BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Squad somplak


__ADS_3

Rain benar-benar menemani dan merawat Radit dengan baik, buktinya gadis itu masih setia terjaga di ruang rawat Radit hingga siang menjelang.


Radit melihat jam di ponselnya, sudah menjelang siang sepertinya Shaka dan Kenia tidak jadi datang.


Lalu meletakkan kembali ponselnya asal.


"Kenapa cemberut," tanya Rain yang sedang sibuk memotong buah-buahan untuk kekasihnya itu.


Sejurus kemudian, kembali duduk dan mulai menyuapkan potongan demi potongan buah kepada Radit.


"Mau jeruk?" tawar Rain saat potongan apel dan pearnya untuk Radit sudah tandas.


"Mau salad," sahut sang empu, "Emang boleh?" tanya Rain lagi.


"Tentu saja boleh, aku ini kan dokter, Buah-buahan menyehatkan, apalagi buah..." Radit mengedipkan sebelah matanya, lalu menatap Rain.


"Dasar mesum!" kesal Rain mencubit perut Radit.


"Gapapa mesum sama calon istri sendiri juga." celetuk Radit.


Ceklek!


Pintu terbuka, datang Shaka dan juga Kenia.


"Ehmm, betah ya kalo yang tersayang yang paling perhatian." suara serak Shaka dengan wajah datar.


Kenia memilih masuk, meletakkan sekotak salad, dan juga buah di atas nakas.


"Lo gak ngantor?"


"Udah tadi, lagian ada Sam juga, oh ya tadi Sam nitip salam."


"Hmm, salam kembali."


**


"Gimana keadaan kamu mas, udah baikan?" tanya Kenia.


"Udah, makasih Ken." ucap tulus Radit.


Rain sendiri memakhlumi dengan kedekatan mereka, meredam rasa cemburu, karena memang rasanya tak pantas jika ia cemburu dengan Kenia, meskipun Kenia itu mantannya Radit, tapi sekarang mereka saudara.


"Rain, aku bawa salad buah, kamu suapin Radit ya, sekalian kamu cobain enak nggak?" pinta Kenia, dan Rain mengangguk senyum.


"Makasih ya Ken, barusan aku lagi bahas buah-buahan sama Rain, tiba-tiba kepengen salad buah, gak taunya kamu bawa." ucap Radit, lalu meminta Rain menyuapinya salad.

__ADS_1


"Ceh, bahas buah-buahan atau buah..." Shaka tak kalah ngawurnya, makhlum laki-laki otaknya memang sering traveling.


"Uhukk!" Radit yang sedang makan salad buah suapan Rain hampir tersedak, bukankah ia dan Shaka sepemikiran?


"Sayang..." Kenia menatap tajam Shaka, hingga laki-laki itu nyengir dengan tangan menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Ampun, Nyah!"


**


Dion dan Viona sudah sampai lobi rumah sakit, mereka baru saja pulang dari bulan madu, ya sebut saja bulan madu, masalah Viona yang masih perawan biar menjadi rahasia mereka berdua.


Begitu mendengar Radit kecelakaan, Dion langsung mengajak Viona untuk menjenguk Radit di rumah sakit.


"Tadi Shaka bilang ruang VIP 02, coba tanya suster bee?" pinta Dion, Viona menurut lalu menanyakan letak kamar dokter Radit kepada suster.


Setelah mendapat jawaban, mereka langsung menuju dimana letak kamar Radit berada.


Ceklek, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Dion dan Viona masuk.


"Ceh, yang habis bulan madu!" Shaka berdecih, kini ia dan Kenia duduk di sofa, sedang Rain masih setia di samping ranjang rawat Radit.


Dion menggandeng tangan Viona mesra, sembari memberikan senyum kepalsuan, seolah sedang memberitahu yang lain kalau mereka kini adalah sepasang pengantin baru.


"Bukan begitu sayang?" tanya Dion.


"Iya, heheh." Viona cengengesan, "Hay Rain, Kenia." Sapa Viona mengulas senyum.


Kenia bangkit menghampiri Viona, memeluknya layaknya saudara, squad somplak kini telah berkumpul, tinggal Sam dan Kamila yang kurang.


"Gimana?" bisik Rain yang ikut serta memeluk sahabatnya.


