BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Meminta Restu


__ADS_3

"Sudah siap, sayang?" suara lembut Radit yang menunggu Rain di sofa tamu apartemen.


Rain masih membenarkan pakaiannya, setelh selesai, cepat-cepat ia keluar kamar.


"Sudah, berangkat sekarang?" tanya Rain.


Radit mengangguk, lalu mengulurkan tangannya, Rain menyambutnya dengan sumringah.


Dua sejoli itu melangkah turun meninggalkan apartemen Rain, memasuki lift.


Sejenak mereka berpandangan, meski untuk kesekian kalinya Radit memang tak bosan memandangi wajah cantik Rain, dan saat pintu lift terbuka, mereka melangkah keluar dengan jemari saling bertaut.


Mobil melesat meninggalkan gedung apartemen menjulang tinggi.


"Dimana makam mama dan papamu, sayang?" tanya Radit sembari fokus menyetir.


"Ada di TPU jalan Cempaka 05, sayang." jawab Rain.


Radit menautkan kedua alisnya, kebetulan sekali jika makam orang tua Rain, satu tempat dengan makam orang tuanya.


Padahal rencananya, esoknya Radit baru akan mengajak Rain ke makam orang tuanya, kebetulan takdir memang sulit dipercaya.


Mobil terhenti, kala gerbang makam sudah terlihat, dan tinggal beberapa langkah laki di jangkau.


Segera Radit turun, dan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, Rain.


"Ayo, sayang." ucapnya, lagi sikap Radit selau membuat kadar cinta Rain semakin bertambah.


Setelah menyusuri jalan setapak, diantara makam-makam, sampailah Rain di depan dua gundukan makam orang tuanya.


"Mama, Papa! Apa kabar? Rain dateng," lirih Rain sembari meletakkan dua buket bunga di dekat nisan mereka. Sejenak Rain terdiam.


Radit mengusap pelan pundak Rain, ia tahu saat ini gadisnya sedang rapuh, saat mengunjungi makam orang tuanya, Radit pun merasakan hal yang sama.


"Ma, Pa! Ini mas Radit, kekasih Rain. Kami datang kesini berniat meminta restu, mohon restunya ya, Ma, Pa. Kalian bahagia selalu disana." ucap Rain akhirnya bersama dengan air mata yang luruh membasahi pipi.


Radit merengkuh Rain kedalam peluknya, mengusap punggung gadis itu lembut.


Sejatinya yang pergi, tak akan pernah kembali


Yang ada tinggalah kenangan indah terpatri di hati, tapi percayalah!


Di atas sana, mereka melihat dengan jelas di arah mana kita berada, mereka melihat bagaimana kita? bahagiakah kita, mereka tahu...


"Mama, Papa. Bolehkah aku memanggil kalian dengan sebutan itu? sebutan yang sama dengan Rain ketika memanggil kalian?, aku meminta restu untuk menikahi Rain Anastasya, aku berjanji akan selalu mencintainya dan menjaganya dengan seluruh nyawaku." ucap Radit, tulus dari hatinya.


Radit menggenggam jemari Rain, sebelum pada akhirnya pamit.


Setelah mengunjungi makam orang tua Rain, kini giliran Radit berjalan menyusuri setapak demi setapak ke arah makam orang tuanya.


**


Rain masih terdiam, wajahnya masih sendu. Terlebih Radit juga mengajaknya ke makam orang tua Radit yang ternyata satu pemakaman dengan orang tuanya.


Nasib kita sama ya mas, sama-sama yatim piatu sekarang..

__ADS_1


Apa hidupmu juga sepedih hidupku, dulu?


Aku tak sanggup membayangkan, betapa menyakitkannya bertahan hidup sendiri, meski aku juga mengalaminya dan aku tahu persis bagaimana rasa sakitnya...


"Jangan sedih, kita harus ikhlas," Radit menjeda ucapannya, lalu menghapus air mata Rain yang masih saja jatuh.


"Mereka sudah bahagia di sana, dan cinta mereka akan selalu abadi di sini." Radit menunjuk tepat arah hati Rain.


"Tapi,-"


Radit buru-buru membungkam Rain dengan telunjuknya, " Yang terpenting, doa kita tak akan terputus untuk mereka." ucap Radit, dan barulah Rain menyunggingkan senyum, kali pertama Rain merasa lebih baik saat mengunjungi makam orang tuanya, karena keberadaan Radit di sisinya.


