BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Mode on off


__ADS_3

"Rain..." Ulang Neta untuk kesekian kalinya, berharap gadis itu memberinya maaf.


"Net, sorry gue lagi enggak fokus! besok aja yaa." Rain memohon.


Neta mengangguk, kembali ke tempatnya dengan wajah kecewa, ia bermonolog apakah memang benar-benar pantas mendapatkan maaf dari Rain.


Mungkinkah Rain bisa memaafkan dirinya, serta segala perbuatan dan sikapnya dulu.


Rasanya tak mungkin, tapi Neta akan tetap berusaha.


Andre mendekat ke arah Rain, ia menyodorkan air mineral dingin.


"Buat kamu."


Rain menggeleng pelan, wajahnya masih lesu. Dengan gontai ia meracik minuman, kelab semakin rame, bahkan banyak pengusaha berdatangan, mereka adalah teman-teman Dion.


"Kenapa, takut ada obatnya lagi?" tanya Andre.


Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Rain.


Andre meminum lebih dulu air itu sedikit, lalu menyodorkan ke Rain.


"Minum gih, aku tau kamu haus." pintanya.


Setelah melihat Andre meminum air itu, Rain kemudian menerima dan meminumnya hingga hampir tandas.


"Makasih, Ndre!" Seru Rain.


"Sama-sama." Andre berlalu, ia senang bisa dekat lagi dengan Rain si bartender cantik.


Dion mengomel, " Rain, astaga! gue spam chat enggak masuk!"


Dion menatap Rain sembari berkacak pinggang, boss mah bebas!


Matanya menatap Rain tajam, dengan wajah datarnya.


Rain meraih benda pipih di dalam tasnya, lalu mematikan mode pesawat tepat didepan Dion.


"Astaga, jadi kamu mode pesawat." kesal Dion.


Rain hanya nyengir kuda, "Emang ada apa?"


"Bawa beberapa botol wine ke ruang VIP 04." titahnya.


Rain menyiapkan banyak botol wine di atas nampan, lalu membawanya ke ruang VIP 04, Disana sudah ada Dion dengan beberapa pengusaha keren, muda dan tampan.

__ADS_1


"Permisi tuan, maaf menunggu lama." Rain meletakkan wine diatas meja kaca.


Ruangan luas dengan sofa panjang, lampu disco, juga fasilitas untuk dj dan karaoke.


"Silahkan." ujar Rain sopan, kemudian meminta izin kembali ke meja bar.


"Tunggu Nona, kenapa buru-buru," seru laki-laki tampan bernama Diska.


"Maaf, saya harus kembali bekerja!" seru Rain mrmbungkukkan badan,sopan.


"Ck! sombong kali tu cewek, tapi menarik sih." Lagi-lagi Diska mengoceh.


Dion yang sedari tadi memijat pelipisnya, mengambil bantal, lalu melemparnya ke arah Diska, matanya melotot tajam.


"Awas lu, macem-macem sama tu cewek." Ancamnya dengan isyarat tangan memotong leher. Pertanda Dion sedang tidak bercanda.


***


Rain men-offkan kembali ponselnya, kesal karena Radit tak kunjung memberi kabar.


"Arghhhh!" pekiknya, kesal.


Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan wajah murung, diambilnya Wine, dituangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya perlahan.


"Dikit, Vi. Kali ini aja." pintanya memelas.


Viona paham, lalu membiarkan Rain meminum winenya. Ia akan tetap mengawasi sahabatnya itu, agar tidak terlalu banyak minum hingga mabuk.


"Rain, udah ya." pinta Vio.


Rain mengulas senyum, kemudian merebut kembali winenya.


"Rain, lo kalo ada masalah cerita ama gue! gosah minum sii, kenapa? hah!" omel Vio.


Dan akhirnya Rain menghentikan aksi minumnya, menunduk lalu menangis.


Hiks.. hiks..


"Kenapa, hmm cerita ama gue, biasanya lo slalu terbuka sama gue, apapun! cerita sama gue gih, biar hati lo lega, biar hati lo tenang. Gue ini sahabat lo, kalo lo butuh tempat buat bersandar, gue siap kapanpun!" pinta Viona.


Rain memeluk Viona erat, "Kalo gitu temenin gue ke dance floor."


"Terus siapa yang jaga disini, hey!" Viona bukan tak mau menemani, tapi keadaan kelab sedang full pengunjung, sedang jika ia dan Rain maju ke depan, meja bar enggak ada yang handle, Viona dilema.


Ia terus berfikir, gimana caranya agar bisa dua-duanya, namun nihil. Rain terus merengek dan menarik tangannya.

__ADS_1


"Biar gue handle, kalian kesana aja." Andre muncul disaat yang tepat, Viona berbinar.


"Serius, lo bisa?" tanya Viona.


Andre mengangguk dengan seulas senyum, sementara Viona dan Rain sudah berpindah tempat di dance floor depan dj Angga.


Dentuman musik semakin malam semakin memekakkan telinga, bau minuman dan ramainya pengunjung kelab juga mewarnai.


Rain sudah kepalang pusing, sejurus kemudian teringat hapenya mode off, padahal sebentar lagi waktunya pulang, ia akan meminta Radit menjemputnya.


**


Brukkk!


Rain menabrak seseorang, tanpa sengaja.


"Maaf, maafkan saya." seru Rain, langkahnya sudah tak beraturan.


"No problems!" Sahutnya, ia mengulas senyum.


**


Sisi lain, Radit baru saja pulang dari acara syukuran bayi kembar Shaka dan Kenia, ia tampak sekali lelah.


Sebab dari Rumah sakit hanya istirahat bentar dan langsung menuju kesana, setelah membersihkan diri Radit merebahkan tubuh letihnya di atas ranjang.


"Huft, lelah sekali, rasanya tulang-tulangku remuk." keluhnya sendiri.


Ia memejamkan mata sebentar, berharap bisa menghilangkan capeknya, baru ia akan menelpon Rain.


Namun Radit justru ketiduran, ponselnya pun mati.


Jam menunjukan pukul dua dini hari, Radit membuka mata. Tersadar jika ia melupakan kekasihnya, Rain!


"Hmm, pasti auto ngambek dia. Mana jam segini." keluh Radit.


Ia mengambil ponselnya, berusaha menghubungi Rain.


"Sial, mati pula kau ni.. " omel Radit pada ponselnya, kesal sekali ia.


Mau tak mau, Radit harus mencarger ponselnya dulu.


Setelah dirasa sudah terisi batrenya, ia mencoba menghubungi Rain.


Sialnya nomor Rain tidak aktif, membuat ia berfikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


__ADS_2