
Pagi-pagi sekali Radit sudah rapi, ia membuat Roti panggang dan segelas susu untuk sarapan.
Semalam ia menemani Rain bekerja, dan hari ini ia akan kembali.
Sudah tiga hari ia cuti, rasanya masih kurang.
Bisa saja ia suruh asistennya menghandle rumah sakit, tapi biar bagaimanapun Rumah sakit Hermina adalah hidupnya, dulu separuh waktunya bersama rumah sakit itu.
Mungkin jika sekarang ia memilih bersantai, itu bukan karena ia malas.
Melainkan karena ia tak ingin lagi, kehilangan cinta untuk kedua kalinya.
Radit memarkirkan mobilnya, Lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
"Pagi dok," sapa para suster yang berpapasan dengannya.
"Pagi." Radit menyunggingkan senyum, langkahnya berhenti di sebuah ruangan kerjanya.
"Sus," panggil Radit pada Sania, asisten yang dulunya hanya seorang perawat di rumah sakit ini.
"Iya pak Radit, selamat pagi." Sania membungkukkan badan.
"Selamat datang kembali." Sambungnya.
Radit melangkah, lalu duduk di kursinya.
Ia membuka laporan rumah sakit, lalu menatap Sania.
"Apa ada yang mencariku, selama aku cuti."
Tanyanya, ia fikir gadis bernama Ane itu akan mengganggunya lagi, mengingat sudah lama ia menjadi penghuni rumah sakit ini.
"Ada pak, ehmmm...." Sania memijat pelipisnya, berusaha mengingat sesuatu.
"Dia laki-laki tampan, mencari anda." jawab Sania.
"Laki-laki, mungkinkah Elkan? atau..."
Radit tampak berfikir, siapa yang mencarinya di rumah sakit, tamun tiba-tiba netranya membulat kalau mengingat sesuatu.
Kemarin Elkan bilang Kenia sudah waktunya melahirkan.
Segera Radit mengganti pakaiannya, ia akan tanya ke resepsionis.
"Hay sus, apa ada yang mencari saya." buru Radit.
"Pagi pak, ehmm tiga hari yang lalu ada laki-laki mencari bapak."
__ADS_1
"Apa dia memberi tahu namanya,"
"Tidak pak, ia hanya bilang dari keluarga Admaja,"
Radit menduga itu Sam atau Shaka, mungkin saja.
"Apa ada pasien bernama Kenia Anindira?" tanya Radit, wajahnya gusar.
"Ada pak Radit, nona Kenia masuk tiga hari yang lalu karena melahirkan.
Dokter Maura yang menangani."
Setelah mendengar penjelasan resepsionis, Radit buru-buru pergi, dan sialnya!
"Ohhh, shitttt!!!!" umpatnya kesal, kenapa ia tidak tanya ruangan Kenia nomer berapa.
Ia akhirnya memutuskan mencari dokter Maura, setelah bertemu dokter Maura.
Ia langsung menuju kamar rawat Kenia, tampak mamanya Kenia berada di luar.
Radit masuk, setelah menyapa Wina.
"Shak..."
Shaka bangkit, ia hendak mencengkram kerah Radit, namun buru-buru Sam menghalanginya.
"Ka, tengok si kembar gih. Biar Radit periksa keadaan Kenia." pinta Sam.
Yang penting baginya itu adalah Kenia sadar.
Radit memeriksa, mulai dari denyut, detak jantung juga kelopak mata Kenia, tak lupa ia menyuntikkan obat lewat selang infusnya, berharap keadaan Kenia membaik dan lekas sadar.
Radit POV
Hay, Kenia..
Apa kabar, lama banget ya kita enggak ketemu.
Maaf ya,
Aku enggak tahu kalo kamu hamil, tau-tau udah lahiran, selamat sudah jadi ibu.
Aku turut bahagia, bangun dong? liat bayi kembarmu? gak pengen liat kah?
Kenia, maaf ya aku datang terlambat, bahkan enggak ada disaat-saat kamu seperti ini, kan aku sudah bilang Shaka akan selalu bersamamu, dia mencintaimu.
Apa kamu akan terus membiarkannya menangis dengan rambut acak-acakan di depan tubuhmu, akh aku rasa kau tak akan membiarkannya terus begitu.
__ADS_1
Kenia,
Aku akan menikah, kamu bilang sama aku kalo pengen liat aku nikah, mana janjimu?
Apa kamu lupa Hahh?
Ken, bangun yaaa..
Pliss bangun, gue janji deh bakal main ke rumah kamu sama calisku, tau calis kan? calon istri bwehehehe..
Kenia, kamu gak pengen apa segera ngasih nama buat anak-anak kamu,hmm?
Radit terus mengajak Kenia bicara, hingga tiba mamanya Wina masuk ke dalam dan Radit memilih keluar.
Ia memperhatikan Shaka di balik kaca jendela ruang rawat bayi.
Ia mendesah berat, seperti tau kesedihan yang di pikul sepupunya.
Drrtttt...
Bunyi ponsel Radit berbunyi, Video call dari Rain.
"Hallo sayang."
"Hmm, sibuk sekali kah sampai tak mengabariku." Rain mengerucutkan bibir, membuat Radit gemas.
Ia menyentil layar ponselnya, lucu bukan.
"Gak kena wlekkkk." Rain tertawa, sedangkan Radit hanya tersenyum melihat tingkahnya, baginya Rain adalah obat dari segala lelah.
"Rain, miss you." Bisik Radit di ponselnya.
"Iya iya, aku enggak denger!" goda Rain, padahal dari layar ponsel, wajahnya sudah memerah.
"Haishhhh." desis Radit, ia kemudian memonyongkankan bibirnya ke layar ponsel.
"Astaga gedek gue lihat elo kek gitu." Sam menggelengkan kepala. Ia memergoki Radit bertingkah konyol.
Radit nyengir, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini cuma itu, kok."
"Hmm, iyaaa iyaa cuma kangen atau pengin. Nikah gih," Sam menepuk pundak Radit, lalu terkekeh.
"Ngejek mulu, tunggu aja undangannya, lo bakal gue jadiin MC di nikahan gue." cibir Radit.
Seketika Sam mendekus kesal.
__ADS_1
"Enggak sekalian jadi pager ganteng, secara kan gue ganteng." Sam memiringkan senyum.
"Ck, geli gue anjir."