
Terkadang, diam adalah cara terbaik menyelesaikan masalah...
Rain anastasya~
Pagi-pagi sekali Radit datang ke apartemen Rain, ia ingin menjelaskan sesuatu.
Tentunya masalah ia mengabaikannya kemarin, Radit merasa bersalah karena tidak memberi kabar pada Rain, ponselnya mati dan saat ponselnya aktif kembali, justru ponsel kekasihnya sulit di hubungi.
Radit memacu mobilnya sedang, sialnya jalanan Jakarta sudah macet sepagi ini.
Arghhh!
Radit kesal hingga memukul stang kemudi.
Hingga setengah jam kemudian, macet mulai mereda. Dan Radit berhasil lolos dari jebakan macet.
Begitu sampai di parkiran apartemen, Radit langsung keluar dan setengah berlari memasuki gedung.
Ting tong, berulang ia menekan bel apartemen Rain, tau sebenarnya Radit dengan pasword apartemen itu, tapi tidak untuk hari ini, loading!
Tak mendapat respon tuan rumah, Radit langsung menekan angka pasword apartemen Rain, pintu terbuka dan ia langsung menyelonong masuk.
"Sayang..."
Panggilnya sembari dengan pandangan mengedar, kali aja kekasihnya sedang di dapur atau dimana.
Namun nihil, Radit kemudian menuju kamar Rain, rupanya gadis itu masih tertidur dengan selimut tebal sampai ke leher.
Namun seketika alisnya bertaut, heran.Disentuhnya dahi Rain, benar saja kekasihnya itu demam.
Pantas wajahnya pucat sekali.
"Sayang,?"
Panggilnya dengan nada lembut, tangannya mengusap dahi Rain. Merapikan anak rambut yang menjadi penghalang wajah Rain yang cantik.
__ADS_1
"Rain, sayang!" panggilnya, kali ini dengan tangan terus mengguncang bahu.
Radit menempelkan punggung tangannya di dahi Rain, dan ternyata kekasihnya sakit demam.
Segera ia ke dapur, mencari air dingin untuk mengompres.
"Eummmmhh." si empu hanya menggeliat, namun dengan mata masih terpejam.
"Kamu pasti nungguin aku ya, iyakan. Apa kamu mabuk lagi." Gumam Radit.
Ia duduk disisi ranjang sembari terus mengompres dahi Rain.
"Kalo liat wajah kamu itu, jadi pengen cepet-cepet nikahin deh." Radit terkekeh pelan.
Jika dulu Kenialah, satu-satunya wanita yang akan ia jadikan istri, namun kandas.
Kini ia meralat lagi ucapannya, Radit ingin jika Rainlah satu-satunya hujan di dalam hidupnya, hujan yang menjadikan sosok Radit tetap berdiri tegak di bawah rerintikan, hujan yang selalu bisa menutupi setiap kesedihan.
**
"Sayang, udah bangun?" seru Radit namun dengan nada lembut.
"Kenapa, kangen ya?" yang di goda langsung memalingkan wajah, pipinya merona merah.
"Cie kangen cie, sehari enggak ketemu aja udah kangen, iya kan?" goda Radit lagi, membuat Rain langsung mencubit tangannya.
"Aku tu sakit beneran." Rengeknya mode manja.
"Benarkah, sakit beneran apa sakit rindu?" goda Radit.
"Aaaa, mas Radit kemarin kemana aja, hm???"
"Tuhkan ketahuan, kalo kangen." Radit langsung menangkup kedua pipi Rain dengan gemas.
"Aku itu, cuma khawatir." alibi Rain.
__ADS_1
Memang benar, kemarin Rain sangat khawatir karena biasanya Radit selalu mengabari.
"Aku ke tempat Kenia sayang." Bukan cemburu, Rain juga tau kemarin Kenia melahirkan, tapi ia fikir Radit akan mengabarinya.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, kamu kenapa bisa demam, hm?"
Rain hanya meringis, sembari memindahkan tangan Radit yang terus menempel di dahinya, ia merasa baik-baik saja, tidak sakit!
"Aku baik-baik saja, aku cuma kebanyakan minum."
"Tuhkan minum lagi, ngeyel." omel Radit, ia menjewer telinga Rain gemas.
"Sakit, sayang." rengeknya minta ampun.
Radit bangkit kemudian pergi ke dapur, ia akan membuatkan sarapan untuk kekasih tercintanya.
Lama berkutat, kini Radit sudah berada di ruang makan menyiapkan sarapan dan susu.
Kemudian kembali ke kamar, mengajak Rain sarapan.
Gemericik air hujan di pagi hari membuat keduanya langsung bersitatap.
"Kok hujan sii." keluh Rain.
"Iya, soalnya tadi mendung si, sarapan yuk."
Rain mengangguk, membersihkan diri kemudian menikmati sarapan pagi bersama sang kekasih.
**
Dan saat sarapan usai, Radit dan Rain menikmati pemandangan hujan dari balkon.
"Rain, kamu dan hujan itu sama."
Rain langsung cemberut, jelas sama karena arti dari namanya adalah hujan.
__ADS_1
Rain diam sesaat, " Kan gombal."
"Eh." Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memang sejak bersama Rain ia lebih sering menggombal, meski itu adalah cara ia mengungkapkan perasaannya.