan. "Terima kasih," balasku. "Laki-laki itu yang sedang kubayangkan. Bukan Anda, Mas."
Sopir mengangguk-angguk. "Mohon maaf, Mbak. Saya salah paham. Saya pikir, Mbak ini ngajak saya senyum. Hehe."
Aku melengos.
Sambung kembali sang sopir, "Pak Bram pasti laki-laki yang hebat dan paling beruntung, ya, Mbak."
"Maksud Anda, Mas?"
__ADS_1
"Pak Bram beruntung, bisa mendapatkan cinta Mbak yang cantik ini."
Hhmmm, tentu. Om Bram pernah berkata begitu. Aku memang cantik dan menarik. Bahkan, lebih cantik dari Tante Cassandra, 'kan? Kekuranganku hanya pada warna kulit yang eksotis. Namun dibanding itu, lebih unggul dari perempuan berumur yang berkulit putih dan terawat tersebut, yaitu ... aku masih perawan dan dia janda.
Janda?
Ya, janda beranak satu yang katanya akrab dengan Della. Apakah seumuran dengan sahabatku itu? Seorang anak spesial yang terlahir dari keturunan bapaknya yang orang luar negeri. Sebentar, ini seperti mengingatkanku pada seseorang. Siapa, ya?
Selama ini Della tak pernah kulihat memiliki teman dekat. Baik di kampus maupun lingkungan rumah. Hanya ada aku. Selebihnya ... ya, Tuhan! Apakah anak muda itu? Andre. Ya, dia. Walaupun terkesan memusuhi, sepertinya sudah lama Della mengenal Andre.
Aku pikir, secara diam-diam Della menyukai Andre. Hanya saja tak pernah berani memperlihatkannya. Atau mungkin juga karena dia tahu papahnya, Om Bram, menjalin hubungan dengan Cassandra. Jadi, benarkah janda itu ibunya si Andre? Apalagi jika mengingat ucapan Bi Mamas belum lama ini, anak bule itu sering datang ke rumah Om Bram. Sekadar menumpang makan? Ah, pasti lebih dari itu.
Akan tetapi, mengapa sikap Om Bram waktu pertama kali bertemu Andre seolah-olah baru mengenal anak muda tersebut? Aneh. Ada drama apa di balik semua itu?
Memang belum lama aku tinggal bersama keluarga Om Bram. Wajar saja jika masih banyak yang belum diketahui, atas pertanyaan-pertanyaanku tadi. Benar-benar keluarga aneh. Semisterius sikap laki-laki yang kucinta selama ini. Bramanditya Satriadireja.
Tak terasa, perjalananku pun tiba. Lekas keluar dari dalam kendaraan. Tak lupa membayar lebih, ongkos transportasi online untuk si Mas sopir.
"Banyak banget, Mbak," kata sopir sambil menghitung uang ongkos yang kuberikan.
"Wah, terima kasih banget, Mbak." Sopir itu senang karena mendapatkan rejeki nomplok. "Tapi jangan kasih bintang satu, ya, Mbak. Please."
"Tenang saja, Mas. Kalaupun semua bintang di langit itu bisa kugapai, akan kuberikan semuanya sama Anda. Hihihi," kataku kembali seraya bergegas masuk ke dalam rumah.
Namun, kondisi di dalam kosong. Della dan Bi Mamas tak ada di kamar. Ke mana mereka? Mobil yang biasa digunakan Della masih terparkir di garasi.
"Bi Mamas di mana?" tanyaku melalui sambungan telepon. Terdengar raungan sirine di antara suara isak perempuan itu di sana. "Non Della di bawa ke rumah sakit, Non. Ini, saya masih di perjalanan," jawab Bi Mamas disertai tangisan.
"Di bawa ke rumah sakit?" Aku terkejut. "Rumah sakit mana, Bi?"
Bi Mamas menyebut sebuah nama, kemudian lanjut bercerita, "Tadi sempat diperiksa sama dokter Boyke. Lalu, dirujuk ke rumah sakit itu."
Ya, Tuhan! Apa yang terjadi dengan Della? Tadi pagi, kupikir demam biasa. Kalau sampai di bawa ke rumah sakit, separah apakah sakitnya?
Selama ini Della terlihat sehat-sehat saja. Tak ada tanda-tanda dia sedang menjalani rawat jalan dengan dokter Boyke. Misteri apalagi ini?
Tak menunggu waktu lama, aku segera menyusul mereka. Tak peduli walau badan terasa lengket, berbau, serta perut perih karena lapar. Tak lupa juga menghubungi Om Bram di kantor. Laki-laki itu juga terdengar panik.
__ADS_1
"Ya, aku sudah tahu kalau Della di bawa ke rumah sakit. Tadi dokter Boyke sendiri yang meneleponku," kata Om Bram begitu menerima telepon dariku. "Aku lagi di jalan menuju sana, Sayang. Kamu sendiri, bagaimana?"
"Aku baru datang ke rumah. Tadi Bi Mamas—"
"Ya, tadi dokter Boyke juga cerita. Kamu yang menghubungi dia, 'kan, Alya sayang?"
"Iya, Om."
"Terima kasih, ya, Sayang. Kamu sudah melakukan hal yang tepat. Sekarang menuju rumah sakit juga, 'kan?"
"Iya, Om. Ini masih di jalan."
"Ya, sudah. Kita ketemu di sana nanti, ya?"
"Iya, Om sayang. Eh .... "
"Muah!"
"Muah juga. Eh?"
DUG! DUG! DUG!
Tiba-tiba jantungku bertalu-talu. Ah, mengapa di saat-saat seperti ini harus memikirkan masalah hati, sih? Fokus ke Della, dong! Dia sedang membutuhkan perhatian penuh.
Ya, benar. Kesampingkan dulu masalah kompetisi percintaan. Itu bisa kuurus usai perkara ini. Setidaknya bisa menyelam sambil minum air, 'kan? Mengurus Della, sekaligus menarik perhatian Om Bram. Harus unjuk diri bahwa aku pun bisa merawat calon anak tiri. Tak akan kalah kualitas dengan perempuan bernama Cassandra itu. Apalagi sisa pertandingan kurang dari dua pekan lagi.
Hhmmm, aku yang harus tampil sebagai juara. Tanpa medali, tapi berhak mendapatkan cinta Om Bram seutuhnya.
"Uhuk! Uhuk!" Suara batuk Bi Mamas yang tidur di kursi panjang, membuyarkan lamunanku.
Kembali pandanganku terfokus pada sosok Della. Rasa bersalah ini masih menggayuti hati. Bagaimana tidak? Seandainya tadi pagi memaksa gadis itu berobat, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.
Kini dia terbaring lemah di sana. Bernapas dengan bantuan oksigen. Terpejam rapat. Entah tengah tidur atau tak sadarkan diri. Aku tak tahu.
Kutarik kain yang tadi digunakan untuk menyelimuti oleh Bi Mamas. Diperhatikan, rupanya sebuah jas yang biasa dikenakan Om Bram kala kerja di kantor. Jadi, orangnya masih di rumah sakit, 'kan? Tapi di mana dia?
...BERSAMBUNG...
__ADS_1