
Maura berlari, hingga tak memperdulikan Zain yang terus mengejar juga memanggilnya, hingga saat kakinya sampai di luar gedung menjulang tinggi, tepatnya di taman tempat jauh dari kerumunan, barulah ia ambruk bersama dengan isak tangis.
"Hiks..hiks..hiks.." Zain mematung tepat di belakang tubuh Maura yang terisak, tangannya ingin sekali merengkuk gadis itu ke dalam peluknya lalu menenangkannya, namun lagi-lagi ia hanya mematung, membiarkan Maura menangis.
"Menangislah, agar hatimu lega. Luapkan semuanya, tapi setelah ini jangan pernah menangisi laki-laki seperti Reynan." ucap Zain, lalu tiba-tiba ia meraih Maura agar bangkit lalu membawanya ke dalam pelukan.
Maura mengusap air matanya kasar, lalu kembali menunduk. "Aku tidak menangis, itu tadi hanya reflek. Dan itu bukan kemauanku." Elak Maura, padahal jelas-jelas Zain menyaksiksan sendiri bahwa gadis itu menangis tersedu-sedu.
"Kalo begitu ayo kita pulang." Zain membawa Maura menuju mobil, bersama dengan itu Rey menatap kepergian mereka dengan tangan mengepal erat.
"Maura, secepat itukah kamu berpaling dariku.."
Reynan kesal, menerima kenyataan bahwa Maura tak lagi bersamanya, buta! Mungkin selama ini ia tak bisa melihat ketulusan Maura, cinta Maura yang bersembunyi rapi dibalik kepolosannya, justru semakin membuat Rey menyesali kesalahannya.
__ADS_1
"Mar, maafin aku! Aku udah nyakitin kamu." cicit Reynan, bersama dengan itu hujan turun. Seolah langit tahu, saat ini ada hati yang sedang sakit.
Di dalam mobil, Zain terus memperhatikan Maura, tapi gadis itu memilih diam sembari memandang ke arah luar jendela.
"Udah Mar, jangan nangis! Nanti kalo om Radit khawatir ngelihat kamu kayak gini, please!"
Kenyataannya, Maura sama sekali tak bergeming, ia masih diam dengan fikirannya yang entah kemana, air matanya masih setia menetes. Menghiraukan ocehan Zain yang terus memintanya berhenti bersendih.
"Kenapa, kamu gak mau aku nangis disini kan kak? kalo gitu turunin aku, biar kamu nggak lagi liat aku nangis." cicitnya dengan nada melemah.
"Berhenti kak, udah stop!" Pekik Maura, "Aku mau turun." ucapnya disertai isak yang semakin menjadi, "Hik..hik..hik... laki-laki sama sajaa." gerutunya lagi.
Zain menghela nafas, "Oke, menangislah! Sepuasmu, asal ini yang terakhir. Aku mohon, kamu pantas bahagia." baru kali ini Zain, terlihat begitu perduli dengan Maura, bahkan berbicara panjang lebar, sebelumnya jika bertemu, Zain hanya bicara seperlunya, bahkan enggan berbasa-basi.
__ADS_1
Maura menatap Zain, ada ketulusan dibalik ocehan laki-laki di sampingnya itu, namun Maura bukanlah wanita yang mudah membuka hati, terlebih Reynan adalah satu-satunya laki-laki yang menerimanya.
"Mar, udah ya." lirih Zain kemudian meraih tubuh mungil Maura ke dalam pelukannya, "Ada aku, iya ada aku yang akan selalu ada disisimu mulai saat ini." kata-kata simple yang nyatanya mampu menenangkan perasaan Maura saat ini, Zain si penyelamat hati.
Zain kemudian mengangkat tangannya, menyentuh pipi Maura lalu menghapus air mata di pipi gadis itu, "Jangan nangis, nanti cantiknya ilang." ucapnya lagi barulah Maura mengangguk.
Zain kembali melesatkan mobilnya kembali menuju rumah om Radit, begitu sampai di tempat kini Zain dibuat mematung, seolah darah dalam tubuhnya mendidih melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu mengobrol dengan om Radit dan juga Rain. Kemudian ia menggenggam erat tangan Maura, gadis itu pun memdongkak, saat jemari Zain mengampit jari-jarinya, namun saat matanya menangkap sosok Reynan berada di rumahnya, hatinya kembali ngilu.
"Ayo masuk." Ajak Zain, Maura langsung menggeleng, "Nggak, aku nggak mau kak." cicitnya. Ia masih bertahan di teras rumah dengan tangan bersedekap menahan dinginnya angin, terlebih hujan sedang turun.
"Hey, kan aku sudah bilang! Ada aku." seru Zain lalu menarik tangan Maura dan membawanya masuk ke dalam.
"Astaga Rain, lihat Reynan dia sedari tadi menunggumu." ucap Radit, dengan senyum. Andaikan ia tahu jika laki-laki di hadapannya adalah orang yang telah membuat hati anaknya sakit, mungkin suasananya akan berbeda.
__ADS_1
"Zain, duduk. Ini Reynan kekasih Maura." Ucap Rain memperkenalkan, sedang Zain masih berdiri dengan tangan terus menggenggam jemari Maura.
"Mar, maaf aku datang tidak mengabarimu lebih dulu. Aku nggak tau kalau kamu sedang keluar bersama seseorang, em." ucapnya sambil melirik ke arah Zain. Pantas ia menjadi aktor, sungguh sandiwara yang sempurna bukan?