BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Over!


__ADS_3

"Jangan tebar senyum, lagi sama aku aja kamu tebar senyum mas apalagi kalo aku gak ikut tadi." Rain melipat tangannya di dada, masih kesal. Kini mereka sedang berada di ruangan Radit, sudah dibuat kesal belum lagi sedari tadi ditinggal-tinggal.


Sikap Rain semenjak hamil memang begitu, over! tapi bukankah itu wujud dari sayang juga cemburu, Rain tak ingin jika apa yang jadi miliknya menjadi pusat perhatian, begitulah kira-kira.


"Aku nggak tebar pesona, aku hanya bersikap ramah kepada semua orang terlebih ini rumah sakit milik kita, kita harus ramah kepada siapapun yang ada disini sayang!" jelas Radit.


"Tapi bukankah harusnya mereka hormat sama kamu, sebagai pemilik rumah sakit ini?" tanya Rain, heran melihat suaminya seperti itu.


"Iyaaa, mereka juga menghormatiku, sangat menghormatiku tapi aku bukan CEO perusahaan yang dingin dan kejam, aku Raditya permana hanya anak yatim piatu yang berusaha baik terhadap semua orang, aku ingin merasakan hangatnya punya saudara dan keluarga. Aku ingin semua orang dekat denganku, mengobrol bukan hanya tentang pekerjaan, tapi ngobrol ini itu." Radit menghela napas sejenak, menatap Rain lekat, "Apa kau mengerti maksudku?"


Rain terdiam beberapa saat, sejurus kemudian mengangguk.


"Maaf, aku tak bermaksud."


**


Lima bulan berlalu, perut Rain sudah terlihat membuncit, dan Rain berhasil melewati masa-masa hamil trisemester pertama.


Radit pun begitu, sebagai suami dan calon ayah siaga. Ia terus mengajak janinnya mengobrol, bercerita dan setia mengusapnya.


Kini usia kandungan Rain enam bulan, sudah mulai ada pergerakan dan respon.


"Pagi sayang," sapa Rain kala Radit terbangun. Entah kenapa sepagi ini istrinya sudah terlihat cantik dengan dress hamil yang dipakainya.


"Pagi istriku, hmmm sepagi ini kamu sudah cantik, kenapa baru membangunkanku!" seloroh Radit menyibak selimut kemudian meminta Rain mendekat.


Rain pun mendekat, tersenyum manis dan duduk di sisi ranjang.


"Cepetan mandi, biar aku yang bereskan kamar tidurnya. Aku mau ajak kamu jalan pagi."


"Iya tapi cium dulu, ayah minta dicium ini." Radit menunjuk pipi kirinya.

__ADS_1


"Gak mau." tolak Rain kemudian beranjak, berjalan menuju balkon kamar. Radit menggelengkan kepalanya, lalu beranjak mandi. Sejak hamil Rain memang begitu, selalu menolak jika Radit meminta cium sebelum mandi. Alhasil membuat dokter tampan itu segera mandi dan ingin segera memeluk istrinya.


Saat Radit masih berada di dalam kamar mandi, Rain kembali ke kamar. Menyiapkan pakaian santai untuk suaminya, serta sepatu yang akan digunakan. Sementara Rain mengganti bajunya, dengan dress yang lebih menutupi tubuhnya. Meski sedang hamil, Rain masih terlihat seksi walau dengan badan sedikit berisi.


Memoles tipis wajahnya, lalu mengikat rambut panjangnya tinggi. Radit keluar, kemudian tanpa kata memeluk istrinya dan menciumnya bertubi-tubi.


"Astaga sayang, sudah cukup ya. Pakai baju dulu." titah Rain kala menyadari Radit hanya memakai handuk untuk melilit pinggangnya.


"Gak mau, ayo kita olah raga?" Radit mengedipkan sebelah matanya, menggoda sang istri.


"Lah, iya kan kita mau jalan pagi." seloroh Rain, ia memalingkan wajah dengan ekspresi menahan senyum, menggelikan!


Rain paham apa yang dimaksud Radit, tapi ia juga ingin tau apakah suaminya akan memaksa jika ia pura-pura tak paham maksud.


Seperti dugaannya, Radit langsung meraih pinggang sang istri, memeluknya dari belakang.


Radit menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, hembusan nafasnya bisa Rain rasakan, hangat menerpa kulit lehernya.


Lalu dengan cepat membimbing sang istri ke arah ranjang, menyibak dress dan melakukan ritualnya.


Hingga di jam berikutnya, dua insan yang habis memadu kasih itu terbaring bersisihan dengan wajah saling memandang dan tersenyum.


"Makasih sayang.." Ucap Radit, menatap lekat Rain. Rain hanya tersenyum.


**


Niat bangun pagi ingin jalan agar kelak proses persalinannya lancar, Radit justru membuatnya berolah raga di tempat.Alhasil Rain dan Radit mandi dua kali sebelum sarapan.


Dua sejoli menuruni tangga, lalu tersenyum kala melihat bik Salis menyambut mereka.


"Loh, Non Rain nggak jadi jalan pagi toh, bibik kira tadi udah keluar sama den Radit, makanya bibik baru masak." ujar bik Salis.

__ADS_1


"Gak jadi bik, olah raga di tempat jadinya." Bukan Rain yang menjawab, melainkan Radit. Dan jawaban itu berhasil membuat Rain menginjak kakinya kuat-kuat.


"Sakit sayang." pekik Radit. Rain terkekeh kemudian memilih menghindar dan berjalan lebih dulu ke meja makan.


"Makan yang banyak, biar dedeknya di dalem nutrisinya cukup! Oh ya, besok jadwal USG sayang."


"Iya, kamu temenin aku kan?" Radit mengangguk sebagai jawaban.


Weekend mereka habiskan dengan berkebun, entah kenapa Rain ingin membuat taman mawarnya lebih luas. Alhasil, Radit menurutinya. Terlebih ini keinginan sang istri, Rain memang sangat menyukai bunga.


**


Esoknya, pagi-pagi sekali Rain bersiap. Hari ini jadwal periksa kandungannya, dan ia berangkat bersama Radit ke rumah sakit.


Radit membawa Rain bertemu dokter Maura, mengingat dokter Maura adalah dokter obgyn di rumah sakit Hermina.


"Baiklah Nona, silahkan berbaring dulu." pinta dokter Maura, Rain menurut. Maura menyibak sedikit pakaian Rain, lalu mulai mengoleskan gel. Barulah ia menempelkan alat yang bisa menghubungkan rahimnya ke layar monitor. Dengan teliti Maura menggeser dan menjelaskan secara detail kondisi debay Rain.


"Bayinya sehat pak, untuk jenis kelaminnya mau tau sekarang atau nanti?"


"Sekarang aja dok, biar kami bisa segera mempersiapkan keperluannya." jawab Rain.


Maura tersenyum, memadang Radit dan Rain bergantian.


"Selamat pak, calon anak anda dan nona Rain perempuan. Kemungkinan besar akurat."


"Pantas menyukai bunga." gumam Radit, dan Rain hanya terkekeh.


"Pak Radit bilang apa?" tanya dokter Maura yang mendengar gumaman Radit.


"Ohh, itu nggak papa. Oke tengkyu Mar!"

__ADS_1


__ADS_2