BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
BPC S2 air mata Maura


__ADS_3

Tubuh saling bersandar, ke arah mata angin berbeda..


Kau menunggu datangnya malam, saatku menanti fajar..


Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama, yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut ku hilang..


Zain memetik gitar sembari menyanyikan lagu pamit milik Tulus. Dua insan itu masih menikmati senja bersama. Tanpa Zain sadari, bulir bening jatuh di pipi mulus Maura.


Jangan paksakan genggamanmu, izinkan aku pergi dulu..


Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu, kau masih bisa melihatku, kau harus percaya ku tetap teman baikmu...


Zain tak sadar, jika lagu yang ia nyanyikan berhasil membuat air mata Maura lolos.


"Apa aku harus melepaskan dia dulu, kak? Aku lelah, menjalin hubungan di penuhi rasa kecewa."


Kenyataan jika Reynan lebih mementingkan teman-teman artisnya membuat dada Maura kian sesak. Hya, Maura semakin kecewa kala melihat instastory milik Reynan kekasihnya. Sedang berada di caffe bersama cewek-cewek cantik, meski dalam foto itu bukan hanya Reynan laki-lakinya.


"Kenapa, hmm?" Tanya Zain, dengan pandangan masih lurus ke depan. Ia masih belum tahu, jika gadis di sampingnya tengah menangis.


Hya, Maura hanya bisa menangis. Karena untuk tertawa pun, ia masih berfikir hal apa yang bisa membuatnya tertawa.


"Ternyata cinta itu menyakitkan, hanya manis di awal,"


Zain yang mendengar itu sontak menatap Maura, gadis itu menunduk dengan kedua tangannya menutupi wajah.


"Kamu nangis?" Zain meraih tangan Maura, agar gadis itu mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Jangan nangis, tambah jelek." lalu dengan sigap Zain menghapus bulir bening yang membasahi pipi gadis itu dengan jemarinya. Lalu memasang kaca mata gadis itu, "Dah gini kan imut!"


Zain memang laki-laki berhati lembut, tidak tegaan meskipun jika dengan Maura dulu ia cuek.


Tapi kini, pemuda bertubuh jangkung itu sadar, ada baiknya ia mengakrabkan diri dengan Maura, toh Maura dan Aurora sama, sama-sama ia anggap adik. Rasanya tidak adil jika ia begitu lengket dengan Aurora sedangkan dengan Maura ia cuek.


**


Di sebuah caffe yang dilengkapi mini bar, Reynan bersama dengan teman-teman artis satu managementnya sedang berpesta. Mereka sedang makan-makan, dan minum. Semua itu Reynan yang tlaktir karena hari ini Rey mendapat kontrak syuting film.


Berulang kali Reynan menuangkan wine ke dalam gelas dan meminumnya.


"Rey udah, kamu udah minum banyak banget!"


Seru gadis itu, ia berusaha mencegah agar Reynan tidak meminum winenya lagi.


"Rey udah, aku nggak mau hubungan aku dan Maura renggang gara-gara kam--" Reynan langsung membungkam gadis itu dengan ciuman.


"Diam, kamu bisa diam kan? Aku dah bilang berkali-kali kalo aku macarin dia itu karena kamu, kamu yang selalu nolak aku Aurora!" tegas Reynan.


"Denger, kali ini dengerin aku! Sekali aja kamu ngertiin perasaan aku, aku sayang kamu!" Sambung Reynan.


Aurora diam tanpa kata, disatu sisi ia tak ingin menjadi perusak hubungan Reynan dan Maura, tapi disisi lain. Ia juga memiliki perasaan terhadap Reynan. Haruskah Aurora bersikap egois, selama ini ia membiarkan Reynan bersama Maura karena memang Maura sangat mencintai Rey, namun diamnya justru membuat ia semakin terjerumus terlalu dalam akan perasaannya sendiri.


Bertemu Reynan setiap hari di lokasi syuting membuatnya bimbang dan takut.


Terus terang, Aurora tak bisa mengendalikan diri tentang perasaannya. Kerap ia meluapkannya sendiri tanpa seorang pun tahu jika hatinya juga sama, sama-sama patah.

__ADS_1


"Sorry, tapi aku nggak bisa! Aku mohon Rey, Maura gadis yang baik, dia saudaraku! Jangan sakiti dia." Pinta Aurora memohon, lalu dengan mata berkaca ia melangkah pergi meninggalkan Reynan.


**


"Aku antar pulang ya, mobilmu biar diambil orang rumah!" tawar Zain, seketika Maura menggeleng.


"Kenapa, hmm? Mau jalan-jalan lagi?" Entah kenapa terkhusus hari ini, Zain ingin menghibur Maura. Entah itu mengajaknya jalan-jalan atau hanya sekedar menemani gadis itu meluapkan kekecewaannya.


"Nora udah ketemu kak?" tanya Maura, seketika Zain menggeleng. "Belum, aku juga bingung harus nyari dia dimana lagi." Zain putus asa.


"Kak Zain udah coba tanya Devano?" tanya Maura, mendengar kata Devano seketika membuat Zain menghentikan mobilnya.


"Kamu kenal Devano?"


Maura menggeleng, "Aku cuma tau, kalo Nora dekat dengan Devano, Devano Aldeva, anak SMA Tunas Bangsa." jelas Maura.


"Aku yakin, Devano tau dimana Nora. Dia satu-satunya cowok yang dekat dengan Nora selain kak Zain." sambungnya lagi.


"Aku tau, aku pernah melihat nama Devano, di ponsel Nora. Coba nanti aku cari tau soal cowok itu, kita ke caffe yuk. Kamu pasti laper." Zain melajukan kembali mobilnya.


Lalu berhenti di sebuah caffe, seketika Maura menautkan alisnya, heran.


"Ini kan, caffe dimana Reynan dan cewek-cewek itu berada." Batin Maura, namun ia juga tak kuasa menolak saat Zain mengajaknya masuk.


Maura mematung, kala melihat Reynan duduk dengan tangan merangkul bahu Aurora.


Seperti sebuah pisau tajam, tepat mengenai hatinya. Bukan hanya kecewa, kali ini ia benar-benar sakit.

__ADS_1


Tes, air mata itu menetes. Buru-buru ia menghapus air matanya dan merapikan kacamata kudanya.


__ADS_2