BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Ungkapan


__ADS_3

"Mas Radit.." Rain memanggil laki-laki itu dengan nada manjanya.


Sedang Radit yang bersandar di mobil, mengulas senyum ke arah Rain.


"Sudah lama?" tanya Rain


Radit menggeleng, baginya seberapapun waktu yang ia buang asal itu demi Rain, ia akan melakukannya.


Sudah cukup dulu ia tak punya banyak waktu untuk Kenia, ia tak ingin hal itu terulang lagi terlebih bersama Rain.


Radit membukakan pintu untuk Rain, lalu menyusul masuk ke dalam mobil.


Kemudian mobil melesat membelah jalanan malam.


"Gimana pekerjaan mas Radit.." tanya Rain, padahal jelas tadi pagi ia bersamanya di rumah sakit.


"Hmm, melelahkan. Tadi aku ketemu Shaka, sopirnya masuk rumah sakit."


"Ohh, ya. Sakit apa? Kenia juga kesana?"


"Enggak, hanya Shaka. Yang masuk rumah sakit itu sopir sekaligus bodyguardnya Kenia."


"Lho kok bisa, tapi Kenia baik-baik aja kan mas?"


Radit hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu.


"Aku kurang tahu, mungkin iya. Mau pulang ke apart sekarang?" tanya Radit.


Rain meregangkan tangannya, "Sebenarnya aku lelah mas. Tapi..."


"Biar ku tebak, kau pasti sedang bosan."


Rain mengangguk lesu,seperti bukan hanya lelah fisik. Ia juga lelah hati.


"Mau ke suatu tempat, tapi itu pun jika kamu mau." tawar Radit.


"Boleh." Rain mengiyakan, ia kembali berbinar.


Bekerja dengan malam membuatnya mudah lelah, meskipun ia sangat menikmati profesinya.


Jam sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi, jauhnya perjalanan membuat Rain tertidur dengan kepala bersandar di bahu Radit, beruntung Radit cukup ahli dalam hal menyetir dengan keadaan seperti itu ia masih mampu membawa mobil dengan baik.


Radit memarkirkan mobilnya di salah satu Villa tepi pantai, ia ingin menikmati waktu bersama Rain.


"Kita istirahat dulu Rain, kamu pasti lelah. Nanti kita jalan-jalan ke pantai, gimana?"


Rain mengangguk, sebenarnya niat Radit membawa Rain kesini karena ingin mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Ia fikir harus menciptakan moment indah di tempat berbeda, mengingat pertemuannya dengan Rain hanya di lingkup RS, apartemen dan club.


"Mas Radit..."


"Gendong, aku ngantuk mas."


"Astaga Rain, naiklah ke punggungku." titah Radit sembari membungkukan punggungnya untuk mempermudah Rain.


Rain pun naik ke punggung Radit, setelah bertemu pemilik villa yang di sewanya.


Radit membawa Rain ke dalam kamar.


"Astaga Rain bisa-bisanya tertidur pulas di punggungku." omel Radit seraya merebahkan Rain di atas Ranjang.


"Sial kenapa dia begitu seksi, hmm." gumam Radit, detik berikutnya ia menutupi tubuh Rain dengan selimut tebal.


Lalu menyusul merebahkan diri, di pandanginya Rain.


Gadis imut yang kini membawa sisa kepingan hatinya yang pernah patah.


"Rain, terima kasih karena selalu ada di sisiku, kamu tahu. Aku baru sadar jika ternyata aku mencintaimu." Radit merapikan rambut Rain yang berantakan.


"Hmmmmgsgbsjsnn....." Rain bergumam pelan, namun matanya masih terpejam.


Radit menghela nafas, kemudian beralih menatap langit-langit kamar Villa, lambat ikut terpejam.


"Mas Radit, kok tidur sih. Katanya mau jalan-jalan?" Rain menggoyangkan tubuh Radit yang masih terlelap. Jam menunjukan pukul 05.15 pagi, bahkan suasana pantai masih sepi.


"Hmmm," Radit mengulas senyum begitu pertama kali membuka mata melihat wajah cantik Rain.


"Ayooo..." Rain mengerucutkan bibirnya.


Radit mengubah posisi menjadi duduk, lalu merenggangkan otot-otot tangannya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Radit.


"Udahh, tapi..."


Seperti peka apa yang diinginkan Rain, Radit menyodorkan paperbag berisi baju.


Rain mengulas senyum kemudian meraihnya, ia berlalu ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.



"Gimana mas?"


"Cantik, tunggu sebentar. Aku juga harus membersihkan diri lebih dulu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ia sudah siap dengan stylenya yang tak lagi formal.



Mereka kemudian keluar Villa memilih jalan-jalan ke pantai lebih dulu.



Pemandangan pantai pagi hari nyatanya mampu membuat Rain bahagia, ia menggandeng tangan Radit lalu mengajaknya menikmati bibir pantai.


"Rain..."


"Hmm, iya mas." Rain tak henti-hentinya mengulas senyum.


"I Love you..."bisik Radit tepat di telinga.


"Apa mas, enggak denger." Rain seperti tidak percaya dengan apa yang telinganya dengar barusan.


"Aku mencintaimu Rain." ulang Radit.


Bukan menjawab, Rain justru berlari..


"Ehh..." Kaget Radit.


"Peluk aku, dan kamu akan tau jawabannya." teriak Rain.


Radit mengejar Rain, dengan sigap memeluknya dari belakang.


"Kena kau Rain, jadi gimana hmm."


tanya Radit tak sabar.


.


.


.


.


.


.


.


Like komen dulu yaaaa, papayy🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2