BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Dion dan Viona


__ADS_3

Dion tampak gusar, disatu sisi ia bahagia pada akhirnya hubungan Radit dan Rain bukan hanya sekedar perjanjian atau palsu semata.


Meski pertemuan mereka menyisakan kenangan buruk, tapi Dion bersyukur Radit benar-benar sudah move on dari Kenia.


Meski wanita yang Radit cinta saat ini adalah Rain Anastasya.


Disisi lain, ia baru sadar jika merasakan patah hati setelah Rain resmi menjadi kekasih Radit, tadi Radit sempat memberi kabar lewat wa. Dan mungkin lagi, Rain tak akan masuk kerja nanti malam.


Siapa sih yang bisa menolak pesona Rain, bartender seksi kesayangan Dion di kelab.


Bahkan tak sedikit wanita pekerjanya iri dengan kedekatan Rain dengannya.


Namun karena kecerobohan Dion, Rain hampir saja dijebak oleh Neta.


Wanita yang sangat terobsesi padanya.


***


Dion memacu mobilnya melesat ke caffe pelangi, mungkin terlihat aneh jika ia mengencani Viona.


Tapi bagaimana lagi, Rain telah mematahkan hatinya, padahal dari awal ia tak tertarik pada sebuah hubungan, karena bagi Dion pacaran itu rumit.


"Maaf pak Dion saya telat." Viona baru saja duduk dengan wajah panik, ia masih bingung kenapa bossnya tiba-tiba minta bertemu di caffe.


Bagi Viona, ini pertama kalinya ia bertemu Dion di luar kelab.


"Gapapa Vi, santai." Dion memijat pelipisnya dengan posisi duduk bersandar di kursi.


"Ngomong-ngomong, ada apa ya pak? bapak meminta saya bertemu disini." Viona memberanikan diri bertanya.


"Emt, buat teman ngopi." Sahut Dion santai.


Berbeda dengan Viona, ia tampak kaget. Meskipun ini adalah impiannya sejak dulu, kencan bersama Dion.


Viona sudah lama mengagumi Dion, hanya saja ia sadar diri akan perbedaan dan jarak antara ia dan Dion.


Rasanya tak pantas jika ia mengejar cinta boss nya, dan alhasil Viona hanya bisa mencintai dalam diam.


"Ngo-- ngopi pak ?" Viona mengernyitkan dahi.


Dion mengangguk dengan seulas senyum, ia meneliti sosok Viona dari atas sampai bawah.


Tak kalah cantik sebenarnya dengan Rain.


Viona justru terlihat imut, dan muda.


Sedangkan Rain lebih cocok sebagai wanita dewasa.

__ADS_1


"Mbak..." Dion melambai pada salah satu pelayan.


Seorang pelayan wanita datang menghampiri lalu menyodorkan buku menu.


"Cappucinno satu, kamu mau pesan apa Vi."


"Em, samain pak Dion aja."


"Mau ngemil enggak,?


"Boleh pak."


Viona tampak canggung, antara seneng tapi juga malu.


Dion memutuskan memesan dua capucinno dan juga camilan.


"Udah makan?"


Viona hanya menggeleng sembari menyunggingkan senyum.


***


"Rain.."


"Eh maksudku, Viona. Maaf, kebiasaan aku." Dion tampak kikuk.


Pesanan datang, Dion meraih capucinno dan mengesapnya.


"Jangan canggung Vi, yaaaa anggap aja kita teman."


"Tapi pak."


"Ssstttt..... Oh ya Vi, mungkin Rain enggak akan masuk nanti malem, jadi kamu gapapa kan sendiri, nanti aku bantu deh."


"Gapapa pak, udah biasa."


Lama mereka mengobrol, lalu akhirnya Dion memutuskan mengajak Viona jalan-jalan ke Mall.


**


"Sering kesini juga," tanya Dion ketika masuk loby Mall.


"Iya, tapi sama Rain pak."


Dion manggut-manggut, lalu ia menggandeng Viona.


"Eh..." Viona gugup, debaran jantungnya meningkat.

__ADS_1


"Ehh, gausah malu. Kan kita temen. Anggap aja di luar kita emang temen," Dion mengajak Viona menonton bioskop.


Nasibnya emang lagi jelek banget karena ketemu Neta.


"Pak Dion, Viona." Panggil Neta dari jauh.


Dion langsung narik Viona pergi, berharap Neta tak bisa menemukannya.


"Ngapain kita sembunyi pak." tanya Viona dengan polosnya.


"Males aku sama tu anak, rese."


"Rese?" Viona semakin tak mengerti.


"Dahla Vi, ceritanya panjang banget. Mau aku pecat waktunya belum pas, dan kita juga lagi cari karyawan belum dapet-dapet."


Setelah berhasil meloloskan diri dari Neta, mereka segera memesan tiket nonton.


Dion mengajak Viona menonton film bergenre horor.


Karena mau nonton film romantis pun gimana, takut Viona makin canggung.


Disisi lain, Neta emosi karena tak berhasil menemukan Dion.


Ia kesal, padahal sedari dulu ia mengejar Dion.


Tapi kenyataannya, cintanya tak pernah sampai.


.


***


Radit sedang menikmati waktunya bersama Rain, dua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu sangat bahagia.


"Rain, nikah yuk." Radit menggenggam tangan Rain lalu menciumnya.


"Kapan?" tanya Rain dengan polosnya.


"Sekarang."


"Aku serius sayang." Rain menekuk wajahnya.


"Secepatnya, aku pasti nikahin kamu Rain." Kembali Radit memeluk Rain.


"Mas..." tak ada sahutan, Rain pun mendongkak melepas pelukan.


"Panggil sayang, hmmm."

__ADS_1


"Iya-iya sayang." Rain mencubit pinggang Radit gemas.


__ADS_2