Radit mengusap pelan nisan kedua orang tuanya, "Mama, Papa! Radit datang sama calon mantu kalian, Radit gak bawa bunga, Ma, Pa," Radit menjeda ucapannya, menghela napas sejenak.


"Radit bawanya calon istri." Sambungnya lagi dengan seulas senyum kemudian melirik Rain yang sudah merona merah pipinya.


"Hallo Ma, Pa," Sapa Rain, ia masih bingung harus bicara apa.


Rain hanya mengusap lembut nisan nama itu bergantian.


"Cantik kan Ma, Pa?" Tanya Radit, seolah mereka masih hidup dan sedang berbincang bersama.


"Cantik dong, pilihan Radit mana ada yang gak cantik." kekeh Radit.


Betapa tegarnya laki-laki itu, ia masih tersenyum.


Sesaat terdiam, dan pada akhirnya hadirlah sedih itu, Sedih karena Rindu yang tak bisa terobati.


"Radit kangen," Seru laki-laki itu dengan suara parau dan menunduk.


Memiliki sisi manja saat rindu tersekat bukan hanya dengan jarak, tapi dunia yang berbeda.


Semenyakitkan itu?


Mereka berdua larut dalam kesedihan, namun tetap saling menguatkan.


**


"Pulang yuk, udah ya sedihnya?" ajak Rain.


Radit mengulas senyum, lenyap sedihnya terganti oleh senyum manis Rain yang menjadi obat dari segala lukanya.


"Makan dulu ya, mau makan apa sayang, hm?" Tanya Radit kala sudah memasuki mobil.


"Pengen burger." Seru Rain.


"Baiklah, kita mampir mekdi biar kamu seneng."


"Beneran, serius biar aku seneng?" tanya Rain.


Radit mengangguk, lalu mulai memacu mobilnya.


Sampailah mereka di Mekdi, Rain dan Radit turun.


Setelah memesan dua porsi burger dan dua minuman serta dua cup es cream dan dua kentang goreng, mereka duduk mengunggu pesanan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, pesanan sudah tersaji.


Seketika Rain berbinar, "Makan yuk!" ajaknya tak sabar karena sedari tadi perutnya sudah berdemo minta diisi.


Mereka berdua pun makan, dan tak butuh waktu lama untuk Rain menandaskan makanannya, tinggalah satu cup es cream yang akan segera meleleh.


"Makannya pelan-pelan sayang." ucao Radit, kala melihat Rain menikmati es creamnya, namun jutru meninggalkan sisa di sudut bibirnya.


Radit mengambil tisu, dan mengusap pelan sudut bibir Rain.


"Nih cemongkan?"


"Heheheh, iya." Rain nyengir, antara malu dan tersipu.


Begiti selesai makan, mereka kembali pulang, Radit mengantar Rain sampai di pintu apartemennya.


"Sudah, pulang sana!" titah Rain.


"Aku di usir ni, hmm."


"Eh, enggak sayang. Udah malam tapi," Rain melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Astaga Rain, biasanya jam segini baru berangkat kerja, sekarang malah bilang udah malam."


"Iya gapapa yang, kan lagi gak kerja." alibi Rain.


Radit mengacak rambut Rain gemas, " Ya sudah, tidur gih. Mumpung gak kerja, harus banyak istirahat! Aku pulang ya, jangan kangen." Seru Radit.


"Iya iya, kalo kangen nanti aku peluk lewat mimpi." Rain menyunggingkan senyum.


"Sekarang aja peluknya," pinta Radit memelas.


"Enggak mau, wlekk!" Rain menjulurkan lidahnya, membuat Radit semakin gemas.


"Sekarang aja, ya ya ya? ntar nyesel loh kalo gak dipeluk."


Deg!


Rain langsung terdiam mendengar ucapan Radit, seolah akan ada hal buruk terjadi.


Segera gadis itu memeluk Radit erat, sangat erat.


"Janji sama aku, besok kita sarapan bareng." ujar Rain, mendadak hatinya diliputi rasa takut.


"Hmmm,"


"Janji yang bener," pinta Rain masih memeluk Radit.


"Aku nggak bisa janji sayang." Radit melepas pelukannya, lalu mencium kening Rain lama, kemudian pindah ke pipi dan terakhir mencium bibir Rain.


.


.


Kasih sajen kakak, biar semangat up up up❤

__ADS_1


__ADS_2