
Semenjak bulan madu, tubuh Rain memang tak bisa diajak kompromi. Bohong jika ia baik-baik saja, kenyataannya sudah tiga hari ia terkulai lemas di kamar. Radit dan bi Salis merawatnya bergantian. Sebagai dokter ia juga disibukkan oleh pasien-pasien di rumah sakit, meski di rumah sakitnya juga ada banyak dokter.
Pagi itu, Radit hendak berangkat kerja. Diusapnya lembut kening sang istri, dikecupnya berulang-ulang, rasanya enggan meninggalkan Rain, tapi ia harus bertugas. Hari ini ada beberapa jadwal operasi.
"Sayang, cepatlah sembuh aku akan segera kembali!" pamitnya, beranjak meninggalkan sang istri, dengan harapan yang selalu tersemat semoga Rain segera sehat.
Kadang Kenia dan Shaka juga tante Dina mengunjungi mereka, hingga tak terasa kondisinya mulai membaik setelah satu minggu istirahat total.
**
Sebulan lebih setelah pernikahan, Rain merasakan mual hebat pada perutnya.
Nafsu makannya mendadak hilang, dengan wajah semakin hari semakin pucat.
"Sayang, kita ke dokter ya!" bujuk Radit, Rain menggeleng keras, tangannya menangkup pipi sang suami lalu tersenyum.
"Aku nggak papa sayang, kamu adalah dokter yang merawatku, kenapa harus ke dokter lain!"
Radit menatap sang istri sendu, sejak istrinya sakit waktu itu, ia takut. Sangat takut, bahkan Radit sampai rela tidak mendapatkan jatah, menahan gejolak hasratnya.
"Sayang, aku pengen kamu sehat. Plis kali ini nurut sama aku." Radit benar-benar sedih, ia seperti kehilangan separuh semangatnya, belum juga menjawab Rain setengah berlari meninggalkannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Padahal baru setengah jam yang lalu, istrinya itu makan.
Radit menyusul sang istri, di pijat lembut tengkuk Rain, setelah dirasa mereda dengan sigap ia menggendong istrinya, direbahkan ke atas ranjang, dengan telaten pula Radit mengusap sekujur tubuh Rain dengan minyak angin.
Tampak berfikir sejenak, kemudian Radit mengulas senyum.
"Jangan-jangan kamu hamil, sayang?" Mungkin saja kan, Rain benar-benar hamil, mengingat saat melakukannya, Radit sama sekali tak memakai pengaman. Radit ingat betul waktu itu, ditambah sudah lama ia tak melihat Rain datang bulan, tepatnya semenjak menikah, Radit memang belum pernah melihat Rain datang bulan.
Saat Radit hendak menceritakan apa yang saat ini ia fikirkan, Rain istrinya ternyata sudah tertidur pulas dengan wajah pucatnya. Radit bangkit, mengambil kunci mobil diatas nakas, lalu keluar kamar.
Sementara istrinya tidur, ia akan ke apotek membeli tespeck, barangkali yang ia fikirkan benar adanya, istrinya hamil.
Radit memacu mobilnya sedang, saat sampai di apotek, ia bertemu Shaka.
"Gimana istri lo, masih mual?" tanya Shaka, Radit mengangguk lesu. Shaka kemudian mengajak Radit duduk di kedai samping apotek setelah Radit membeli tespeck.
__ADS_1
"Cek aja dulu, mungkin hamil." Saran Shaka, Radit pun juga memikirkan hal yang sama.
"Dulu Kenia juga gitu, mual tapi nggak separah istri lo, tapi bawaan bayi beda-beda."
"Apa termasuk pucat dan lemas juga, kadang aku kasian liat dia sampe kehabisan tenaga gitu!" ujar Radit, Shaka pun mengangguk.
"Ohh iya, hari ini Kamila melahirkan, tapi lo tenang aja, semua berjalan lancar. Dan rumah sakit juga menanganinya dengan sangat baik, anaknya perempuan." Jelas Shaka, Radit menghela nafas lega, mendengar kabar baik bahwa Sam dan Kamila kini telah menjadi orang tua.
Kurang lebih setengah jam mereka mengobrol sambil menikmati capucinno, Radit dan Shaka kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Radit lega, menurut pemikirannya dan Shaka serta tadi ia sempat melihat di google untuk meyakinkan diri, tanda-tanda yang dialami Rain, mirip seperti wanita hamil. Hya, semoga saja istrinya benar-benar hamil.
