BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Dijebak


__ADS_3

Neta memandang sinis wanita yang sedari dulu dianggapnya musuh, siapa lagi kalo bukan Rain. Baginya Rain adalah penghalang dirinya untuk mendapatkan Dion.


"Kita lihat Rain, kan gue buat lo hancur malam ini." gumam Neta dengan senyum menyeringai lebar.


Tiba-tiba terlintas ide jahat di fikirannya.


"Ndre, sini." panggil Neta.


"Ada apa Net?"


"Nih, kasih ke Rain ya. Gue tau dia gak begitu suka minuman beralkohol. Rain harus banyak minum air mineral, karena yang gue denger kemarin dia sakit gegara mabok." ujar Neta menyodorkan air mineral dingin ke Andre.


"Loh, Rain kemarin gak masuk karena sakit." tampak raut wajah Andre berubah panik.


Neta tersenyum,


"Kena lo Rain. Minuman itu bakal merubah lo dalam waktu semalam, dan lo ! gak akan ada yang bakal lo banggain lagi setelah ini." batin Neta.


Air mineral yang di bawa Andre sudah di campurnya dengan obat perangsang, meski hanya berdosis rendah. Tapi Neta yakin itu cukup membuat Rain hancur malam ini.


"Udah kasih aja Ndre, jangan bilang dari gue. Gue tau lo naksir Rain udah lama, dan ini kesempatan lo, kesempatan lo buat nunjukin ke dia kalo elo emang peduli sama dia."


Neta semakin melebarkan senyumnya, apalagi Andre menyetujui idenya. Ia tak perlu mengotori tangannya untuk membuat Rain jatuh.


"Hai Rain, kemarin lo sakit ya." tanya Andre menghampiri Rain di bar depan.


"Iya Ndre..." Rain mengulas senyum.


"Nih, buat lo. Gue tau lo gak bisa mabok. Lo harus banyak minum air mineral.

__ADS_1


Air mineral bagus lho buat kesehatan, apalagi pekerja malam kaya kita." ujar Andre seraya menyodorkan air mineral ke Rain.


"Wahh, lo tau aja Ndre. Gue lagi butuh, tapi nanggung bentar lagi pulang." ujar Rain seraya menerima pemberian Andre.


"Tapi makasih ya, lo emang temen yang baik." puji Rain kemudian.


"Sama-sama Rain, jangan lupa di minum ya. Dan jangan terlalu banyak fikiran. Gue gak mau lo sakit lagi." Andre tersenyum.


Di sisi lain Blackzone, Neta tersenyum puas. Meski ia tahu Rain belum meminumnya, kemungkinan besar rencananya malam ini berhasil.


"Tinggal memastikan jika bukan pak Dion yang mengantarkan ia pulang."


Hingga tiba setengah jam sebelum pulang, Rain minum air mineral itu hingga tandas. Karena ukuran botolnya kecil, selain itu Rain tipe orang doyan banget minum air putih.


"Ehh, pak Dion. Boleh numpang pulang? Rumah saya dan tempat bapak searah, tolong saya pak, kepala saya pusing banget." keluh Neta pura-pura.


"Kamu sakit Net, kenapa nekat kerja tadi." ujar Dion.


Neta jalan dengan sedikit sempoyongan, ia harus memastikan Dion percaya jika dirinya benar-benar sakit.


"Bye.. bye.. Rain. Selamat bersenang-senang semoga pasangan lo puas malam ini." batin Neta ketika melewati meja dimana Rain berada.


Neta tersenyum puas, kini ia pulang bersama Dion, dan ia berhasil membuat Rain minum air yang di campur obat itu.


"Hm, siapa ya kira- kira yang bakal tidur sama Rain. Bisa Andre, bisa juga dokter itu. Tapi...


Pasti Andrelah, tadi kan gue sempet denger Dokter kesayangannya itu sibuk di rumah sakit. Bodo amatlah, yang penting bukan pak Dion, enak aja ! kesayangan gue tiap hari nganterin dia pulang, cehhh !" batin Neta.


"Masih sakit Net?" tanya Dion.

__ADS_1


"Sedikit pak. Oh ya, boleh Neta tau. Pak Dion pacaran sama Rain ya."


Dion terkekeh, " Siapa sih yang gak naksir sama Rain, dia cantik, baik, pinter, dan satu.. unik."


Neta mengepalkan tangannya kesal.


Jawaban Dion seolah nenandakan bahwa laki-laki itu juga menyukai Rain.


"Sialan lo Rain, apa sih hebatnya lo. Sampai orang - orang begitu suka dan sayang sama lo. Oh Oke kalo rencana gue gak berhasil, gue tetap akan terus buat lo jatuh."


"Gue bakal buat orang-orang terdekat lo, ngejauhin lo, karna lo gak pantes ! bersaing sama gue." batin Neta.


Sisi lain Blackzone..


"Duh panas banget." keluh Rain.


"Lo kenapa Rain." tanya Vio menatap heran sahabatnya.


"Gue panas banget Vi." keluhnya.


"Dah ayo pulang, dah sepi. Lagian pak Dion dah cabut dari tadi kayaknya." ajak Vio.


Rain mengangguk, segera ia meraih tasnya lalu mengekor di belakang Vio.


Sampai di depan club, terlihat Radit sedang bersandar di mobil dan memainkan ponselnya.


"Eh, gue duluan ya Rain. Noh lo dah di jemput babang ganteng lo, gue gak mau jadi nyamuk." ucap Viona memilih pergi terlebih dahulu.


Rain merasa pusing dan panas, namun ia masih sanggup berjalan meski pelan.

__ADS_1


"Mas Radit........."


__ADS_2