BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Amarah yang memuncak


__ADS_3

Mata bertemu mata, untuk seperkian menit mereka saling bertatap. Maura dengan ketidak percayaannya dan Zain dengan pengaruh obat. Meski kilat gelora penuh damba tersirat, Maura belum bisa sepenuhnya yakin pada Zain. Gadis itu tak tau jika Zain, berada dalam pengaruh obat jebakan adik iparnya.


Keduanya saling meluap, memeluk dalam kenik matan.


Zain tersenyum, kala berhasil menerobos pertahanan Maura untuk pertama kali. Susah payah ia melakukannya dengan sedikit kasar hingga membuat Maura meringis dengan sudut mata berair. Menangis bahagiakah? atau ia akan kecewa jika Zain melakukannya tanpa kesadaran penuh.


Keduanya larut, tak ada yang membantah sama sekali baik Maura ataupun Zain. Hingga satu jam berlalu dan akhirnya mereka mencapai puncak kenik matan tiada tara.


Ambruk dengan saling memeluk dan mata terpejam.


Lalu tanpa sadar Zain berpindah ke sisi Maura dan tidur tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh.


Kepala pusing, membuatnya meringis berulang kali. Saat membuka mata, Zain langsung tersentak pada sosok polos yang kini berada di sampingnya.


"M-Maura," Dengan bergetar ia mengusap wajah itu, wajah wanita yang selalu mengusik diri dan membuatnya goyah akhir-akhir ini. Sejauh apa ia berusaha menghindar, kenyataan justru terjadi diluar kesadarannya.


"Maaf Maura," ia meraba sprei guna mencari jejak bercak darah, benar saja ia berhasil merenggut kesucian sang istri saat melihat jelas bercak darah tercetak di sana.


"Kak Zain," suara lirih Maura terdengar, ia semakin menunduk dalam-dalam karena merasa bersalah.


"Kak," Maura berusaha menyentuh bahu milik Zain. Namun, teehenti karena Zain buru-buru bangkit memunguti pakaiannya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Maura semakin tidak mengerti akan sikap Zain, entah lama-lama ia juga menyerah karena lelah.


"Bersiaplah, kita akan pulang." suara bariton itu terdengar tegas, Maura mengangguk saja lalu melakukan hal yang sama, berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Selesai," ucap Maura datar dengan kepala tegak seolah tak terjadi apa-apa.


Aku perempuan, aku berhak marah jika dipermainkan, aku berhak berontak, dan mulai sekarang aku akan menjadi diriku sendiri, tak peduli bagaimanapun hubungan keluarga kita, jika masih seperti ini mungkin akan aku fikirkan untuk mengajukan perceraian.


Batin Maura, ia menyembunyikan sedihnya dan mengikuti langkah Zain dengan diam. Bahkan saat di dalam lift hanya berdua, mereka masih enggan saling membuka suara.


Sampai pada akhirnya tangan kekar Zain membukakan pintu mobil untuk Maura.


***


"Aku tak ingin pulang, antar aku ke rumah ayah."


ucap Maura datar.


"Kita tidak bisa menginap, pekerjaanku di rumah banyak." tolak Zain, "Bukan kita, tapi aku. Terserah kamu mau bagaimana? aku nggak perduli." ucap Maura, ia berusaha sekuat tenaga mengucapkannya.


"Kalian dateng kok gak bilang-bilang, gimana acaranya?" sambut Rain sumringah. Zain mencium tangan mertuanya dengan sopan, lalu pandangannya mengedar mencari dimana sosok ayah mertuanya.


"Maura kangen, Ma." ucap Maura seraya memeluk mamanya erat, ingin sekali mwnangis dan menumpahkan semuanya. Tapi itu tidak mungkin.


"Ayah mana, Ma." tanya Zain, saat tidak melihat sosok ayah begitu masuk ke dalam rumah.


"Ayah di rumah sakit, cari kesibukan." ucap Rain. Zain mengangguk saja, "Ma, Maura nginep sini mungkin beberapa hari. Kak Zain sangat sibuk, jadi dia pulang sekarang." ucap Maura.


"Iyakan kak?" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Eh, iya, Ma."


"Loh kok buru-buru, nak. Tidak menginap dulu?" tanya Rain, Zain menggeleng.


"Kerjaan Zain numpuk, ma. Dan papa lagi di rumah Devano sekarang." ucap Zain berterus terang.


Kini keduanya berada di kamar Maura, karena Rain memintanya istirahat barang sejenak sebelum pulang.


"Kak Zain pulang saja." titah Maura, jujur ia sudah tak bisa menahan air matanya. Namun, tetap ia sembunyikan dengan menatap lurus balkon kamar.


"Kamu kenapa jadi marah-marah," kesal Zain, Maura memutar tubuhnya, kini kedua netra itu bersitatap. Maura berkaca-kaca, "Kenapa aku marah?" tanyanya dengan senyum masam,


"Kamu yang marah, kamu seenak hatimu, kamu diam aku masih bisa terima, itu yang kamu bilang aku marah. Aku marah dari segi apa? selama ini aku berusaha ngerti, kamu tidur di kamar lain pun aku tutupi, lalu kamu anggap aku ini apa? bahkan setelah menyetuhku kamu masih bersikap seolah tidak ada apa-apa, kenapa?"


Zain terkesiap, ia tak menyangka jika selama ini Maura menahan diri. Zain berlutut, ia tak tau harus menjelaskan seperti apa, mungkin Maura butuh waktu karena sudah terlanjur kecewa.


"Maaf, aku bodoh. Maafkan aku." ucap Zain memohon, "Pulanglah, aku ingin sendiri." ucap Maura, Zain mendongkak lalu bangkit.


Greppp, ia memeluk Maura erat, gadis itu terisak-isak dan memukul dada Zain.


"Kamu jahat, kak! kamu sama saja dengan Reynan." Maura menangis tersedu-sedu sembari memukul dada Zain kuat-kuat.


Setelah tenang, Zain pamit pulang. Meninggalkan istrinya di rumah orang tuanya, membiarkan Maura tenang, setelahnya baru ia akan menjemput. Zain tahu, Maura butuh waktu. Zain menuruni tangga bertepatan dengan kepulangan Radit. Namun, ia harus buru-buru pulang karena pekerjaan. Radit pun makhlum.


Maura memilih tidur, membiarkan Zain turun sendiri dan pulang. Ia benar-benar lelah, lelah hati dan fikiran. Lalu suara ketukan berulang membuatnya gegas bangkit.

__ADS_1


"Sayang," suara mama Rain di luar terdengar lembut dan menenangkan.


__ADS_2