BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Maaf


__ADS_3

Rain mencoba menghubungi Angga lebih dulu, memastikan apakah nomer yang sedari dulu ia simpan masih aktif.


Masih aktif ternyata, semoga ia mau memaafkanku...


Rain mulai mengirim pesan ke nomor tersebut, berharap Angga mau bertemu dengannya.


Rain : Hay Ngga, ini aku Rain..


Bisa kita bicara, ada hal yang ingin aku sampaikan, nanti malem datanglah ke caffe Lazora jam tujuh. Aku tunggu!


Pesan terkirim, Rain berharap Angga mau menemuinya.


Setidaknya Rain sudah berusaha, ia tak ingin hidup dalam kesalahan.


Rain kembali merebahkan diri, berharap ia akan terlelap agar ia bisa menyimapn tenaganya.


***


Sisi lain di rumah Angga, ia menatap nanar pesan singkat dari mantan kekasihnya itu, sebenarnya tidak ada kata putus diantara mereka, Angga masih menganggap Rain adalah wanita yang begitu spesial di matanya.


Namun entah, sepertinya hubungannya dan Rain sudah berakhir sejak wanita itu pergi dari hidupnya.


Angga pun membalas singkat pesan itu,


Angga : Okee...


Angga menghela nafas, kemudian ia beranjak pergi ke warung seperti biasa membantu ibunya.


***


Sesuai janji yang harus di tepati, Radit kembali ke apartemen Rain pukul lima sore.


Radit menekan bell pintu, lama tak mendapat respon segera. Radit memilih menekan sandi pintu apartemen Rain lalu masuk.


Dilihatnya kamar Rain masih terbuka, ia nyelonong masuk begitu saja.

__ADS_1


Anggap aja punya sendiri..


Mungkin seperti itu yang ada difikiran Radit.


"Astaga Rain, masih pules tidurnya.


Kamu tidur apa pingsan." gerutu Radit.


Sejenak ia memegang kening Rain, memastikan wanita itu baik-baik saja.


Radit memilih menunggu Rain bangun dengan menikmati sore di balkon kamar kekasihnya itu.


Ehh apaan sih main klaim aja Rain kekasihku...


Radit menggeleng-gelengkan kepalanya saat sadar ia sedang memikirkan Rain.


Namun wanita itu lebih dulu memergokinya bertingkah aneh.


"Sejak kapan mas Radit datang?" tanyanya dengan muka bantal khas bangun tidur.


"Emm, nanti aku mau ketemu sama Angga, em- itu ?!"


"Mau aku temenin." tawar Radit.


Rain mengangguk setuju, ia bisa menjadikan Radit alasan tanpa harus menjelaskannya kepada Angga.


"Aku bersiap dulu." ucap Rain kemudian berlalu ke kamar mandi.


Radit menelan ludahnya kasar saat wanita tersebut keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimononya, ia segera memalingkan wajahnya ke luar.


Pemandangan senja yang terlihat indah itu kini perlahan memudar berganti malam.


Rain mengambil baju kemudian berlalu ke ruang ganti, setelah selesai ia memoles tipis wajahnya.


__ADS_1


Rain memang cantik, mau pakai pakaian apapun.


"Selesai." ucap Rain mengulas senyum.


Radit di buat terpana oleh gadis itu,


"Cantik." gumamnya pelan.


"Apa mas?" tanya Rain yang tak mendengar jelas ucapannya.


"Enggak, ayo berangkat."


Radit dan Rain pun akhirnya berangkat menuju caffe Lazora tempat dimana ia akan bertemu dengan Angga.


Benar saja, begitu sampai laki-laki itu sudah berada disana.


Angga menatap lekat Rain dan Radit bergantian setelah sepasang manusia itu menghampirinya.


"Duduk Rain, mas." titahnya kemudian.


"Rain, duduklah. Aku akan keluar sebentar." ucap Radit kemudian memilih pergi, terus terang ada perasaan aneh mengusik kala melihat Rain dan Angga bersitatap.


Rain mengangguk, ia kemudian duduk tepat di kursi depan Angga.


Radit memilih duduk di kursi pojok yang agak jauh dari tempat Rain berada, ia tak ingin ada kecanggungan diantara mereka karena kehadirannya.


*Ahh sial, ini bukan cemburukan ??


lagipula Rain bukan siapa-siapaku, tak akan aku cemburu.


Tapi kenapa aku malah kesel sendiri liatnya, aku bahkan belum siap jika Rain memilih kembali bersama Angga*.


Radit mengerang frustasi, tangannya mengusap wajah kasar.


Hallo readers sayang, terima kasih sudah mampir di ceritaku, jangan lupa tinggalkan like komen dan Vote agar aku semangat up lagi😊

__ADS_1


__ADS_2