
Aku bilang, aku menyukai senja, Senja itu menenangkan..
Hya, ketenangan bersama senja lebih menjanjikan daripada janji mantan..
Melihat sinar matahari berwarna kuning keemasan, lalu perlahan memudar berganti malam adalah favoritku..
Kamu dan senja itu sama, sama-sama menjadi tempat yang paling menyenangkan.
**
"Sudah dong jangan ngambek, ini kan mau sampai!" ucap Radit, tangannya sebelah mengusap punggung tangan Rain, agar istrinya berhenti ngambek, padahal Rain mah hanya pura-pura ngambek, bukan demi pantai tapi demi menghindari serangan suaminya.
"Hemm, iya aku nggak ngambek." masih dengan raut wajah datar tanpa memandang suaminya, aslinya ia menahan diri agar tidak tersenyum, pegel juga sebenarnya ketika kita pengen senyum atau tertawa tapi harus menahannya.
"Senyum dong, ayo senyum." bujuk Radit.
Mobil sudah hampir sampai di parkiran, terlihat dari jauh pemandangan pantai dan senja yang menawan.
Settttt!
Mobil berhenti, "Bentar, aku watshapp Viona dulu." seru Rain, ia hendak mengambil benda pipih di dalam tasnya.
"Ehh, jangan kita berdua aja yaaaa!"
Rain mendesah pelan, lalu menatap lekat suaminya, " Kenapa, kan kita kesini emang nyusul mereka."
Radit menggeleng, masih di dalam mobil mereka berdebat kecil, "Kita nikmati waktu kita berdua, aku yakin mereka juga melakukannya, hya menikmati waktu bersama tanpa gangguan siapapun!" jelas Radit.
"Jadi kita ganggu mereka dong?" tanya Rain, ia membuka knop pintu mobil lalu turun, disusul Radit.
"Enggak, kita kan lagi berdua, nggak sama mereka! Kalo kita tiba-tiba nyusul mereka pada lagi uwuu- uwunya kan sayang, kita ganggu!"
"Iyakah?"
"Hmm, mungkin iya sih!" ragu Radit.
**
Rain tambah mengerucutkan bibir, kala orang-orang menatap suaminya penuh kagum.
Kesal, iya Rain merasa miliknya menjadi pusat perhatian, meski Radit terkesan cuek dan tak menanggapi, tetap saja Rain merasa terganggu dengan orang-orang.
"Jangan jauh-jauh, jangan genit! Semua orang ngelihatin kamu mas." omel Rain, bibirnya menerucut, kesal.
"Lah tadi yang gak mau aku gandeng siapa?" Radit balik nanya.
"Ishhhh, dasar nggak peka, aku bukan nggak mau tapi lagi marah." kesal Rain lalu melangkah lebih dulu.
Buru-buru Radit mengejarnya, kini mereka sudah sampai di pinggir pantai.
"Greppp!" dengan kekuatan sepuluh jari, Radit langsung berhasil menangkap istrinya.
__ADS_1
"Jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang!"
Radit dan Rain memilih menikmati senja berdua, ditemani es kelapa muda mereka berdua duduk di tepi pantai, namun tak terjangkau ombak, semilir angin nan sejuk di tambah indahnya cahaya jingga yang mulai memudar.
Tenang, salah satu alasan Rain dan Radit sama-sama menyukai senja, cahayanya membawa ketenangan.
**
Sementara disaat Radit dan Rain sedang menikmati bulan madunya.
Berbeda dengan laki-laki yang semenjak cinta pertamanya pergi ia lebih banyak mengurung diri di kamar, enggan berbicara banyak dan memilih menjadi pendiam, meski tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa.
Kata ikhlas yang kerap kali ia lontarkan nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Aku ikhlas, Net! Kamu tau kan Rain begitu istimewa di mataku sampai kapanpun."
Di sudut taman ia berbicara kepada Neta, meski awalnya ragu-ragu akhirnya Angga meluapkan semuanya.
"Gue tau, lo belum sepenuhnya ikhlas! gue ngerti, pelan-pelan pasti bisa!" Neta tersenyum mengusap pelan pundak Angga. Dulu ia berfikir Andrelah yang bernasib miris, namun ternyata Angga lah yang paling menderita, nyatanya Neta berhasil menjadi satu nama di hati Andre.
"Aku bisa kok, tapi untuk saat ini biar begini dulu, aku masih nggak ngerti sama hatiku, jangan paksa aku menerima orang lain dulu, aku masih trauma, Net!"
Niat Neta memang baik, ia ingin Angga segera move on. Namun bukan tak mau, Angga masih belum siap membuka hatinya, pelan-pelan.
