BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Siapa Ane?


__ADS_3

Radit telah selesai makan siang bersama Rain, mereka berjalan beriringan kembali ke ruang kerja. Karena Rain memang berniat seharian akan berada di Rumah sakit Radit.


Seorang suster tergesa-gesa menghampiri,


"Maaf dok, nona Ane.. emh itu.."


Suster yang tak lain bernama Rani itupun tergagap.


"Sebaiknya pak Radit cek sendiri kondisinya."


"Baik sus, saya akan kesana." wajah Radit seketika berubah dingin, membuat Rain heran.


"Ada apa," tanya Rain dengan langkah menyamai Radit.


Radit berhenti sejenak, memandang Rain dengan tangan menangkup pipi imutnya.


"Tak apa Rain, pulanglah. Aku tak bisa menemanimu." ujar Radit.


"Ehmm, baiklah aku akan pulang mas." Rain mengulas senyum.


Namun siapa tahu jauh dalam hatinya ia ingin tau, Kenapa Radit berubah menjadi dingin.


"Hati-hati, maafkan aku tak mengantarkanmu Rain. Jaga dirimu baik-baik, jika sudah sampai jangan lupa chat aku." titah Radit dengan senyum.


"Iya-iya mas Radit, kamu ini sudah seperti pacar posesif saja." cibir Rain.


Radit mengacak Rambut Rain gemas, "Memangnya kenapa? aku suka bersikap seperti itu jika denganmu, apa kamu keberatan."


Rain menggeleng dengan senyum, kemudian ia pamit pergi.


Rain~


Aku melambaikan tangan menjauh, namun kembali aku mengingat ke arah ruangan mana mas Radit masuk.


Dan saat mas Radit tak nampak, aku kembali lagi.


Pelan- pelan aku berjalan ke arah ruangan itu, yaaa ruangan tertutup Rapat pintunya.


Namun aku melihat dengan jelas lewat celah korden kamar itu yang sedikit terbuka.


Seorang gadis cantik terbaring dan menangis disana, hanya ada gadis itu, mas Radit dan seorang perempuan paruh baya.


Mungkin seumuran tante Dina, ibunya Shaka.

__ADS_1


Ada apakah gerangan, mereka masih terdiam.


Aku jadi semakin berfikir, lamat-lamat kuingat ucapan suster tadi yang menyebut nama Ane, siapa Ane???


Hatiku penasaran dengan gadis itu, aku mengintip lagi... jelas suara samar mas Radit dengan nada dingin nya.


"Ane, ada apalagi,hm?


"Pak Radit, aku.. aku... ingin mati saja, untuk apa aku hidup." gadis itu menangis tergugu.


"Pak Radit, Ane hanya ingin dekat dengan bapak. Saya mohon pak." si ibu paruh baya itu berusaha membujuk mas Raditku.


Cihh, aku berdecih mendengarnya! Geli dan sudah terbiasa dengan drama ikan terbang seperti itu.


Tapi mendadak aku gemetar, menunggu jawaban dari mas Radit.


"Sudah saya bilang, saya ini dokter. Tugas saya hanya memeriksa dan mengobati pasien. Bukan mendekati apalagi sampai anda meminta saya untuk..." mas Radit menggantung ucapan nya, aku yang hanya menguping dengan berbatas kaca jendela makin penasaran.


Duhh apaan sih mas Radit, gantung aja ucapannya.


Aku kan jadi penasaran, hihhhh!


Sebel banget kan jadinya, eh tapi sebenarnya siapa Ane? Kenapa mas Radit sikapnya seperti itu.


"Rain."


Aku tersentak kaget, aduhhh ketahuan dong kalo lagi nguping.


Aku berbalik, ekpresi pertama aku nyengir kuda menatap mas Radit sudah berada di depanku.


"Hehe mas Radit."


"Ngapain disitu, enggak jadi pulang?" Akh kenapa juga aku nggak liat mas Radit tadi, kan repot ngejelasinnya kalo ketahuan begini.


"Iya, ini aku mau pulang kok." aku memutar tubuh kemudian berjalan menjauhinya.


"Bye mas Radit.." aku melambaikan tangan sembari menyunggingkan senyum termanis.


Dengan gontai meninggalkan rumah sakit, sejenak aku berhenti di taman dekat pintu masuk RS ini, duduk termenung dengan apa yang tadi aku lihat.


Apa maksud dari perkataan ibunya gadis itu, nya gadis bernama Ane itu mengusik ketenangan fikiranku, kan pikiranku soal mas Radit jadi traveling kemana- mana.


Tapi ya sudahlah...

__ADS_1


Nanti kalo waktunya sudah pas ia akan cerita dengan sendirinya.


~~


Lama berdiam diri di taman, Rain memutuskan mencari taksi kemudian. pulang ke apartemennya karena nanti malam ia harus kembali ke club dan bekerja.


Sampai di apartemen lagi ia mendapati Dion menelpon.


"Hmmm," ucap Rain begitu angkat telpon.


"Elah Rain, bisa nggak sih manisan dikit. Iya deh Iya lu kan dah anu mau Radit ya. Jadi gak perlu manis- manis ke cowok laen." sungut Dion di seberang sana.


"Elehhh baperan amat lu Yon, ada paan?"


"Nanti aja, lu dateng sebelum club gue buka, gue mau kasih liat sesuatu."


"Yah okeee, kalo nggak lupa." Rain berdecak malas.


"Jangan gitu lu... Pokoknya jangan telat, lo bakalan tau rekaman cctv pas lo anu itu."


"Anu paan?" Rain semakin nggak ngerti.


"Oke deh, jadi gini Radit minta ke gue buat cek cctv malam pas lo minum obat perangsang, dah sampai sini paham?"


"Ehh sumpah, padahal gue udah ngelupain kejadian itu."


"Dahlahh, lu kan emang gitu, yaudah lu ntar pokoknya kesini lebih awal aja." ujar Dion kemudian menutup telpon.


"Hilihhh, apaan si Dion sama mas Radit, kan aku dah gak bahas hal itu lagi. Toh lagian aku nggak kehilangan apa- apa, kegadisanku juga masih utuh." gerutu Rain.


Ia memandangi cermin sembari terus mengomel.


.


.


.


.


Like komen dan voteee ya biar aku semangat!


Slow up karena mau fokus ke abang Shaka dan Kenia duluuu, babay😘

__ADS_1


__ADS_2