BUCIN (Butuh Cinta)

BUCIN (Butuh Cinta)
Bagian 43


__ADS_3

...BUCIN...


...(Butuh Cinta)...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 43...


...------- o0o -------...


Om Bram melongo, kemudian menarik napas lega. Tak begitu dengan Della. Gadis itu kelihatannya masih penasaran.


"Gue ngerasainnya gak kayak gitu. Ini obrolan apaan, sih?" Della menatap kami berdua. "Papah gak lagi nyembunyiin sesuatu dari Della, 'kan?" tanyanya pada Om Bram.


"Nyembunyiin apa, Sayang? Papah gak nyembunyiin apa-apa dari kamu, kok," jawab Om Bram.


Hhmmm, pembohong amatiran! Tak berpikir, ya, ada saksi nyata di sini. Aku. Makin ketahuan sekarang, bagaimana seorang Bram sesungguhnya. Tak lebih dari seorang laki-laki pengecut yang bersembunyi di balik fisik memesona. Huh, tapi anehnya, aku masih tetap cinta dan makin tergila-gila padanya.


Bukti cinta itu buta? Entahlah. Yang pasti, aku pikir ada alasan lain mengapa dia bersikap seperti itu. Itulah sebabnya, di saat kecewa masih saja mau menuruti permainan menyebalkan si Bram.


"Iya, Del. Papahmu, kan, sudah menganggapku layaknya anak sendiri. Wajar saja, 'kan, kalo memperlakukanku seperti itu?" kataku menambahkan. Kali ini tak ingin melirik si Bram. Masih sebal rasanya melihat dia, tapi tetap kangen.


Cerita cinta macam apa ini? Aku yang tengah gundah gulana, masih sempat dan mau-maunya bersandiwara. Padahal, bisa saja tadi kulabrak sekalian laki-laki itu. Tak peduli, apa yang akan terjadi setelah Della tahu.


"Gue gak percaya sama elu, Lya. Gue ngerasa, elu ada hal lain ke Papah gue," kilah Della seraya menyipitkan mata. "Elu demen ama Papah gue?"


Aku terperanjat. "Ya, ampun, Del. Mana mungkin aku jatuh cinta sama Om Bram. Beliau sudah kuanggap sebagai bapakku sendiri," seruku nyaring, "lagian umurku dengan Om Bram, kan, beda jauh. Gak mungkinlah, Del."


Om Bram mendelik. Mungkin kurang suka dengan ucapanku mengenai usia. Bisa jadi. Faktanya memang sudah mulai menua, 'kan? Namun ... masih ganteng dan menggairahkan! Haduh!


"Terserah elu, deh. Hanya saja, elu harus ingat. Siapa pun yang berusaha ngedeketin Papah gue, elu udah tahu, 'kan, konsekuensinya, Lya?" ancam Della, "apalagi Papah gue sebentar lagi, bakal menikah ama Tante Cassandra."


"Iya, aku inget itu, Del," jawabku, "tenang saja. Aku juga sudah pernah bicara sama kamu, kalo aku ndak mau pacaran dulu. Aku ingin fokus kuliah. Masih ingat, Del?"


Della mengangguk. "Ya, gue inget itu. Asal elu komit aja ama prinsip elu, Cuy!"


"Pasti, dong. You knew who I was, didn't you? Hihihi."


"Terserah elu, deh, Cuy!" ujar Della seraya bangkit dari duduk.


"Mau ke mana, Del?" tanyaku. "Mandi," jawab Della bergegas meninggalkan kami.


Tinggal aku dan Om Bram yang masih ada di ruang tengah.


"Terima kasih, ya, Lya," kata laki-laki itu.

__ADS_1


"Terima kasih apa, Om?" Aku enggan menatapnya. Masih sebal. Laki-laki pengecut dan munafik!


"Alya mau menuruti keinginan Om tadi."


"Yang mana, Om?"


"Berbohong pada Della perihal kejadian malam itu."


Hhmmm, benar-benar culas! Laki-laki tengik!


Om Bram menggeser duduknya, mendekatiku. "Alya ingin tahu jawaban jujur Om tentang pertanyaan Alya tadi?"


"Pertanyaan yang mana lagi, sih, Om?" Kulirik dia. Makin mendekat.


"Perasaan Om sama Alya .... " kata Om Bram sambil melihat-lihat lantai atas. Memastikan kalau Della masih berada di bilik kamar mandi.


"M-memangnya p-perasaan O-oom s-se-perti a-pa?" Tiba-tiba aku merasa panas-dingin. Laki-laki itu semakin merapatkan tubuhnya.


