
...BUCIN...
...(Butuh Cinta)...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 12...
...------- o0o -------...
Tiba-tiba aku ingin sekali bertanya. Keberanian yang muncul begitu saja di ambang pertahanan tubuh yang kian melemah. "Benarkah Alya ini dianggap anak kandung sendiri bagi Om Bram?"
Bram tersenyum manis. "Aku mencintaimu, Lya."
Oh, tidak! Aku benar-benar tak tahan lagi. Seketika pijakan kaki seakan melayang. Penglihatan memudar dan berubah gelap. Sampai akhirnya semua menghilang bersamaan dengan pekat yang menyelimuti kesadaran.
Tak tahu apa yang terjadi. Berapa lama. Hingga akhirnya aku membuka mata di dalam sebuah ruangan yang tak pernah kulihat selama ini. Kamar Om Bram? Mungkin. Kasurnya begitu empuk. Wangi. Lalu ... mataku membentur pada sosok yang sedang duduk dekat kakiku. Memijit dengan lembut dan perlahan. Aku ....
Ya, Tuhan! Apakah aku sedang berada di ruang surga? Berharap tak segera pulih kesadaran ini. Lanjut pingsan dan bermimpi dengan laki-laki itu. Biarlah berlama-lama juga, yang penting hanya aku dan Om Bram. Namun itu hanya sekejap. Sampai gelegar suara layaknya petir menghentak jiwa.
"Papah!"
Itu suara Della. Dia berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Berkacak pinggang disertai kilatan mata murka.
------- o0o -------
Della berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Berkacak pinggang disertai kilatan murka. Menatap tajam, aku dan Bram. Dengkus napasnya menggema diiringi geram menggidikkan. Kemudian perlahan melangkah mendekati kami.
"Della .... " Aku bangkit. Beringsut ke tengah kasur. Menjauhi Bram, juga Della.
"Sayang .... " Bram mencoba menahan langkah anak gadisnya. Berdiri dan menghalangi.
"Apa yang Papah lakuin sama Lya di sini?" Mata Della membelalak hebat. "Sudah berapa kali Papah berbuat seperti ini?"
"Della, kamu ngomong apa, sih, Sayang?" Bram memegang bahu putrinya. "Papah dan Alya gak ngelakuin apa-apa, kok."
__ADS_1
"Bohong!" teriak Della tak percaya. "Pasti kalian berdua sudah sering ngelakuinnya, kan?"
Bram menggeleng. "Enggak, Sayang. Tadi Alya pingsan, lalu Papah bawa ke sini," jawab Bram berusaha meyakinkan. "Kalo di bawa ke kamarnya, berat."
"Pingsan? Kenapa?" Della tiba-tiba menatapku penuh curiga.
Kembali Bram menggeleng. "Ya ... Papah gak tahu. Tadi tiba-tiba aja pingsan."
"Della tanya, kenapa Lya pingsan? Kenapa gak ngebangunin Della atau .... "
"Della .... " Aku ingin ikut menjelaskan, walau dengan rasa takut gadis itu akan semakin murka.
"Diam!" bentak Della sambil menudingkan telunjuk padaku. "Gue belum beres ama bokap gue! Nanti giliran elu yang gue maki-maki!"
"Della."
"Diam!"
"Sayang .... " Bram menengahi. "Lya gak salah apa pun. Dia sama sekali gak tahu apa yang terjadi setelah pingsan tadi."
"Della, Sayang." Bram mengusap-usap wajah putrinya. "Dengarin dulu. Papah akan jelasin--"
"Jelasin apalagi, Pah?" Della mulai histeris. "Sudah jelas Della lihat sendiri, Papah dan dia, berduaan malam-malam begini di kamar Papah. Arti macam mana yang bisa ngejelasin ... kalian berdua gak ngapa-ngapain? Atau keburu kepergok sama Della? Hohoho, kasihan sekali!"
"Della! Dengerin dulu Papah!" Suara Bram meninggi. Cengkeraman jemari di bahu Della semakin menguat.
"Tidak! Della gak mau dengerin apa pun dari Papah! Termasuk dia!" Tunjuk Della ke arahku. Tangisnya mulai pecah, disertai gerakan memberontak hendak melepas cekalan papahnya. "Della benar-benar kecewa sama kalian berdua!"