"Gimana apanya?" tanya Viona polos, Kenia dan Rain mengajak Viona keluar dan mengobrol di koridor rumah sakit.


"Gimana malam pertama kalian?" tanya Rain penasaran.


Kenia sontak menahan tawa, terlebih ia disini yang lebih berpengalaman.


"Enak kan?" tanya Kenia, dan Viona hanya mengangguk, malu-malu.


"Emang gak sakit ya?" pertanyaan konyol Rain, bukan tertuju pada Viona, tapi lebih kepada Kenia.


Kenia menggeleng sembari terkekeh, "Rasanya, ahh mantap!" ungkapnya dengan mengacungkan dua jempol tangan.


"Aku nggak ngerti, aku belum coba!" celetuk Viona asal, hingga tanpa sadar membuat Kenia dan Rain langsung menatapnya curiga.

__ADS_1


Kenia memicingkan matanya, mengintimidasi ucapan Viona, "Jangan bilang bulan madu kalian...." Kenia tak meneruskan ucapannya, dua gadis polos di depannya membuat ia sangat gemas.


Beruntung tak ada orang lalu lalang ataupun suster dan dokter yang lewat, mengingat ruang rawat Radit itu terkhusus, sehingga tak ada yang tahu obrolan mereka, hya mereka dua gadis dan ibu dua anak yang mungkin terdengar konyol.


"Ngobrolin apa kalian?" Suara datar Dion, dengan tatapan curiga.


"Ceh, jadi kalian belum hahahihi?" ledek Rain sembari terkekeh, Dion menghela nafas kasar lalu menatap Viona yang sudah menunduk entah karena apa? padahal dua insan tadi sudah berjanji untuk merahasiakan masalah ranjang mereka.


"Hmm, ya karena momennya nggak tepat." alibi Dion.


Seketika Viona mendongkak, menatap suaminya.


"Gue khawatir sama Radit, masa iya mau hahahihi diatas penderitaannya, berhubung Radit udah membaik, aku pastikan nanti malam akan melakukannya dengan tenang." Dion menatap Viona dengan senyum smriknya, " Bukan begitu sayang?"


"Gapapa, gausah panik." Kenia mengusap bahu Viona.


Obrolan macam apa yang sedang mereka bicarakan, yang pasti saat ini Radit dan Shaka mencoba menguping dari dalam.


"Pada ngomongin apa?" tanya Radit penasaran.


Shaka mengisyaratkan agar Radit berhenti bertanya, agar ia fokus mendengarkan obrolan mereka dari balik jendela.


Bisa saja Shaka keluar, tapi karena Dion berdiri tepat di dekat pintu, ia urungkan niatnya.


Shaka kembali di samoing ranjang Radit, " Mau tau lo?"


"Iya, apa?"


"Bahas malam pertama mereka, makanya buruan nikah gih, biar bisa ******?"


"Pulang dari rumah sakit, aku mau minta om Wira nikahin aku sama Rain." serius Radit.


"Itu masalah gampang, kita kan keluarga? Oh ya lu mesti sembuh total dulu biar anuanunya langsung gaspoll." ucap Shaka ngawur.


"Bisa diatur, itu hanya masalah waktu." Seru Radit, ingatannya menerawang kembali pada masa dimana ia dan Rain tidur bersama, meski hanya sekedar tidur.


Kembali ia senyum-senyum sediri hingga membuat Shaka gedek melihatnya, "Mama bilang, ia belum bisa kesini, lu cepet sembuh gih, tar kalo lu pulang ke rumah gue aja dulu, biar ada yang ngurus." Saran Shaka.


"Gue gak mau ngrepotin tante Dina dan om Wira." ucap Radit dan langsung mendapat tatapan tajam dari Shaka.


"Kita saudara, mereka juga orang tua lo." ucao Shaka penuh penekanan.


Sudah cukup dulu ia dan Radit jauh, sangat jauh saat awal pertama ia menikahi Kenia, Shaka tau betul Radit bukanlah orang yang mudah membuka hati, dan Shaka sangat bersyukur pada akhirnya semua kembali bahagia, ia Radit kini telah menemukan kebahagiaannya.


Like komen dan kasih bunga akak😭🍉🍉🍉

__ADS_1


__ADS_2