BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2- Engagement


__ADS_3

Dear!


Sebelumnya aku kasih tau Novel ini sambung menyambung dengan Novel Tante kesayangan tuan muda!


Jadi, maaf bila ada kesamaan dialog, atau kalimat hanya saja ini menceritakan dari sudut pandang Zain dan Maura๐Ÿ‘Œ๐Ÿป


Selamat membaca ๐Ÿ˜Š


***


Di depan cermin, Maura berulang kali mematut diri, menempelkan beberapa koleksi dress terbaiknya, bingung memilih warna apa yang cocok ia pakai untuk menghadiri pernikahan Nora, hya tepat hari ini Nora akan melepas masa lajangnya, menikah dan menyerahkan hidupnya untuk Devano Aldeva.


"Sayang sudah belum?" terdengar suara lembut Rain diiringi ketukan pintu yang berulang.


"Belum ma, masuk sini gih. Maura lagi bingung." ucap Maura seraya membuka pintu.


"Astaga sayang, kamu belum siap?" tanya sang mama saat melihat Maura dan kimono yang melekat di tubuhnya.


Maura nyengir kuda, " Pilihkan yang cocok untukku ma, aku bingung." desahnya menunjuk beberapa dress tenggorok di atas ranjang lengkap dengan gantungannya.


"Padahal putri mama selalu cantik memakai warna apapun." puji Rain, namun dengan langkah mendekati ranjang dan memilah-milah dress mana yang cocok untuk putri tersayangnya.

__ADS_1


"Sepertinya ini sayang." ucap Rain menyodorkan satu buah dress.


"Pilihan mama terbaik," ucap Maura langsung menerima dress yang di pilih oleh Rain langsung dengan sumringah dan gegas ia melangkahkan kakinya ke ruang ganti.


Setengah jam kemudian, Maura sudah siap dengan dress cantik yang membalut tubuhnya, menghampiri sang mama dan ayah yang telah menunggu di dalam mobil untuk perjalanan menuju rumah Nora.


Sampai disana, lagi dan lagi keluarga menyambut kedatangan Maura dan keluarga dengan sumrigah, namun ada satu hal yang begitu meyayat disaat yang bersamaan. Hya, Reynan hadir mendampingi Aurora di pernikahan Nora, sungguh situasi yang sangat membagongkan.


"Hai, Maura." sapa Aurora memiringkan senyum, sedangkan Reynan mematung terpesona akan kecantikan Maura yang terlihat berbeda.


Maura memilih diam dan berlalu mengabaikan Aurora pun Reynan.


"Aku rasa kau melupakan status kami yang masih ada ikatan keluarga." decak Aurora kesal, saat Reynan lebih mengerti perasaan Maura ketimbang dirinya.


"Senyumlah, dan ikut aku mengucapkan selamat untuk pengantinnya, apa kau percaya, laki-laki yang sedang menikahi sepupuku itu masih sekolah SMA." ujar Aurora sembari menarik paksa Reynan.


"Sekolah? menikah? hebat sekali." gumam Rey tanpa sadar.


"Selamat ya Nora, gue nggak nyangka kalo selera lo berondong, masih sekolah lagi." ucap Aurora sembari terkekeh, sekedar bercanda namun tanggapan Nora bak sebuah ejekan.


"Selamat ya Nora, doa terbaik untukmu. Jangan dengarkan ucapan orang yang mengganggu perasaanmu, bukankah yang terpenting itu tidak merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain." serobot Maura sembari melirik Aurora yang berubah kesal.

__ADS_1


"Siap Maura doa terbaik juga untukmu." sambung Nora kembali tersenyum.


Namun, tiba-tiba Zain menarik tangan Maura dan membawanya ke hadapan semua orang. Senyum terbit di bibir Radit, saat melihat anak cantiknya kini berjalan bersama Zain dengan tangan saling bertaut.


"Jadi istriku," ucap Zain tanpa embel-embel keromantisan atau kata pembuka sekalipun.


"Di depan semua keluargaku, aku mau kamu jadi istriku, maukah?" ulangnya meyakinkan.


Maura menatap kedua orang tuanya yang tengah duduk di kursi, pun juga orang tua Zain. Merasa mendapat lampu hijau dari mereka, Maura akhirnya mengangguk.


"Mau," jawabnya pun singkat, namun dengan senyum tercetak tipis di bibir mungilnya.


Gegas Zain mengeluarkan kotak berisikan dua cincin, " Ini akan menjadi tanda bahwa kamu adalah calon istriku, aku telah mengikatmu." ucap Zain seraya memasangkan cincin di jari manis Maura.


"Terima kasih," ucap Maura seraya menyentuh cincin pemberian Zain, "Aku akan menjaganya dengan baik." gumamnya pelan.


Suara riuh tepuk tangan juga turut mengiringi kebahagiaan mereka.


Kebahagiaan yang sempurna!


Berbeda dengan Reynan yang merasa dicurangi, ia mengepalkan tangannya kuat, bahkan saat tangan Aurora mencoba meraihnya, gegas pemuda itu menepis dan memilih pergi meninggalkan pesta.

__ADS_1


__ADS_2