
"Aku akan menemanimu kerja." ucap Rain dengan tangan terlipat di dada.
Radit mendesah berat, bukan karena ia tak suka Rain berada disini, justru ia sangat suka.
Andai ia bisa mengajak Rain pergi hari ini, tapi sepertinya ia juga harus memperhatikan pasien-pasiennya.
"Kau akan bosan jika hanya menungguku disini." ucap Radit.
"Aku tak perduli, aku hanya ingin bersamamu. Dua hari ini terasa berat." keluh Rain dengan wajah berubah sendu.
Radit mendekat lalu merengkuhnya, ia mengiba.
Dan akhirnya ia mengizinkan Rain menunggu di ruangannya.
Ada kamar istirahat di sini, jika kau lelah tidurlah.
Hari ini aku ada periksa dengan beberapa pasien, juga ada jadwal operasi." ungkap Radit.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan tetap tunggu." jika aku bosan, aku akan jalan-jalan keluar atau tidur dikamarmu." Rain mengulas senyum.
Entah mengapa hari ini ia ingin selalu bersama dokter tampan itu.
Begitu Radit pergi, Rain memilih masuk ke kamar yang menjadi tempat istirahat Radit saat merasa penat dan lelah, ia kamar yang tak terlalu luas dengan desain maskuin bercat coklat dan abu itu cukup membuat Rain kagum.
Bukan hanya orangnya yang menarik, kurasa apapun yang berhubungan dengan dokter Radit, semua terasa menarik.
***
__ADS_1
Dua jam kemudian, Radit yang telah selesai melakukan operasi pada pasiennya hendak kembali ke ruangan. Namun salah seorang suster memanggilnya.
"Permisi dok, pasien atas nama nona Ane tidak mau meminum obatnya sama sekali." ucap suster itu menunduk takut.
Radit mendesah berat, Ane selalu saja merepotkannya.
Hilang sudah batas kesabarannya menghadapi Ane yang semakin hari semakin kelewatan manjanya.
Radit berjalan cepat menuju ruangan dimana Ane berada, benar saja gadis itu sedang murung.
Bahkan ibunya hanya diam duduk disampingnya.
"Ane, kenapa tidak meminum obatmu,hmmm?" tanya Radit namun dengan ekspresi datar.
Ya, sepertinya Radit memang sudah lelah berpura-pura. Ia mungkin baik, tapi ia tidak bisa terlalu peduli dengan orang seperti Ane.
"Saya mohon dok, saya tak ingin Ane patah semangat." ungkap ibunya Ane.
"Maaf, saya tidak bisa. Seharusnya dari awal Ane tahu batasan saya dengannya hanya sebatas dokter dan pasien, tapi akhir-akhir ini saya menyadari sikapnya semakin menjadi." ucap Radit.
"Tapi dok, saya hanya ingin dokter Radit sedikit saja peduli dengan saya." ucap Ane menatap lekat, matanya berkaca-kaca.
Namun itu tak membuat Radit berubah fikiran sekalipun, ia malas menanggapi.
"Maafkan saya Ane, tapi saya tak ingin membuat calon istri saya cemburu karena saya lebih peduli dengan wanita lain. Apalagi dia sedang berada di rumah sakit ini sekarang." ucap Radit tersenyum miring.
Jleb!
__ADS_1
Bagaikan pisau yang langsung menusuk, hati Ane patah saat itu juga.
Dalam fikirannya pastilah wanita tadi calon istri dokter Radit.
"Dokter! dokter dah berjanji sama saya untuk membantu Ane semangat sembuh." ucap wanita paruh baya itu.
"Sudah saya bilang, saya tidak berjanji. Jaga batasan anda! anda tidak punya hak mengatur hidup saya. Permisi!" ungkap Radit langsung berlalu pergi.
Seperti sebuah kelegaan di hatinya, ia benar-benar lega.
Ohh Rain..
Maaf telah mengklaimmu sebagai calon istri, aku tak punya pilihan lain.
Hanya dirimu, hanya dirimu satu-satunya wanita yang sampai detik ini membuatku merasa nyaman.
Aku tak ingin lagi, mengalami kepatahan yang berulang.
Tunggu aku siap, untuk mengatakan perasaanku padamu..
**Alloha hay, haruskah aku munculkan Kenia dan Shaka disini? pendapat kalian aja😂
Btw jangan lupa like komen dan ratenya ya...
Btw biar nggak bingung baca yang ini juga, karena dua novel ini berhubungan😊😊
makasih❤ Author sayang kalian 😘**
__ADS_1