
Maura menggeliat, badannya terasa sesak akan tetapi mata enggan terbuka.
Seperti ada timpukan berat yang menimpa tubuhnya.
"Kamu jahat, kamu beneran jahat kak." gumam Maura tanpa sadar.
Zain yang merasa Maura mengigau berusaha menepuk-nempuk pelan pipi istrinya.
Jam masih menunjukan pukul 11, dan Zain tak dapat memejamkan mata. Ia justru terganggu dengan pikiran liar dan gejolak yang tiba-tiba menghampiri, Zain kembali memandang wajah Maura yang terlelap, ia bisa tahu jika istrinya saat ini sedang gelisah meski dalam keadaan tidur.
Zain memutuskan untuk merebahkan diri di samping Maura, dipandanginya wajah cantik tanpa cacat, natural dan sangat menggoda.
Lalu perlahan ikut memejamkan mata, memeluk tubuh mungil semalaman.
"Kak Zain," gumam Maura saat pertama kali membuka mata, sinar mentari menelisik masuk lewat celah jendela, malam sudah berganti pagi rupanya.
"Kenapa jantungku berdetak kencang hanya karena tangannya melingkar erat di perutku." gumamnya lagi, lalu perlahan mengindahkan tangan milik Zain yang masih pulas tertidur.
Maura masih berfikir kenapa tiba-tiba Zain kembali ke rumahnya, apa papa dan mama yang menyuruhnya kembali, seingatnya waktu hendak tidur suaminya itu belum datang.
Maura membersihkan diri, tubuhnya masih begitu nyeri. Namun, ia berusaha menahan diri.
Mungkin berendam air hangat, akan sedikit menenangkan.
Setelah selesai, Maura keluar dengan tubuh lebih bugar dan handuk yang melilit pinggang, berfikir Zain masih tidur pulas.
"Sudah selesai?" tanya Zain yang masih duduk di atas ranjang dengan wajah kumal khas bangun tidur. Maura tersentak lalu menoleh.
"A-aku fikir kak Zain belum bangun." gegas ia meraih baju ganti dan masuk ke ruang khusus ganti baju.
__ADS_1
"Haish, sepagi ini sudah membuat hasratku meronta." batin Zain menelan saliva saat punggung mulus milik Maura menghilang.
Zain bangkit, dan masuk ke kamar mandi.
Maura sudah terlihat cantik dengan polesan make up tipis di wajahnya, sementara Zain baru saja menyelesaikan mandinya.
"Apa ada bajuku, disini?" tanyanya, langsung diangguki oleh Maura. Tak ingin lama-lama memandang tubuh kekar Zain yang terekpos karena hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang, gegas Maura mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
"Ini, ba-"
"Terima kasih," Zain langsung mengambilnya dan berlalu. Di dalam ruang ganti ia terus saja mengumpat, "Sial, aku tak bisa menahannya."
"Kak, kenapa lama sekali?" teriak Maura, merasa tak ada jawaban, ia pun melihat ke ruang ganti, rupanya Zain suaminya tak mengunci pintu.
Grepp!
Zain langsung menarik Maura, saat istrinya masuk. Maura tersentak dan memandang Zain tak percaya, " Kak, mau a-apa?" tanya Maura, berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Tapi,-"
Maura tak sempat protes saat tiba-tiba bibir Zain membungkam bibirnya, jika waktu itu Maura tak membalas, kini perlahan ia membuka mulut, membiarkan Zain lebih leluasa.
"Bernapas bodoh." umpatnya kala napas Maura tersengal.
"Hosh.. hosh.. hosh.. Maaf kak,"
"Diam dan jangan teriak." titahnya hingga membuat bulu kudu Maura meremang, lalu dengan kasar membalikkan tubuh Maura dan menyingkap gaun yang dikenakan istrinya.
Keringat dingin mengucur, Zain benar-benar melakukannya, hingga tanpa sadar sudut mata Maura mulai berair.
__ADS_1
"Maaf untuk yang kemarin, aku diluar kendali. Tapi untuk kali ini, karena kau yang dulu menggodaku."
"Aku?" tanya Maura sembari menunjuk diri sendiri.
"Iya, siapa lagi."
"Kita turun, nanti sore kita pulang."
Maura mengangguk saja, sampai bawah. Radit dan Rain yang baru menyadari kehadiran menantunya pun menyambut dengan sumringah.
"Loh, mama kira kalian..." Ucapan Rain terhenti saat putrinya memberi kode agar merahasiakan masalah ia menangis kemarin.
"Enggak, ma!" sahut mereka hampir bersamaan. Setelah menyapa, mereka pun mulai sarapan bersama. Sanwich dan segelas susu menemani pagi mereka.
Zain pun menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Maura, Rain serta Radit pun percaya. Setelah sarapan mereka berpamitan, Zain akan membawa Maura pulang ke rumah.
"Kak," panggil Maura saat mereka sudah sama-sama masuk ke dalam mobil Zain.
"Hmm,"
Maura menghela napas sejenak, "Kita cerai saja?" tanyanya seketika langsung membuat Zain menoleh.
"Kamu ingin cerai, hm?"
"Jika memang tidak bisa, kenapa dipaksa." jawab Maura.
"Jadi kamu terpaksa?" tanya Zain lagi, Maura hanya menghela napas.
"Beri satu alasan," gumam Zain sebelum melajukan mobilnya sangat kencang.
__ADS_1
like komen dan vote ya akak😌