
Tiga bulan berikutnya,
"Akh, sakit yang! Kenapa sakit begini." Keluh Rain, merasakan kontraksi palsu saja membuatnya memekik dan ingin mencengkram bahu sang suami kuat-kuat, remuk sudah badan Radit menjadi pelampiasan sejak semalam.
Ya, sedari tadi malam, Rain mulai merasakan kontraksi palsunya.
"Buat jalan sayang, biar lancar. Kalo ke rumah sakit sekarang, itu masih lama loh belum tentu lahir hari ini, karena kontraksi kamu masih palsu, jaraknya juga masih lama. Kamu kan sekarang gak betah di rumah sakit!" terang Radit, ia mencoba menenangkan sang istri, karena Rain sesekali merengek, diam terus merengek lagi.
Rain sudah mencoba jalan, wara wiri mengintari rumah, sambil sesekali memegangi perut. Namun, semakin lama sakit itu semakin tak berjarak, hingga membuatnya berulang kali meringis kesakitan.
"Aku laper, sakit juga butuh tenaga!" seloroh Rain, lalu dengan sigap Radit mengambilkannya untuk sang istri, karena tiba-tiba Rain ingin makan sembari melihat taman bunganya.
"Panggilin bi Salis yang..." selesai makan Rain mulai merengek lagi.
"Iya Non, saya dari tadi disini." Seru bi Salis mendekat, sedari tadi Art kesayangan Radit itu berada tak jauh dari tuan dan nona mudanya.
"Bik, kenapa mau melahirkan sakit sekali, harus gimana biar gak terlalu sakit?" konyol memang pertanyaan Rain.
"Sabar sayang, kamu pasti bisa. Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Rain mengangguk lesu, "Tapi bibik ikut kan, aku gak udah gak punya ibu, aku juga udah gak ada ibu mertua. Bibik temani aku ya?" pinta Rain memelas.
Bi Salis mengangguk mengiyakan, "Bibik temani Non, non Rain tenamg, dan atur napas ya. Kita berangkat sekarang?" Bi Salis menyiapkan segala perlengkapan yang akan di bawa ke rumah sakit, lalu bergegas menyusul Radit dan Rain ke mobil.
Saat ini, Radit begitu cemas. Namun, ia berusaha tenang dan konsentrasi dalam mengemudi. Berusaha tenang, agar istrinya juga lebih rileks.
Sementara di kursi belakang, Rain duduk dengan bersandar tubuh bi Salis, wanita paruh baya itu tak hentinya menenangkan Rain.
"Sakit bik, sakit sekali, aku gak kuat!"
Bi Salis hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Nona mudanya, sedang Radit terus berusaha mempercepat laju mobilnya.
"Tahan sayang, bentar lagi sampai."
Saat tiba di parkiran rumah sakit, Radit langsung mengerahkan suster dan dokter untuk menangani istrinya.
__ADS_1
Hingga tiba di ruang persalinan, dan dengan dibantu dokter serta dua suster, akhirnya Rain melahirkan dengan normal. Meski harus mengorbankan bi Salis dan Radit sebagai pelampiasan saat menahan sakit.
"Selamat pak Radit, bayi anda perempuan. Cantik seperti ibunya!" ucap Dokter Maura.
Bayi mungil itu, ia serahkan kepada Radit setelah kegiatan IMD dan dibersihkan.
"Hay cantik, kesayangan Ayah!" Radit menatap bayi mungilnya penuh haru, jika Rain melihat bayinya, pasti ia akan sangat bahagia.
"Bentar ya, mamamu masih istirahat, sama papa dulu!" celoteh Radit seolah bayi kecilnya mengerti apa yang iya katakan.
"Selamat den, bayinya cantik. Bibik turut bahagia." Ucap bi Salis.
"Makasih ya bik, makasih!"
***
Maura Annajira Permana
Dua hari sudah Rain berada di rumah sakit, hari ini ia sudah boleh pulang bersama bayi cantiknya.
Mobil melesat menuju rumah, bi Salis membantu Rain membawa perlengkapan, sementara istri Radit itu memilih menggendong Maura dengan dibimbing sang suami.
"Selamat ya, Rain. Bayi kamu cantik, sama persis sepertimu." ucap Kenia kala mereka sudah berada di ruang keluarga.
Satu-satunya keluarga yang Radit punya, kini tengah berkumpul di rumah itu, untuk apalagi kalau bukan menyambut kedatangan princess cantik Maura.
Rain meletakkan baby Maura ke dalam box bayi, lalu ikut bergabung dengan orang-orang di ruang tamu. Sengaja Radit meletakkan box bayi itu di dekat sofa tamu, karena moment-moment seperti ini pasti akan terjadi. Kehangatan keluarga yang pernah hilang kini hadir kembali dengan warna baru, warna penuh kebahagiaan.
Sementara para lelaki sedang berkumpul, dan perempuan-perempuan lebih suka menggofa baby Maura juga baby Aurora.
**
"Sepertinya pangeran kecilku akan bingung nanti, mau dengan Maura atau Aurora." celetuk Shaka.
__ADS_1
Sam dan Radit pun terkekeh, "Lo udah janji memilih putriku Shak." tegas Radit, namun diringi kekehan kecil. "Jangan membuatku kecewa." Sambungnya lagi, seolah mereka benar-benar akan menjodohkan Zain dengan baby Maura.
"Jangan pikirkan Aurora, aku akan membiarkannya memilih sendiri calon suami." ucap Sam. "Kecuali, kalo takdir berkata lain," sambungnya.
"Maksud lo?" serempak Radit menautkan alisnya, heran.
"Kecuali kalo anak Dion cowok, aku akan menjodohkan Aurora dengan anaknya." celetuk Sam.
**
Radit dan Rain benar-benar kompak mengurus Maura, bahkan kekompakan mereka mempuat iri setiap mata yang memandang.
"Dit, kapan acara syukurannya?" tanya Dina.
"Tiga hari lagi tant, tante bantu aku handle ya?"
Dina mengulas senyum, seraya menepuk pelan pundak Radit, "Tanpa kamu minta, tante pasti akan bantu. Kamu kan sudah seperti anak tante juga!"
Mendengar itu, Radit terharu! Ia memeluk Dina.
"Makasih, tante!"
"Sama-sama, nak! Jangan sungkan sama tante," ucapnya terakhir kali.
Mereka pamit pulang, setelah hampir seharian berada di rumah Radit, kini suasana kembali hening. Namun, Radit dan Rain bahagia. Kehadiran baby Maura benar-benar menjadi pelengkap perjalanan kisah cinta mereka.
Hari-hari mereka lewati dengan baik, merawat baby Maura dengan penuh cinta. Hingga tak terasa hari dimana acara syukuran Maura Annajira dilaksanakan.
Semua orang turut berbahagia, bukankah tak ada yang lebih membahagiakan selain menikmati kebahagiaan yang ada?
**
Hallo readerssss, akhir yang bahagia ya kan? habis ini aku mau lanjut novel Tante kesayangan Tuan Muda yaa, jangan lupa mampir dan sampai ketemu di BPC season 2
__ADS_1