BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
curhat!


__ADS_3

Di sebuah caffe, salah satu mall. Rain sedang bersama Viona.


Sudah lama mereka tidak jalan-jalan bareng.


"Pesan apa Vi,? Rain membolak-balikkan buku menu.


Sementara Viona hanya nyengir kuda, "Rain lo tau kan ini tanggal tua." Vio menggaruk-garuk kepalanya.


Rain terkekeh, "Gue tlaktir spesial buat lo, gue lagi seneng si." celetuknya.


"Beneran, serius." tanya Vio, meski ia tau Rain tak akan berbohong.


"Dua rius deh."


"Okeee," seketika Viona berbinar.


"Rain disini ada mekdi nggak?" polos Vio.


"Burger?"


Viona mengangguk, "Kalo enggak ada yang lain aja." selanya.


"Ada kok, tenang aja. Oh yaaaa nih kita pesen burger king dua, kentang krispi sama capucinno float, lo minumnya apa?"


"Sama kaya lo aja Rain."


"Oke, siap! Mbakkk." Rain menjentitkan jari, agar pelayan mendekat.


Setelah memesan, kembali mereka mengobrol santuy.


"Rain, hmm menurut lo pak Dion orangnya gimana?" tanya Viona, sembari menunggu pesanan datang.

__ADS_1


"Baik, gokil, tulus dan gak itungan, dah pokoknya baik deh." puji Rain, namun seketika matanya melirik Viona.


"Jangan bilang kalian lagi pedekate." ucap Rain mengintimidasi.


Viona langsung nyengir, "Enggak Rain, cuma akhir-akhir ini dia aneh."


Sesaat kemudian, pelayan datang membawa pesanan Rain dan Viona, Viona tampak berbinar.


Jika Rain sudah terbiasa makan seperti ini dengan Radit, beda dengan Viona yang memilih menabung uangnya, mungkin akan berfikir lima kali lebih dulu jika harus membelinya, karena memang ia hanya sendiri, jika punya pacar mungkin akan sedikit berbeda.


"Gimana hubungan lo sama Radit." tanya Vio, sembari memasukan float ke mulut.


"Baik-baik aja si sejauh ini, yah walaupun gue sama udah pedekate lama," ungkap Rain.


"Lo enggak ngejadiin dia pelarian kan Rain?"


"Maksud lo, gue gak ngerti."


"Vi, udah. Gue udah ketemu Angga dan gue udah minta maaf."


Rain menghela nafas sejenak, menjeda ucapannya.


"Gue tau kemana arah hati gue, gue gak bisa paksain janji gue ke Angga, itu hanya akan menyakiti satu sama lain, bagi gue Angga adalah masalalu, dan mas Radit adalah masa depan gue." jelas Rain.


Viona pun mengangguk, beberapa detik kemudian ia mengulas senyum.


"Syukur kalo gitu, gue ikut seneng."


Mereka menikmati makan siang bersama dengan burger, ramainya caffe tak membuat dua sahabat yang saling curhat itu merasa terganggu, Rain sesekali tertawa, begitu juga dengan Viona.


Tak sadar sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan ia dari jauh, dengan bermodal buku menu dan kacamata sudah cukup menutupi dirinya dari Rain.

__ADS_1


Dia adalah Angga, tadinya ia hanya ingin membeli junkfood di caffe dan dibawa pulang, tidak disangka jika ia malah melihat sosok Rain di salah satu sudut caffe.


"Rain, aku fikir masih ada sedikit sisa cinta untukku walau hanya untuk di kenang, ternyata aku salah. Aku sudah benar-benar kehilangan, bukan hanya dirimu tapi juga cintamu, aku hanya berharap mas Radit tidak menjadikanmu pelarian dari cintanya yang kandas dengan mbak Kenia." gumam Angga.


Ia menikmati makanannya tanpa nafsu, meski begitu ia tersenyum, tak ada cinta yang membahagiakan selain melihat Rain bahagia. Karena bagi Angga, Rain adalah bintang yang sampai kapan pun hanya akan menjadi angan.


**


Selesai jalan di Mall dan makan di caffe, Rain mengajak Viona berwisata.


Hari ini ia ingin membuat sahabatnya itu bahagia.


"Kemana lagi kita?" tanya Viona.


"Kemana lagi, kita akan ke duffan." jawab Rain.


Dua gadis itu melajukan mobil dengan hati gembira, mereka akan bersenang-senang kali ini.


Dan demi apa, Angga membuntuti mereka.


**


Keduanya saling melempar bahagia setelah sampai di duffan, Rain mengajak Viona untuk menaiki beberapa permainan.


Sebelum mereka sampai disini, Angga sudah lebih dulu menyerah karena menerima telpon, dan ia harus pulang tanpa melihat Rain dan Viona.


.


.


Like komen dan vote ya kakak🥳

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak agar aku tahu kamu ada😌😌


__ADS_2