
Aku hanyalah wanita biasa, memiliki perasaan sensitif hingga mudah merasakan sakit, tau cintaku akan sia-sia, maka aku akan berpikir ribuan kali untuk mencintainya, kadang aku merasa sebodoh itu. Bahkan tuk membedakan cinta palsu dan tulus pun aku tak bisa.
Maura Annajira_
***
"Kita juga akan menikah, itu lebih baik ketimbang kamu terus menerus memikirkan dia, yang harus kamu pikirkan bagaimana caranya membuat Reynan menyesal telah menyia-nyiakanmu." ucap Zain begitu tajam hingga berhasil menyentil egonya.
"Aku juga harus menikah?" tanya Maura lebih kepada diri sendiri. Sebenarnya bukan itu alasan Zain menerima perjodohan sejak lahir itu, melainkan semata demi saudara kembarnya, Nora Lee.
Apapun, akan aku lakukan asal itu demi kebahagiaan Nora , dan sebentar lagi Nora akan bahagia. Itu artinya, aku juga akan segera menikah setelah pernikahan Nora dan Devano dilaksanakan.
Zain Alexan_
"Aku tidak mempercayai cinta terlebih saat melihat hatimu patah tepat di hadapanku, aku semakin takut jika hanya akan melukai perasaanmu, aku tidak berharap akan adanya cinta diantara kita, karena sampai kapanpun hatimu tak akan lepas darinya." Batin Zain terus memikirkan akan seperti apa kehidupan pernikahannya nanti, jika ia benar akan menikahi Maura.
"Kak?" panggil Maura, saat melihat Zain justru sibuk dengan lamunannya. Zain menoleh, tersenyum kaku sembari menatap Maura yang kini tengah berdiri tepat di sampingnya. Memandang hamparan danau pinggiran.
"Pulang aja yuk," Ajak Maura, Zain menautkan alisnya heran. Belum ada satu jam mereka sampai di tempat nyaman nan sejuk itu, kini tiba-tiba Maura mengajaknya pulang.
"Kenapa, hm?" mendengar pertanyaan Zain membuat Maura meringis, sebenarnya ia masih begitu canggung.
__ADS_1
"Nggak jadi deh," sahutnya seolah memang suasana hatinnya saat ini sedang berubah-ubah.
Menghela napas kasar, dan memilih menatap ke arah danau. Airnya yang jernih membawa ketenangan bagi Zain, entah bagi Maura. Gadis itu sedang dilanda gugup luar biasa.
"Om Shaka sudah setuju?" tanya Maura tiba-tiba, "Bahkan papa yang memintaku langsung." jawab Zain.
"Jadi kak Zain juga terpaksa menerimanya, sudah ku duga kalau dia itu layaknya gunung es yang tak akan pernah mencair. Sikapnya susah ditebak, kadang peduli kadang cuek." Batin Maura yang tanpa sengaja memperhatikan Zain yang tengah fokus melihat pemandangan danau.
***
Zain mengantarkan Maura pulang ke rumah, namun ia tersentak akan kehadiran papanya di rumah om Radit, demi apa?
"Itu mobil om Shaka kan, kak?" tanya Maura memastikan, Zain hanya mengangguk.
"Hai, om! Apa kabar, kangen sama Maura ya?" sapanya dengan seulas senyum, lalu meraih punggung tangan Shaka dan menciumnya.
"Baik, Nak? Kamu sendiri?" Maura melirik Zian sekilas, lalu mengangguk senyum, "Baik juga om, tante sehatkan?" tanyanya basa-basi.
"Sehat, mainlah ke rumah. Zain, ajak lah Maura kesana sekali-kali." goda Shaka sembari terkekeh. "Iya pa." Sahut Zain yang ikut duduk di samping papanya.
Maura pergi ke dapur untuk membuatkan Zain minum.
__ADS_1
"Jadi gimana, apa kamu perlu bantuanku untuk pernikahan putrimu?" tanya Radit setelah Shaka memberi kabar bahwa Nora akan menikah beberapa hari lagi.
"Aku butuh putrimu yang cantik ini untuk menjadi menantuku." ucap Shaka begitu santai dengan senyum di bibirnya.
"Ngomong-ngomong dimana Rain, apa dia sedang menyiapkan wine untukku?" tanya Shaka. Radit menggeleng keras, "Dia sedang tidur, belakangan badannya kurang fit karena lelah."
"Apa kau terus mengajaknya lembur." goda Shaka, sontak Radit memutar bola matanya malas. "Jangan membicarakan hal yang tidak baik di depan anak-anak, Shak!" desahnya.
Shaka terkekeh, terlebih saat Zain dan Maura saling pandang karena tak mengerti obrolan kedua ayah mereka.
"Oke sekarang aku serius, aku ingin menikahkan Nora, dan kalian harus datang!" ucap Shaka dengan seulas senyum.
"Nora menikah om, dengan siapa?" tanya Maura yang terkejut karena setahu Maura, Nora hanya dekat dengan Devano yang statusnya masih kelas tiga SMA.
"Dengan Devano Aldeva." jawab Shaka, Radit langsung membulatkan matanya tak percaya, marga Aldeva adalah marga yang sama dengan Bayu Aldeva. Pemilik perusahaan besar kontruksi di Indonesia, juga Asia.
"Aldeva? itu artinya dia penerus Aldeva group?" tanya Radit penasaran. Maura yang tak mengerti pun memilih diam.
"Bukannya Devano masih sekolah om?" tanya Maura.
"Iya, dia masih sekolah. Itu sebabnya, Pak Bayu meminta untuk pernikahan mereka hanya dihadiri oleh kedua belah keluarga dan kerabat dekat." jelas Shaka, Maura pun mengangguk. Namun, tiba-tiba Zain buka suara.
__ADS_1
"Kita juga akan menikah." ucapnya tegas, dengan tangan menggenggam jemari Maura.