"Gapapa, tapi kalo kamu ada apa-apa, butuh temen atau pengen cerita, bilang sama aku! Ngga, mungkin dulu aku jahat sama Rain, tapi sekarang aku sadar, aku salah dan aku benar-benar nyesel, meskipun sekarang Rain temenan sama aku dan udah maafin aku tapi tetap aja, dia memang gadis yang luar biasa, Ngga!"
Satu-satunya hal tersulit bagi Angga adalah ikhlas dalam hati, perihal perkataannya, berulang kali ia berkata ikhlas, namun untuk melakukannya memang sedikit susah.
**
Rain merebahkan diri di atas ranjang, badannya hampir remuk dan sakit semua, namun entah kenapa ia justru memakai liger*e malam ini.
"Apa kau ingin terus aku memakanmu tanpa ampun." Radit menarik Rain hingga istrinya itu jatuh di pangkuannya.
Tanpa menunggu persetujuan, ia membungakam bibir Rain dengan bibirnya.
Rain pun membalasnya, hingga tangan Radit sudah bergerilya kemana-mana.
"Stoppp!" pekik Rain kala sadar tangan Radit hampir penanggalkan liger*enya.
"Kenapa, hmm?"
Rain hendak menolak, namun melihat ekspresi wajah Radit seperti menahan sesuatu akhirnya ia pasrah, " Yaudah, ayoo.." malu-malu Rain berkata, seperti mendapat lampu hijau, Radit pun langsung melakukannya.
"Semoga badanku masih bisa diajak kompromi." batin Rain meringis ketika Radit mulai menghujaninya tanpa ampun.
Selesai pergum*lan panas itu, Rain memejamkan mata hingga pulas, tubuhnya las tak berdaya, lelah.
Sedang Radit tersenyum penuh kemenangan, lalu ikut berbaring di samping istrinya.
**
__ADS_1
Pagi menyapa, merasa hawa panas menyentuh kulitnya Radit bangun lebih dulu.
Mendapati suhu badan istrinya tinggi, ia panik sendiri.
"Sayang, sayang bangun!" namun sepertinya Rain benar-benar kelelahan, hingga ia sama sekali tak terganggu dengan pekikan Radit.
Dengan cekatan pula, Radit mengompres Rain, beruntung ia membawa perlengkapan periksa serta beberapa obat.
Menghela nafas kasar, lalu mengusap pelan wajahnya Radit menunggu Rain terbangun.
"Mas!" Panggil Rain dengan wajah senyumnya, "Ayo pulang!" ajak Rain, Radit hampir menangis melihat istrinya tak berdaya, ia merasa bersalah, bagaimanapun juga Rain sakit karenanya, karena dia yang menyerangnya tanpa ampun.
"Kita nggak jadi pulang!" tegas Radit, tangannya menggenggam jemari Rain lalu mengecupnya.
"Kenapa, kenapa dahiku ada kompresan!" tanya Rain.
"Maaf, gara-gara aku kamu jadi kaya gini." Sesal Radit.
"Nggak mas, emang waktunya aku sakit! bukan gara-gara kamu, aku nggak mau kamu nyalahin diri sendiri."
Radit bangkit, lalu mencium kening Rain lama, beranjak keluar kamar lalu kembali lagi dengan membawa semangkuk bubur.
"Loh mas, aku dah sembuh!"
Radit tetap diam, lalu mulai menyuapkan bubur ke mulut istrinya, " Buka mulutmu sayang!" titahnya.
"Tapi mas, kita jadi pulang kan?"
"Nggak!"
"Tapi aku ingin pulang," rengek Rain, mode manja.
"Makan dulu, istriku. Oke kalo kamu sudah sembuh dan makan kita pulang!" Akhirnya Rain menurut, entah kenapa Rain ingin sekali segera pulang ke Jakarta, Rain lebih nyaman istirahat disana.
Tok tok tok, ketukan kamar terdengar.
Sejenak bangkit, lalu berjalan membuka knop pintu.
"Jadi pulang, Dit?" tanya Dion, Radit mengangguk, "Nanti ya agak siangan!" Seu Radit, Dion pun mengangguk setuju lalu kembali ke kamar.
**
Pukul 10.30, mereka melesatkan mobil. Perjalanan pulang ke Jakarta, berharap tanpa ada hambatan.
Radit memilih lewat toll, melesat dengan kecepatan tinggi.
Hingga malam hampir larut mereka sampai di Jakarta dengan selamat.
Dion dan Viona langsung pamit, mengingat mobil mereka ada di rumah Radit.
**
__ADS_1