
Rain tersenyum lebar memandangi pintu masuk club Blackzone, baru satu malam ia tak bekerja rasanya sudah rindu. Rindu meracik minuman, juga sahabatnya Vio.
Segera Rain masuk dan menuju meja bar dimana sahabat sekaligus patnernya berada, siapa lagi kalo bukan Viona.
" Hey Vi, cemberut gitu?" sapa Rain.
"Ra-in, astaga Rain akhirnya lo masuk kerja juga. Gue bete tau nggak ada lo, nggak semangat." terosos Viona senang.
"Idihhhh, kangen yaaa.. wkwkwkw nggak mungkin lo kangen sama gue, ck! gue gak masuk juga baru semalem."
"Iyaaa, lo tau sendiri kan mereka." ucap Vio mengisyaratkan Rain agar melihat ke arah Neta dan pelayan lainnya.
Sontak Rain mengikuti isyarat Viona, benar saja, di jarak yang tak begitu jauh Neta menatapnya begitu sinis.
"Lo liat nggak sih Neta, kemarin pas lo pulang sama pak Radit, dia ngata-ngatain lo yang enggak-enggak tau, gue yakin deh ! asli dia itu ngiri sama lo." ucap Viona panjang lebar.
"Cihh ! apa yang mesti di iriin dari gue sih Vi, kemana-mana cantikan dia juga." gerutu Rain.
Di sela-sela obrolannya, Dion menghapiri Rain.
"Hey Rain, gimana udah sembuh."
"Udah Yon, makasih ya udah izinin kemarin, tadinya sih mau masuk aja akutu, tapi mas Radit kekeh nggak ngebolehin."
"No problems, yang penting lo udah sehat sekarang. Btw, Radit kesini gak yahh, gue belum sempet ngucapin terima kasih."
"Wahh, gatau juga Yon, mungkin enggak. Soalnya dari kemarin dia udah sama gue terus sampai jarang ke Rumah sakit.
__ADS_1
"Ini nih, bau-baunya....." ucap Dion menggantung, bukan meneruskan ucapannya ia malah terkekeh.
Rain mencebik kesal, lalu mencubit tangan Dion, " Rasain welkkk."
"Ishhh Rain sakit tau." keluh Dion.
"Ehmmm, disini ada orang bukan nyamuk." celetuk Viona.
"Astaga gue lupa, hehe." Rain nyengir kuda.
"Astaga gue juga lupa ! Vi, lo anter minuman ke meja sana ya." titah Dion kemudian berlalu.
"Baik pak." ucap Viona mengangguk.
"Rain gue tinggal bentar ya."
Dari jauh, tangan Neta mengepal erat.
Neta sangat tidak menyukai Rain sejak ia kerja di Blackzone, baginya Rain adalah pengalang dirinya mendekati Dion.
"Awas ya lho Rain, dasar murahan! kemarin sama laki-laki lain, tiap kerja sama pak Dion." Neta menatap Rain dengan sinis, kemarin dirinya memang tak sengaja melihat Rain bersama Radit.
Neta berjalan mendekati Rain, ini kesempatan bagus untuk memberinya pelajaran karena Viona sedang tidak ada di dekatnya.
"Heh, cewek murahan !" ucap Neta setelah sampai di meja bar depan Rain.
Pandangannya menelisik penampilan Rain.
__ADS_1
Rain menatap datar Neta yang tengah mengoloknya.
"Gue gak ada urusan sama lo." ucap Rain masih santai.
"Lo tu yah, udah murahan ! gak tau diri. Atau jangan-jangan emang bener ya lo itu cewek BO nan."sinis Neta.
Seketika Rain menampar Neta dengan keras, " Jaga ya mulut lo, lo gak tau apa-apa tentang gue."
Neta meringis menahan perih di pipinya, namun seketika ia tersenyum.
"Tunggu pembalasan dari gue."
"Terserah lo, gue gak peduli ! gue gak ada urusan sama lo." ucap Rain acuh.
Viona yang baru saja datang menatap heran, " Ada apa Rain, dia ngapain lo lagi?"
Rain menggeleng seraya mengibaskan tangannya ke atas, pertanda tak penting.
Neta kesal, ia kemudian berlalu pergi.
Bahkan pelayan lain ikut menatap Rain benci, itu semua karena Neta.
" Gue lihat tadi, Neta ngomong sesuatu sama lo Rain. Bilang sama gue kalo dia ganggui lo, tu anak emang ngeselin."
"Makasih ya Vi, tapi beneran deh. Gue gak apa-apa. Tapi gue penasaran motifnya apa gitu musuhin gue." Rain menunduk.
"Udah gak usah di ladenin, Neta emang gitu ! nggak cuma sama lo Rain. Sama gue juga."
__ADS_1
Rain mengangguk, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.