BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Posisi ternyaman


__ADS_3

Malam semakin larut, namun dua insan yang kini telah sah menjadi suami istri itu masih terjaga di tepi kolam, menikmati semilir angin yang menerpa tubuh mereka serta sinar rembulan dan banyaknya bintang yang ikut menjadi saksi cinta Rain dan Radit.


Sesekali Rain dan Radit saling melempar senyum dengan jemari yang terus bertautan.


Kakinya melambai memainkan air kolam.


"Sayang, aku nggak nyangka kita udah sampai di titik sekarang, titik dimana kita sudah menjadi suami istri dan akan selalu bersama, aku harap kamu selalu menemaniku dalam suka nan duka." ucap Radit menatap manik mata sang istri.


Rain pun begitu, merasa sangat bersyukur menikah dengan laki-laki seperti Radit.


Bukankah cinta itu saling menyempurnakan kekurangan masing-masing? mungkin mereka pernah memiliki kesalahan di masalalu, tapi biar bagaimanapun, yang terjadi pada kisah cinta mereka sebelumnya juga karena campur tangan Tuhan.


"Sejak awal aku memilih kamu, aku udah janji sama diri aku sendiri untuk menjadikanmu satu-satunya di hidupku, mungkin selama ini waktu terlalu singkat untuk kita saling jatuh cinta, terlebih rasa kita hadir saat kita sama-sama patah dan rapuh, tapi percayalah aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama." ucap Rain.


"Aku percaya, karena itu aku memilihmu!" Radit mendekat, memakas jarak hingga hanya tersisa beberapa senti.


Bahkan hembusan nafas mereka kini saling beradu, bau nafas beraroma wine menguak.


Rain terpejam, kala wajah Radit semakin mendekat, gugup!


Cuppp! pertama kecup*n sekilas, merasa tak mendapat penolakan, Radit mencium kembali bibir mungil Rain lalu m*l*m*tnya, mengeksplor semakin dalam, hingga detik berikutnya barulah Rain membalas cium*n itu.


Saat keduanya berhenti dengan nafas saling tersengal, karena pasokan oksigen yang menipis.


Radit mengulas senyum, "Kita lanjut di kamar ya." ucapnya menggoda.


Rain hanya mengangguk malu-malu, lalu dengan sigap Radit menggendong Rain ala bridal style.


"Turunkan aku sayang, aku malu dilihat orang!" lirih Rain, gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suami.

__ADS_1


"Stttt, tenanglah, tak akan ada yang melihat kita, kamu lupa jika villa ini privat, dan ini bukan jam makan." santai Radit, menahan senyum karena istrinya yang polos.


Rain akhirnya menurut, membiarkan Radit menggendongnya menuju kamar. Saat melewati kamar Dion dan Viona, Dion keluar kamar sendirian.


"Dion," gugup Rain, namun berbeda dengan Radit yang biasa saja.


"Cieee, kalian ini bikin gemes!" bukan menjawab atau membalas, Dion malah memuji.


Tanpa kata, Radit melewati Dion begitu saja, ia hanya memberikan kode kepada Dion dan Dion pun langsung paham.


"Okeee, sukses! jangan sampai kendor." teriak Dion dengan kekehan kecil.


Rain malu, ia benar-benar malu meskipun bersama Radit sudah sah menjadi suami istri.


"Gak usah malu sayang, Dion orangnya gak rese! lagian tu anak pasti udah anuanu sama Viona," santai Radit.


Seketika Rain menatap suaminya, dan saat itu terjadi Radit sudah merebahkannya ke atas ranjang.


"Dan kita juga akan melakukannya, bukan?" bisik Radit menggoda, ia mulai menciumi sang istri, mengabsen setiap inci tubuh Rain.


Rain melenguh, suara indahnya mampu membangkitkan sesuatu di bawah sana.


Dengan sekali gerakan, Radit sudah menanggalkan segala yang melekat di tubuhnya juga sang istri.


Selanjutnya, malam panjang kembali di mulai, malam yang penuh cinta bagi keduanya.


Hingga dua jam berlalu, barulah dua insan itu berhenti, melepas lelah lalu berbaring dengan wajah saling menatap penuh damba.


"Terima kasih sayang." Radit mencium kening Rain, lalu pipinya dan terakhir bibirnya.

__ADS_1


Rain mengulas senyum, menatap sang suami lalu mengerucutkan bibir.


"Apa, mau cium lagi?" goda Radit, Rain langsung mencubit pinggang suaminya.


"Dasar yaaa, hmm!"


"Apa sayang?" tanya Radit, ia masih terus menggoda sang istri, " Dasar kamu, aku mau tidur!" ucap Rain, hendak memejamkan mata.


"Tapi aku mau lagi." ungkap Radit, kali ini dengan tatapan memohon.


Rain menghela nafas, sejujurnya ia lelah tapi juga tak ingin menolak suaminya, ia tak ingin Radit kecewa, terlebih ini adalah momen honeymoonnya.


Rain akhirnya mengangguk, membiarkan Radit melakukannya lagi dan lagi, perkara esok entahlah, ia tak tau akan bagaimana remuk badannya nanti.


"Makasih sayang, kamu luar biasa!" seru Radit, bersama peluh yang membasahi wajah karena lelah.


"I love you Rain Anastasya." bisik Radit, lalu merebahkan diri di samping sang istri.


"I love you too mas Radit," balas Rain dengan wajah bersemu merah, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Radit merengkuhnya, memeluknya begitu erat.


Posisi ternyaman bersama Rain adalah seperti ini, memeluknya begitu erat hingga istrinya terlelap.


Seperti layaknya anak kecil, Radit mengusap rambut Rain, hingga istrinya itu benar-benar terlelap, setelah itu barulah ia ikut menyusul ke alam mimpi.


**


Esok hari, Rain membuka mata mendapati tangan Radit melingkar erat di perutnya.

__ADS_1


Segera ia melepas pelukan, lalu hendak bangkit namun tubuhnya lemas.


Rain mengurungkan niatnya, kembali tidur sembari menunggu Radit.


__ADS_2