
Pukul 05.00 sore, Radit sudah bersiap pulang dari Rumah sakit, segala kerjaannya kembali di handle asistennya ketika ia pulang.
Senyum bibirnya melengkung indah tatkala rencana hari ini ia akan memberi kejutan untuk kekasihnya, Rain.
Ia akan mengajak Rain ke rumah utamanya, dokter tampan itu juga berniat segera menikahi Rain.
Radit berjalan melewati koridor rumah sakit, namun langkahnya terhenti kala melihat Ane duduk di depan ruang rawatnya dengan kursi roda, tatapan matanya kosong.
Ane memang sudah lama sekali dirawat di Rumah sakit milik Radit, namun Radit sendiri jarang mengujunginya. Bukan tanpa alasan, Radit memilih menyuruh dokter lain untuk menangani Ane karena tak mau Ane terlalu berharap padanya, terlebih mamanya Ane selalu berusaha membujuknya agar mau dekat dengan Ane.
"Ane, sudah sore sebaiknya istirahat." tegur Radit kala jarak mereka sudah dekat.
Ane mendongkak, mendapati yang menegurnya dokter Radit, ia mengulas senyum kemudian mendorong roda kursinya dan masuk ke dalam ruang rawat tanpa sepatah kata.
Radit menautkan alisnya bingung, "Aneh.." gumamnya pelan, kemudian lanjut melangkahkan kaki menuju parkiran.
Melesat menggunakan mobil membelah jalanan, hingga sampailah Radit di salah satu toko bunga.
"Mbak, bunga mawar yang itu yaaa?" pintanya menunjuk sebuket bunga mawar merah, tanda cintanya untuk Rain.
"Ini mas," Radit menerima dan membayarnya, kemudian kembali melesatkan mobil setelah menaruh bunga itu di samping kursi kemudinya.
Senyumnya mengembang, hingga tak terasa sampailah di gerbang utama rumahnya.
Rumah besar yang menjulang, peninggalan kedua orang tuanya.
Para satpam dan juga pelayan menunduk hormat, kala mengetahui sang pemilik rumah pulang.
"Selamat sore tuan," sapa bi Salis mengulas senyum, kemudian meraih tas kerja milik Radit.
Bi Salis adalah satu-satunya assisten rumah tangga yang dekat dengan Radit.
"Sore bibiku yang cantik, apa semua sudah siap?" tanya Radit.
Bi Salis mengangguk, kemudian senyum sebelum akhirnya berlalu untuk menaruh tas kerja Radit.
Radit menaiki tangga menuju kamarnya, kamar yang jarang sekali ia sentuh.
__ADS_1
Kamar luas dengan desain maskulin serta kasur king size dilengkapi balkon yang dapat menyajikan pemandangan indah pagi dan senja.
Menghela nafas sejenak, kemudian meraih benda pipih di sakunya.
"*Hallo, sayang." seru Radit dengan seulas senyum menatap layar ponselnya.
"Hay, mas! sudah sampai," sahut Rain di seberang sana.
"Iya, sampai di rumah. Bersiaplah, satu jam lagi aku jemput." titah Radit.
Rain mengangguk dengan wajah mengerucut, menambah kadar imut di wajahnya.
Sesaat, mereka diam dengan wajah bersitatap di layar ponsel.
"Apa?" seru Radit, yang melihat Rain menatapnya dengan cemberut.
Rain masih diam,
"Kalo kangen bilang aja, jangan di pendam." seru Radit seketika membuat Rain mencebik.
"Astaga, itukah kekasihku, seenak jidat menutup telpon tanpa pamit." desah Radit, tak tau jika jauh di sana, di tempat Rain gadis itu merasa berdebar luar biasa, terkadang Rain memang begitu.
***
Rain tengah bersiap, dengan dengan balutan dress maroon diatas lutut, dan polesan make up natural selalu bisa membuatnya lebih cantik, setelaj dirasa cukup, ia keluar apartemen dan mendapati Radit berjalan menghampirinya.
"Kita mau kemana mas?" tanya Rain penasaran, karena Radit hanya menyuruhnya dandan cantik, dan akan mengajaknya pergi.
Beruntung Rain mendapatkan cuti selama Dion dan Viona berbulan madu.
Jadi ia tak perlu bingung dengan pekerjaan club yang ia tinggalkan.
"Rahasia dong," seru Radit mengedipkan mata sebelah, seketika membuat Rain mencubit pinggangnya gemas.
"Akh, sakit sayang." Radit mengaduh, namun dua sejoli itu bergandengan memasuki lift yang membawanya ke lantai dasar.
Radit dan Rain masuk ke mobil, kemudian melesat menuju rumah utama milik Radit.
__ADS_1
Rain berdecak kagum kala pertama kali mobil Radit memasuki gerbang.
"Rumah siapa ini, mas?"
"Rumah kita nanti, sekarang turunlah aku ada kejutan untukmu." pinta Radit.
Rain pun menurut, ia berjalan pelan dengan tangan Radit yang terus menggenggam jemarinya.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, artinya langit telah berubah warna menjadi gelap, namun bintang-bintang juga menemani mereka malam ini.
Radit membawa Rain di taman samping kolam, taman yang sudah di hias dengan lampu lampion kecil juga lilin-lilin diatas meja, serta tak lupa ia meletakkan sebuket bunga yang telah ia beli tadi.
Rain menatap haru, lagi ia dibuat merekah dengan sikap manis dan perlakuan Radit, sekalipun itu bukan untuk pertama kalinya.
"Mas, aku baper." seru Rain tersipu malu, padahal Radit belum mengutarakan niatnya sama sekali.
"Sayang, jadi istriku dan hiduplah bersamaku nanti hingga kita menua bersama." pinta Radit, dokter tampan itu kemudian berjongkok, seraya mengeluarkan kotak maroon yang berisikan cincin permata.
"Maukah?" ulang Radit, meski Rain tak akan mungkin menolaknya.
"Iya aku mau mas?" ucap Rain malu-malu.
Radit menyunggingkan senyum, kemudian mencium punggung tangan Rain.
"Secepatnya aku akan menikahimu, sayang!" serunya kemudian bangkit dan memeluk Rain.
"Iya, sayang. I love you." bisik Rain tepat di telinga Radit, seketika Radit tersenyum, " Aku lebih mencintaimu." teriak Radit, malam ini malam yang indah bagi sepasang insan yang sedang jatuh cinta, namun ada setitik kesedihan di hati dua manusia itu, dimana kebahagiaan mereka tanpa kehadiran sosok orang tua.
"Ah, andai mereka masih hidup." ucap Rain tiba-tiba.
"Mereka pasti juga bahagia, melihat kita dari atas sana."
***
Alloha hay, jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa, biar aku semangat up ogheee..
like komen dan Votenya untuk abang Raditku tersayanggggg🥰🥰🥰🥰
__ADS_1