Melesatkan mobil, pulang ke rumah, Radit langsung menemui istrinya di dalam kamar, beruntung sang istri masih tertidur pulas. Segera Radit mandi dan mengganti pakaiannya, barulah ia akan bicara kepada istrinya.
Menjelang siang, Rain terbangun kala merasakan perutnya sangat lapar. Makhlum saja, sepagi tadi ia merasa mual dan terus memuntahkan isi perutnya.
"Hay sayang, sudah bangun, hm?" Radit mengusap pipi Rain lembut, setelah ia memakai kaos oblongnya.
"Siang-siang mandi?" Heran Rain, sampai menautkan kedua alisnya.
"Ahh iya, sudah lama aku tidak datang bulan!" Rain ingat, terakhir ia datang bulan sebelum menikah.
"Yaudah aku tes dulu, tapi sayang, emm, sebenarnya lebih akurat di waktu pagi." ucap pelan Rain, menatap Radit.
"Hey, aku membelikanmu tespeck mahal sayang, jika kamu belum yakin akan hasilnya nanti, besok bisa dicoba lagi. Ya kalo hasilnya gak sesuai, yaaa bikin lagi." goda Radit, pipi Rain seketika bersemu merah. Teringat, sudah lama ia tak memenuhi hak suaminya.
"Maaf, maafkan aku mas!"
Radit langsung memeluk Rain erat, sangat erat lalu beralih menciumi wajah istrinya berulang-ulang.
"Sttt, jangan bicara seperti itu, aku nggak papa! Bagi aku, yang penting kesehatan kamu."
Rain semakin mengeratkan pelukannya, bukankah suaminya sangat pengertian? Ia merasa beruntung sekali menikah dengan Radit.
Radit adalah laki-laki yang baik versinya.
__ADS_1
"Sekarang, kamu tes dulu. Aku ke bawah nyiapin makan siang sama bi Salis, kamu pengen makan apa?" tawar Radit.
Rain memegangi perutnya, "Aku pengen salad, aku pengen salad buatan Kenia, entah kenapa. Rain memelas.
Seketika Radit menepuk jidatnya, "Emmm, mana mungkin sayang, Kenia pasti sibuk sekali, Kamila melahirkan!" ucap Radit.
Bukan tak mau menuruti keinginan istrinya, ia hanya menunda. Keluarga Admaja pasti sedang sangat sibuk sekarang, mana mungkin ia datang menemui Kenia dan meminta dibuatkan salad, rasanya sangat tidak mungkin.
"Kalo begitu, emmm! kamu yang buat." pint Rain, Radit langsung sumringah, bukan pilihan yang sulit. Ia bisa membuat salad, meski tak seenak buatan Kenia.
"Kalo begitu aku turun dan buatin kamu salad."
Rain mengangguk, saat Radit sudah keluar kamar, Rain langsung masuk ke dalam toilet, mengetes barang kali ia beneran hamil.
Lima belas menit sudah dan ada dua garis meski agak samar, sudut bibir Rain seketika terangkat, ia tersenyum lebar penuh syukur kala di usia pernikahannya yang dini. Tuhan sudah mempercayakan anugerah terindah untuk pernikahannya.
Sedangkan di dapur, Radit mengeluarkan buah--buahan untuk membuat salad, dengan dibantu bi Salis, Radit memotong buah dengan lihai. Tak perlu waktu lama, salad buah sudah siap ia masukkan ke dalam kulkas setelah diberi toping coklat keju kesukaan istrinya.
"Non Rain, nyidam ya den?" tanya bi Salis penasaran.
"Doakan saja yang terbaik bibik, semoga Rain beneran hamil." sahut Radit tersenyum.
"Aamiin, den! Semoga saja." doa bi Salis sembari menyiapkan beberapa masakan untuk makan siang.
Dengan hati-hati Rain menuruni anak tangga, ia harus benar-benar menjaga langkahnya.
Meski sebenarnya tak sabar memberitahu sang suami, bahwa ia beneran hamil.
"Gimana sayang hasilnya?" tanya Radit, menarik kursi mempersilahkan istrinya duduk.
Rain memasang wajah sedih, tiba-tiba ingin sekali menjahili suaminya.
"Gak usah sedih, kalo negatif nanti bikin lagi!" bisik sang suami, berhasil membuat wajah sedihnya berubah merona.
"Ishhh, sayaang akutu beneran hamil!" pekik Rain, dicubitnya pinggang Radit keras-keras.
__ADS_1