Ya, Tuhan! Aku menggigil.


"Sebenarnya aku juga .... " Om Bram menarik tubuhku. Kemudian mendaratkan kecupnya di bibir ini.


Apa? Mimpikah ini? Tidak! Kami sama-sama sadar. Om Bram pun tak sedang mabuk. Lalu, ini apa artinya?


"Om?" Aku menatap mata coklatnya. "Om juga mencintai Alya?"


"Ya, Tuhan! Om ndak lagi berbohong, 'kan?" Aku masih tak percaya. Jawabnya, "Enggak, Alya sayang. Aku memang jatuh cinta sama kamu."


"Alya ndak percaya, Om," kataku. "Coba ulangi lagi, Om."


"Apanya?"


"Yang barusan."


Om Bram pun menuruti permintaanku. Kali ini lebih lama dari yang pertama tadi.


"Ooommm .... " Kupeluk tubuh itu. Tangis pun meledak. "Alya takut kehilanganmu."


"Aku ada di sini, Alya. Aku gak akan ke mana-mana."


"Tapi, bagaimana dengan rencana pernikahan Om itu?"


"Cassandra?"


"Ya, siapa lagi?"

__ADS_1


Om Bram mengekeh.


Lho, ditanya malah tertawa? Jawab, dong! Aku kan, nanya!


“Mengapa, Om? Ada yang lucu?” Kutatap mata coklatnya. Heran. Bisa-bisanya di kala tangisku hampir meledak, dia malah tertawa.


Om Bram menggeleng-geleng. “Gimana gak lucu, coba. Pernikahanku dengan Cassandra, sudah di ambang pintu. Sementara hari ini, aku terpaksa jujur sama kamu, Alya. Laki-laki macam apa aku ini?” Dia menepuk keningnya beberapa kali. Mungkin pusing. Rasakan! Salah dia sendiri.


Namun aku berusaha memahami. Om Bram, laki-laki berprinsip. Tante Cassandra sudah lebih dulu hadir dalam kehidupannya. Sementara diri ini, masih gadis kemarin sore. Sudah sepatutnya aku yang harus tahu diri.


Menyerah? Jangan dulu. Buku nikah mereka belum tercetak. Masih ada sisa harapan untuk bisa memilikinya. Walaupun harus berbagi, misalkan. Lalu tentang Della? Ah, lagi-lagi dia yang jadi duri dalam daging. Apa perlu aku masukan dia ke dalam adukan semen dan dijadikan patung taman?


“Seberapa besar, Om mencintai Tante Cassandra?” tanyaku ingin menyelami hati laki-laki flamboyan tersebut.


Dia berpikir beberapa saat. “Cassandra perempuan hebat, pintar, cantik, mandiri, dan juga baik. Aku mengenalnya dulu waktu dia masih bersuami.”


“Dia janda, ya, Om?”


Om Bram melirik, lalu menjawab, “Iya, dia janda. Bukannya sudah kubilang tadi?” Aku menunduk. Cemburu. “Memangnya kenapa kalau dia janda?”


Sambil mempermainkan jemari, kujawab dia, “Mendingan Alya, dong, Om. Masih perawan.”


Tiba-tiba Om Bram mencubit daguku. “Kamu ini. Bisa saja, deh.” Seketika wajahku memanas. Merah merona, sepertinya. “Memangnya ada apa antara janda dan perawan, Lya?”


“Sudah. Ndak perlu dibahas, Om.”


“Lho, kamu yang duluan.”


“Aaaahh, Om,” sahutku seraya menjatuhkan wajah di dadanya. Kini sudah bisa bebas bergelayut manja dengan laki-laki itu. Toh, sudah tahu kalau kami sama-sama suka. “Om belum menjawab pertanyaan Alya.”


“Yang mana?” tanya Om Bram. Melihat-lihat sekitar rumah. Khawatir Della tiba-tiba muncul lagi seperti tadi.


“Cinta Om sama Tante Cassandra.”


“Oh, itu?” Tampaknya dia kembali berpikir. Sampai kemudian menjawab, “Aku memang menyukainya. Tapi kehadiranmu dalam hidupku, membuatku lebih bersemangat, Lya.”


“Memangnya sama dia, Om ndak bersemangat?”


“Dia gak bisa masak, Lya.”


“Masa?”


“He’eh. Malah gak bisa bedain antara mecin dengan bubuk sitrun.”


“Masa, sih?”

__ADS_1


“Iya. Kopi buatannya gak seenak buatan kamu, Lya.”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2