
Ane Emily, gadis malang yang sejak dua bulan yang lalu koma karena kecelakaan tragis yang menimpanya, calon suaminya meninggal saat itu juga.
Setiap hari Radit berusaha untuk datang, sesekali meski hanya untuk mengecek keadaan gadis malang itu, karena orang tua Ane menitipkan Ane padanya.
*Flashback on*
"Saya mohon dok, bantu Ane. Beri yang terbaik untuk pengobatannya! meski saya tau kemungkinan ia kembali sangat tipis." Orang tua Ane sampai memohon.
"Saya akan usahakan semaksimal mungkin untuk Ane, saya janji." ungkap Radit.
"Jika Ane bangun, bolehkah saya minta satu hal lagi dokter? tolong bantu Ane agar kembali semangat menjalani hidupnya, saya takut." ucapan orang tua Ane menggantung.
"Saya paham apa yang anda maksud nyonya, tapi ini hanya untuk kesembuhan Ane bukan hal pribadi."
"Tidak masalah, setelah Ane sembuh. Saya akan membawanya pergi dari kota ini."
*Flash back off*
Radit menggelengkan kepalanya pelan, sejak Ane bangun ia terus terngiang permintaan orang tua gadis itu.
Hingga tak terasa sudah dua hari ia tak bertemu dengan Rain.
Rain kamu sedang apa, hmm. Apa kamu merindukanku, apa kau memikirkanku. Fyuhhh! mendadak aku merindukanmu.
Apa aku ke apartemennya aja ya, tapi Ane. Huh! mana emaknya tadi pulang lagi.
Radit bingung, di satu sisi ia ingin sekali bertemu Rain disisi lain, Ane membutuhkannya.
Sepagi ini bahkan ia sudah melamun di ruangannya.
**
__ADS_1
"Pagi An, bagaimana keadaanmu hari ini." hanya itulah yang selalu Radit tanyakan kepada Ane, tak ingin menguak hal yang menyangkut pribadi, lagi pula itu bukanlah urusan ia sebagai dokter.
"Sepertinya saya sudah pulih dok, bisakah anda mengantar saya keluar, sungguh! saya ingin menghirup udara segar di taman." ungkap Ane memohon.
"Ehm, maaf Ane tapi saya ada pekerjaan lain. Pasien saya banyak, kamu sama suster aja." ucap Radit lalu memanggil salah satu suster di dekatnya.
"Tolong temani Ane ke taman ya sus!" pintanya.
"Baik pak Radit!" kemudian suster itu memapah Ane ke kursi Roda.
Tiba-tiba dari jauh Rain setengah berlari menghampiri.
"Mas Radit." ucap Rain dari jauh dengan bibir mengerucut.
"Ishhh, kenapa dia menggemaskan sekali sih, meski hanya dengan pakaian biasa seperti itu, dia selalu cantik." gumam Radit pelan.
Ane menggerutu kesal, melihat Rain begitu dekat dengan Radit.
Padahal sengaja ia meminta Radit menemaninya ke taman agar ia lebih leluasa dekat dan mengobrol dengan dokter tampan itu.
Kenyataannya sekarang di taman ini, ia hanya ditemani oleh suster yang merawatnya.
"Mas Radit, kenapa tidak menemuiku akhir-akhir Ini. Aku bawa sarapan buat kamu mas." ucap Rain seraya memperlihatkan tas kecil yang berisi kotak bekal.
"Apa kau merindukanku, hmmm?"
Rain memutar bola matanya malas, dokter tampan itu terlalu percaya diri rupanya.
"Ayo keruanganku, kita sarapan bareng." Radit meraih jemari Rain dan menggadengnya.
__ADS_1
"Ini ruanganku Rain, maaf dua hari ini aku sibuk mengurus pasien pasienku." ungkap Radit, ia mendesah berat.
"Baiklah tak masalah, ayo kita sarapan dulu." Rain membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekal yang ia isi dengan roti panggang kesukaan Radit.
"Kau pasti belajar sangat keras untuk membuatkanku roti panggang ini, rasanya lebih lezat dari buatanku Rain." Radit terus menikmati roti panggang itu.
"Ck! sudah ku bilang aku ini pintar masak mas."
Tak masalahkan memuji diri sendiri, Rain kemudian ikut mengunyah.
"Kalo begitu cocok dong jadi calon istri." celetuk Radit.
Uhukkk...
Seketika Rain tersedak, buru-buru Radit mengambilkan minum dan menyodorkannya pada Rain.
"Minumlah!" titahnya.
Rain menegak air pemberian Radit hingga tandas.
"Makanya pelan-pelan Rain, muka kamu merah gitu kenapa, hmmm?"
"Terus saja kau menggodaku."
"Aku tidak sedang menggodamu, aku selalu serius dengan ucapanku." Radit menatap lekat Rain.
Deg !
Rain merasa jantungnya berdebar-debar tak karuan, padahal dulu biasanya jika ia bersama Radit tak seperti ini.
Apa jantungnya benar-benar bermasalah, ataukah memang ia mencintai dokter Radit???
__ADS_1
~~♡♡~~