
"Mas Radit..."
"Tolong.."
Rain terhuyung, dengan sigap Radit membimbingnya masuk kedalam mobil.
Radit mengernyit heran, lantaran Radit merasa Rain aneh dan kegerahan.
"Rain, kamu kenapa ? mabuk lagi. Kamu kan paling gak bisa minum banyak." terocos Radit panjang lebar.
Bukan menjawab, Rain malah mengibaskan bajunya dan bersandar di kaca mobil.
"Panas." keluh Rain.
Keringat mengucur di wajahnya.
Radit segera melajukan mobilnya menuju apartemen Rain.
Begitu sampai, segera ia menggendong Rain ala bridal style menuju lantai dimana apartemen Rain berada.
"Kamu kenapa sih Rain. Bisa gak sih, sekali saja tak merepotkan seperti ini. Bisa gak sih pulang kerja dalam keadaan waras, hmmm." Radit terus menggerutu di sepanjang jalan.
Susah payah ia mencoba menekan pasword pintu apartemen itu, dan setelah pintu terbuka Radit langsung membawa Rain ke dalam kamar.
"Panas..."
Rain terus mengeluh hingga membuat Radit bingung, lantaran Ac di kamar Rain juga sudah menyala.
"Hey, kenapa? Kan aku jadi bingung harus gimana." tanya Radit menatap Rain lekat.
"Tolong mas gerah." Rain mengiba dengan mata sayu, tangannya kembali mengibaskan bajunya.
Radit menelan salivanya susah payah, bagaimanapun juga ia laki-laki normal.
Belum juga bertindak, Rain telah lebih dulu menciumnya.
Ahmm...
"Maaf.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Rain, ia terduduk lemas di lantai.
Segera Radit meraihnya, ia membawa Rain ke kamar mandi.
__ADS_1
Dengan sigap ia mendudukan Rain di bawah Shower, dan mengguyurnya dengan air dingin.
Radit cukup paham apa yang terjadi dengan Rain, ia tak ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Maaf Rain, aku lebih baik melihat kamu sakit karena menggigil kedinginan dari pada aku harus membuat kamu menyesal nantinya. Menyesal meski aku tau jika itu terjadi, bukan sepenuhnya kesalahanku. Aku memang laki-laki normal Rain, tapi aku tau batasanku." cicit Radit.
Hingga akhirnya Rain sudah membaik, Radit membantunya bangkit berdiri. Dengan sigap pula ia mencari salah satu baju Rain di lemari kemudian meraih kimono dan menyerahkannya pada Rain.
"Ganti bajumu, aku tunggu di luar." titah Radit.
Rain mengangguk, segera ia mengganti pakaian basahnya.
**
"Maaf selalu merepotkanmu." cicit Rain.
Ia tertunduk malu.
"Sekarang ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa meminum obat itu." cerca Radit.
"Obat apa?" Rain tak begitu paham.
"Obat itu, emh..." Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya susah sekali menyebut obat perangsang.
"Itu, obat perangsang."
"Apa." Rain tersentak dengan ucapan Radit.
"Bagaimana bisa ?"
Radit mengedikkan bahu, tak tahu.
"Memangnya kamu minum apa tadi hm?"
"Aku ?"
"Emt, cuma air mineral si dari Andre."
"Andre?" ulang Radit takut salah dengar.
"Iya Andre, anak Blackzone juga."
__ADS_1
Radit mengepalkan tangannya erat, ia tak menyangka Andre yang begitu baik dan lugu tega ingin menjebak Rain dengan obat perangsang.
Entah kenapa emosinya meninggi, ingin sekali ia menghajar Andre.
"Berani sekali kamu mengusik wanitaku." gumam Radit emosi.
"Hey, Kenapa bengong." tanya Rain heran.
Radit memijat alisnya, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kalo begitu, besok berangkat kerja ku antar." ucapnya kemudian semakin membuat Rain heran.
"Tumben, tapi kenapa?" tanya Rain.
"Tak ada bantahan, atau aku paksa kamu berhenti kerja." ucap Radit dingin.
Bukan menjawab, Rain justru merebahkan diri diatas ranjang.
"Pulanglah," ucapnya kemudian.
Radit terdiam, ia memandang Rain dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ia masih begitu bimbang dengan perasaannya saat ini.
"Pulanglah mas, sudah larut." titah Rain, ia menarik selimut menutupi tubuhnya lalu terpejam.
"Rain..."
"Rain..."
Tak ada sahutan, ia mendekat. Memandang lekat wajah Rain seraya mengusap-usap keningnya.
"Rain, entah perasaan apa yang membuatku selalu peduli padamu dan selalu ingin melindungimu. Tapi sungguh aku tak ingin melihatmu bersama orang lain."
Radit mendaratkan bibirnya di kening Rain.
"Selamat malam." ucapnya berlalu.
Bukan pulang, ia justru meraih bantal dan tidur di sofa, entahlah! baginya apartemen Rain sudah seperti rumah kedua baginya.
__ADS_1
Namun saat ini ia belum bisa memastikan perasaannya pada wanita itu.