
Rain~
.
.
Aku terbangun, dan baru sadar rupanya sampai di Apartemen aku tertidur.
Aku mencari-cari ponsel diatas nakas, benar saja.
Beberapa panggilan tak terjawab dari mas Radit, juga spam chat yang aku abaikan yang isinya penjelasan perihal Ane.
Mas Radit fikir, aku marah! mungkin karena aku menguping tadi di rumah sakit.
Jam masih menunjukkan pukul empat sore, masih sisa waktu dua jam untukku bersantai dari waktu yang diminta Dion untuk datang ke Blackzone.
Aku memutuskan untuk berendam air hangat dan aroma therapy, selain membuat tubuh lebih segar dan wangi, juga bermanfaat banget buat nenangin fikiran.
Rain keluar kamar mandi masih mengenakan kimononya.
Selesai mengeringkan rambut, ia duduk di depan meja riasnya.
Rain memoles wajahnya dengan make up, sesekali ia memperhatikan wajahnya di cermin.
"Haissshhh cantikan juga Ane kemana-mana, Apalah aku yang hanya butiran debu." gumam Rain pelan.
"Terus apa hubungannya sama kamu, memangnya kenapa kalo Ane lebih cantik."
Rain menengok, rupanya Dion sudah berada di apartemennya.
"Ehh, lu sejak kapan?" tanya Rain heran.
Dion melipat tangannya di depan dada.
"Sejak tadi, untung gue inget pasword apart lu." sahut Dion santai.
Ia nyelonong masuk kamar Rain dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Ehh ngapain masuk, sana lu keluar. Gue mau ganti baju."
"Hilihh, kan lu bisa ganti di kamar mandi. Lagian siapa suruh ni Apart gak ada sofanya di luar." gerutu Dion.
"Sofanya udah enggak enak di pake, mau gue ganti baru juga inden." santai Rain.
"Buruan gih ganti baju, Radit minta gue jemput lo. Gila kali tu anak, emang dia pikir siapa yang mau nyulik lo, sampai-sampai nyuruh gue buat jemput."
Rain akhirnya mengganti pakaiannya di kamar mandi.
"Ayooo..." ajak Rain setelah mengganti pakaiannya.
Tak lupa ia meraih tas dan juga ponselnya.
"Lo ma Radit udah jadian?"
Pertanyaan Dion seketika membuat Rain kembali sendu.
"Why, muka lu mendadak kusut gitu. Oke gue gak akan tanya lagi, dari pada mood lu memburuk. Sekarang kita ke club." ajak Dion akhirnya.
Dion memang orang yang cukup tau Rain seperti apa.
"Silahkan masuk." Dion membukakan pintu untuk Rain layaknya lelaki sejati.
"Cihh, geli gue Yon."
"Ajh elah Rain, manisan dikit napa sama gue!"
"Manis sama lu, hmmm?!?!?!?!"
"Kalo bukan karena lu cewek incerannya Radit. Gue juga mau kali hmmm." Kini Dion me menatap Rain dekat.
"Haissshhh, kalo gue pacaran sama lu. Yang ada hubungan terbobrok. Kaga ada manis-manisnya." Rain memutar bola matanya malas.
"Iya-iya gue juga tau, lo gak mungkin mau sama gue. Gue terlalu tampan buat lu." canda Dion.
Rain tertawaaa, Dion berhasil menghiburnya meski sebenarnya itu bukan lelucon.
__ADS_1
"Dahhh cukup, ayok jalan. Sakit perut gue sumpah!"
"Wanjeerr siapa suruh lo ngakak gitu, untung di mobil. Kalo di kasur, yakin deh lu guling-guling gak jelas." cebik Dion.
"Lo kok tau?"
"Gue tau semua tentang lo Rain." kini mimik wajah Dion berubah serius.
Deg!
Deg!
Merasa canggung Dion melajukan mobilnya segera, ia harus sampai di club Blackzone sebelum anak-anak datang.
"Sampai, ayo turun keburu yang lain dateng." titah Dion.
Rain pun menurut, ia mengekor Dion masuk ke club Blackzone.
Mereka berjalan, suasana club emang sepi karena masih setengah jam lagi waktu bukanya.
"Ikut gue ke ruang cctv, mungkin ini bisa membantu lo agar lebih hati-hati lagi."
Rain hanya mengangguk.
Sampai di ruang cctv, Dion memutar file rekaman tepat saat Rain berusaha dijebak boleh Neta.
Rain menatap serius ke layar laptopnya Dion.
"Yon, itu Andre ngobrol sama Neta apaan gak, gak bisa di gedein suaranya?"
Dion pun menambah volume suara video itu, dan..
Seketika Rain menutup mulutnya tak percaya.
Astagaa...
"Itu Neta, niat banget hancurin gue dengan manfaatin Andre, bener-bener gada akhlak emang." Rain mendesah berat.
__ADS_1
Mau marahpun sudah telat, tapi sepertinya selama ini ia terlalu menganggap tak serius perihal Neta.