Aku merangsek mendekati Della. Bermaksud untuk ikut menenangkannya. Tapi urung melanjutkan, begitu gadis itu menoleh dengan sorot menggidikkan.
"Tenanglah, Sayang. Apa yang kamu pikirin tadi itu, sama sekali gak benar," ujar Bram masih berusaha menenangkan.
"Tidak! Della gak percaya!" teriak Della histeris. Tiba-tiba gadis itu menarik paksa bajunya sendiri. Melepas dan mencampakkannya begitu saja di depan Bram. Menyisakan balutan penutup dada. Itu pun tak luput hendak ditanggalkan tanpa rasa malu. "Kalo memang Papah sudah gak tahan dengan kesendirian Papah, lakuin aja sama Della, Pah. Jangan sama Lya ataupun perempuan lain! Della gak terima! Della gak suka!"
"Della! Tenanglah! Sadar! Kuasai dirimu!" Bram menahan tangan Della yang hendak merenggut penutup area dada.
__ADS_1
"Della gak mau Papah jatuh ke pelukan perempuan mana pun! Papah milik Della! Akan selamanya menjadi milik Della!" Gadis itu berhasil menarik paksa balutan bra. Membiarkan gelantung kembar keindahan terpampang di depan papahnya. "Lakuin sama Della! Renggut kesucian anakmu sendiri, Pah! Della rela daripada Pap--"
"Della!"
PLAK! PLAK!
"Om Bram!" Serta merta aku berteriak memanggil laki-laki itu, dengan tangan menjulur hendak menggapai. Namun rasa takut akan amarah Della, menahan laju tubuh ini mendekati sosoknya.
Suara keras telapak tangan mendarat di pipi, terdengar mengiris hati. Bersamaan dengan itu, amukan Della terhenti. Gadis itu terdiam mematung sambil mengusap wajahnya yang memerah. Panas dan perih.
"Della .... " Bram menatap Della dengan tangan bergetar hebat. Suara beratnya menyerak. Seperti tertahan di ujung tenggorokan, disertai rasa perih dan mengering. "Maafin Papah, Sayang. Maafin Papah."
Buru-buru lelaki flamboyan itu meraih selimut di atas kasur, lalu menutupi dada Della yang terbuka polos. Segera menarik tubuh putri semata wayangnya itu ke dalam pelukan. Memeluk dengan erat sambil mengelus-elus kepala.
"Papah khilaf, Sayang. Maafin Papah." Tangis lirih pun pecah dari laki-laki gagah yang selama ini kulihat tegar. "Papah menyesal."
Della masih terdiam dengan pandangan kosong. Air mata meleleh, menyusuri pipinya yang putih. Tak ada suara isak maupun jerit kesakitan akibat dua kali tamparan keras papahnya tadi. Seumur hidup, mungkin baru pertama kali merasakan. Itu pun dari orang yang selama ini dia sayangi.
"Della .... " Ingin sekali turut memeluk sahabatku itu. Mengusap air matanya. Bahkan tak akan kulepas hingga dia lupa akan peristiwa menyedihkan malam ini. Tapi ....
Tangan Bram bergerak. Memberi isyarat agar aku tak mendekat. Mungkin khawatir Della akan kembali memberontak. Karena masalahku dengannya belum sempat usai.
"Papah menyukai Alya, kan?" tiba-tiba gadis itu berucap. Masih dengan kondisi tubuh kaku dan tatapan hampa. Bram melepas pelukannya. "Apa maksudmu, Sayang?" tanya laki-laki heran.
Della tersenyum kecut. "Sejak pertama kali Alya tinggal di sini, Della sudah lama memperhatikan. Ada perasaan lain yang Papah sembunyikan."
"Perasaan apa, Sayang? Papah gak menyembunyikan apa-apa," tutur Bram sambil mengusap genangan bening di kelopak putrinya.
Terus terang, mendadak hatiku bergemuruh. Entah mengapa. Menanti jawaban Bram atas pertanyaan Della barusan. Ada asa tersembunyi dari diamku menyimak obrolan dua orang tersebut.
Della kembali tersenyum kecut. "Bohong! Papah kembali bohong!"
"Della ... lalu Papah harus ngomong apalagi?" Bram menatap lekat wajah Della. Gadis itu tak mau membalas. Pandangannya masih terarah pada satu titik. Bukan pada Bram, ataupun padaku.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1