
Setelah kepulangan Shaka dan Zain, kini Radit menatap penuh tanya kepada sang anak, bukankah terlalu cepat jika Zain dan Maura memutuskan untuk menikah? Sementara Maura, ibarat ia baru saja mengalami kepatahan, bukan tidak mungkin jika menikah dengan Zain adalah pelarian dirinya.
"Apa ucapan kalian bisa di percaya? nak, menikah itu sekali seumur hidup, apa kamu yakin akan menerima Zain sebagai suamimu? Ayah tahu, Zain adalah laki-laki baik, tapi ayah minta biarkan paling tidak sedikit rasa cinta itu tumbuh dari hati kecil kalian. Jangan terlalu buru-buru, ayah memang akan menjodohkan kalian, tapi semua itu berproses." ucap Radit kepada putrinya.
Menghela napas sejenak, lalu menatap ayahnya. "Maura yakin ayah, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan Maura yakin, Maura perlahan bisa mencintai kak Zain. Kak Zain begitu baik dan perhatian dengan Maura, itu artinya bukan tidak mungkin jika kami saling mencintai." jelas Maura.
Bernapas lega, lalu memeluk putrinya erat. "Putri ayah benar-benar sudah dewasa." pujinya.
**
Maura pamit kepada sang ayah kala Zain siang ini menjemput dirinya untuk diajak pulang ke rumah. Dan dengan senang hati Radit pun mengizinkan mereka pergi berdua.
"Hari ini persiapan pernikahan Nora, kita pulang." ajak Zain dengan nada dingin.
"Kemana?" tanya Maura polos, lalu buru-buru menutup mulutnya.
"Tentu saja ke rumahku, apa kamu tak mau menyapa calon mertuamu." kata Zain serius.
Mendengar ucapan Zain membuat Maura semakin mendelik, secepat inikah?
Mereka benar-benar sampai di pelantaran rumah milik Shaka, rumah yang saat ini telah disulap bak istana untuk acara pernikahan besok.
**
"Cie calon pengantin." tiba-tiba muncul Maura yang baru saja datang bersama Zain. Nora melebarkan senyum dan langsung menghambur memeluknya.
__ADS_1
"Uwwww, kangen." rengek Nora manja, Maura hanya terkekeh menanggapinya. Mereka memang seakrab itu, berbeda dengan Zain yang lebih akrab dengan Aurora. Nora justru memilih akrab dengan Maura.
"Ceh, lo kangen sama Devano dan melampiaskannya sama gue." cibir Maura, dan Nora menutup mulutnya sembari terkekeh.
"Bocah tengil itu, besok aku akan menikah dengannya." lalu mereka tertawa lagi.
"Dasar wanita, memang aneh." ucap Zain yang memilih menjauh saat dua wanita manja itu asik bercengkrama.
Lama mereka mengobrol, akhirnya Nora memutuskan naik ke kamar. Sedangkan Maura kini sedang berada di dapur membantu Kenia memasak.
"Kamu nggak papa sayang, bantuin tante di dapur? maaf ya,?"
"Gak papa tante, lama banget Maura nggak main kesini, kangen juga sama tante."
Hati Kenia pun menghangat mendengar penuturan Maura, putri mantan kekasihnya.
"Kakak ipar," lagi-lagi suara Nora berhasil membuat Maura tersentak.
"Kakak ipar apaan, sih hmm." protesnya.
"Kan lo bentar lagi nikah sama saudara kembar gue." santai Nora.
Deg! Deg!
"Eh, sorry Maura bukan maksud gue." ucap Nora, " Gue ke atas dulu ya." Nora memilih kabur disaat berhasil membuat Maura merasa canggung terlebih di depan Kenia. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, sembari menunduk.
__ADS_1
"Kenapa sedih sayang, menikahlah dengan Zain. Tante akan sangat bahagia jika kamu mau menjadi bagian dari hidup anak tante." ucap Kenia menggenggam lembut tangan Maura.
Maura pun memeluk Kenia, "Makasih tante." ucap gadis itu yang merasa terharu pun Zain yang terus tak lepas memperhatikan mereka.
Diam-diam, Zain menyiapkan sepasang cincin.
Dan ia akan melamar Maura besok, tepat dihari spesial Nora.
Salah satu pembuktikan bahwa ia tak pernah main-main dengan ucapannya beberapa waktu lalu. Zain Alexan, hanya ingin melindungi Maura dari Reynan dengan cara mengikatnya segera.
***
Di sebuah rumah, Aurora tampak menyunggingkan senyum saat mendengar kabar bahwa besok adalah pernikahan Nora Lee, meski acara pernikahan itu privat namun, Ia dan kedua orangtuanya tentu akan hadir.
Mereka adalah keluarga, dan kesempatan itu Aurora gunakan untuk mengajak Reynan, hya akhir-akhir ini Rey memang berubah sikap dengannya. Namun, Aurora punya berbagai cara untuk membuat laki-laki itu memilih diam menuruti keinginannya.
"Aku boleh ajak pacar kan, pa?" tanyanya dengan nada manja.
"Kamu punya pacar?" tanya Sam dengan alis bertaut, "Tentu," jawab gadis itu dengan seulas senyum.
"Tapi pacarmu harus bisa menjaga privasi calon istri Nora, Rora!" tekan Kamila.
"Iya mama, tenang aja." Aurora mencebik.
"Mama serius, calon suami Nora masih sekolah dan Om Shaka minta sama semua keluarga agar bisa menjaga privasi itu sampai Devano lulus."
__ADS_1
"Iuhhh, Nora nikah sama bocah ma?" kini Aurora yang terkejut saat tahu penuturan sang mama, Kamila mengangguk.
"Iya deh, bukan urusan Aurora juga." seru agdis itu lalu pamit masuk ke dalam kamar.