
"Gak usah sedih, kalo negatif nanti bikin lagi!" bisik sang suami, berhasil membuat wajah sedihnya berubah merona.
"Ishhh, sayaang akutu beneran hamil!" pekik Rain, dicubitnya pinggang Radit keras-keras.
Seketika Radit langsung memeluk sang istri, menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Makasih, sekarang Radit junior ada disini." ucap Radit, mengusap lembut perut Rain yang rata. Bahagia rasanya ketika tau Rain hamil, di tambah lagi dengan hadirnya ponakan baru dari pasangan Sam dan Kamila, rasanya kebahagiaan datang bertubi-tubi dalam hidup mereka.
Radit mengajak Rain duduk, lalu mengambilkan makan siang. Mereka makan bersama.
Selesai makan, Radit mengajak Rain duduk di kursi taman belakang rumah, melihat bunga mawar warna-warni tumbuh subur disana, suasana yang sejuk semoga bisa membawa aura baik.
"Tunggu disini, bentar!" titah Radit, kemudian masuk ke rumah. Tujuannya adalah ke dapur, mengambil sekotak salad buah spesial buatannnya untuk sang istri di dalam kulkas.
"Makan salad buatanku, ya! spesial aku yang buat lo ini, meski nggak seenak buatan Kenia." pinta Radit, kemudian membuka kotak salad itu. "Biar aku yang suapin!" tegas Radit saat Rain hendak mengambil sendok yang dibawanya.
Rain menurut saja, membuka sedikit mulutnya agar Radit dengan mudah menyuapkan salad.
Suapan pertama, berhasil membuat Rain mematung sesaat.
"Ini bukan enak sayang, tapi enak banget!" pekik Rain. Bisa jadi, karena itu buatan sang suami jadi terasa enak, apalagi makan sembari disuapi. Berasa dunia milik berdua, yang lain entah kemana.
Tanpa mau menunggu lebih lama, Rain langsung meraih kotak salad di tangan Radit dan memakannya sendiri.
Dan tak butuh waktu lama untuk hampir menandaskannya, berhasil membuat Radit heran.
"Mungkin karena buatan ayahnya, jadi enak hehe." Radit mengulas senyum, kemudian ia berjongkok dan mengecup perut datar Rain.
**
Esoknya, Rain tak begitu merasakan mual. Tidurnya juga pulas, badannya kembali sehat serta nafsu makannya meningkat dari kemarin sore.
Radit mengajak Rain ke rumah sakit, menengok si keponakan baru, anak Sam dan Kamila.
__ADS_1
Selain itu juga, Radit harus kembali beraktifitas di rumah sakit.
Mobil melesat menuju rumah sakit Hermina, begitu sampai, Rain langsung turun tak sabar melihat baby lucu Kamila.
"Hey, hati-hati sayang, jangan membuatku cemas." pekik radit kala mendapati istrinya ingin buru-buru sampai.
Radit mencemaskan langkah istrinya yang tergesa, dengan cepat menyusul dan meraih jemari mungil Rain. "Pelan-pelan."
Si empu nyengir kuda, lalu memperlambat langkahnya, kini sepasang suami istri itu berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan.
Beberapa suster dan dokter juga menyambut mereka.
Pasalnya, ini pertama kalinya Rain ikut ke rumah sakit setelah menikah.
Setelah meletakkan tas kerjanya, Radit langsung mengajak Rain pergi ke ruangan Kamila, tak lupa tadi ia sempat membeli buah-buahan sebagai buah tangan.
Rain masuk ke dalam ruangan, "Hay, Mila! Maaf aku baru sempat menengokmu!" Serunya mendekat, lalu meletakkan buah di atas nakas.
"Terima kasih Rain, Radit!" ucap Kamila menyunggingkan senyum.
"Sam di ruang bayi, nanti sore baru boleh dibawa kesini anakku." jelas Kamila.
Rain kemudian duduk di samping ranjang Kamila, "Mau makan sesuatu?" tawarnya, melihat Kamila terbaring masih dengan selang infus, Rain merasa iba.
Bagaimana dengan dirinya nanti, hya Kamila melahirkan dengan jalan seccar, jadi untuk sekedar bangun masih sangat susah.
Kamila menggeleng, "Nanti aja!"
"Apa rasanya sakit?" tanya Rain, penasaran bagaimana rasanya melahirkan operasi.
"Tidak terasa, sewaktu operasi!" Kamila menahan senyum. Sedangkan Radit menggeleng-gelengkan kepala, ia cukup tahu ketika banyak pasien mengeluhkan persalinan sc.
"Benarkah, Mil?"
__ADS_1
"Tentu tidak, apa kau pikir tidak sakit." Kamila terkekeh. "Tentu sakit, tapi sakitnya terasa setelah operasi, saat obat biusnya habis barulah terasa sakit, susah bergerak dan gak bisa bangun." Jelas Kamila panjang lebar, Rain bergidik ngeri.
"Sayang, kamu temani Kamila ya, apa tidak apa-apa?" tanya Radit, pasalnya ia harus mengecek keadaan beberapa pasien.
"Gak papa, aku disini aja." ujar Rain.
**
Radit melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, bersama suster menyusuri ruang demi ruang. Mengabsen keadaan para pasiennya.
Termasuk pasien yang beberapa bulan masih bertahan, Ane Emily.
"Syukurlah, perkembanganmu semakin bagus An. Semoga segera sehat dan pulang!" ucap Radit, Ane hanya tersenyum.
Hya, Ane sudah memutuskan tak lagi menggantungkan hidup pada Radit, kesembuhannya berasal dari niat dirinya sendiri.
Ane selama ini hanya memanfaatkan sakitnya untuk mendekati dokter itu, namun kenyataannya sekeras apapun ia berusaha, hasilnya akan tetap sama, Radit bukanlah takdirnya.
Radit kembali ke ruangannya, terlihat Elkan menghampiri.
"Dit, gimana keadaan istri lo?" tanya Elkan.
"Jauh lebih baik, thanks El." Elkan mengangguk senyum.
Lalu mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Radit pamit untuk ke ruangan Kamila menyusul Rain.
Begitu masuk ruangan, sudah ada Sam dan bayi cantiknya yang tertidur di samping ranjang Kamila, Radit melangkah masuk menyapa seisi ruangan. Lalu melangkah ke sofa menghampiri sang istri.
"Kamu pasti lelah, iyakan? apakah anak kita rewel?" tanya Radit seraya mengusap perut sang istri, Rain menggeleng lesu, "Aku takut!" cicitnya pelan, nyaris hanya Radit yang mendengar. Sedangkan Sam dan Kamila, sedang bahagia dengan putri cantik mereka Aurora.
Radit dan Rain memutuskan pamit pulang setelah Rain puas menengok bayi cantik Aurora dan menjenguk Kamila. Namun perasaan mendadak takut, hya Rain sedang dilanda takut sekarang. Mengingat tadi ia melihat Kamila begitu kesusahan bergerak, terlebih saat ingin memberikan asi kepada Aurora.
"Aku takut, jika aku akan mengalami hal yang sama dengan Kamila, apakah aku kuat?" Ragu-ragu Rain mengungkapkan apa yang mengganggu fikirannya.
__ADS_1
"Percayalah, semua akan baik-baik saja, sayang!" Radit berusaha menenangkan, kembali ia memacu mobilnya, menuju rumah.
Like komen dan Votenya kakak🙄😔