
"Maaf." ucap Rain, hanya sepatah namun mampu membuat Angga membeku.
"Untuk....." ucap Angga menggantung.
Rain menghela nafas kasar, lalu matanya menatap Angga lekat.
Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
"Untuk semuanya, maafkan aku."
"Kita bisa memulainya dari awal." Angga mengulas senyum, tangannya meraih jemari Rain dan menggenggamnya.
Di meja yang lain, Radit merasakan sesak saat melihat Angga menggenggam tangan Rain, entah perasaan apa itu. Radit masih berusaha menampik apa yang terjadi dengan hatinya saat ini.
"Tidak bisa." Rain menunduk.
"Apa maksudmu Rain." kini Angga menatap Rain tajam, hingga hari ini ia masih belum bisa melepaskan wanita itu, sekalipun untuk Radit.
"Maaf, tapi aku tidak yakin perasaan itu masih sama."
"Beri aku kesempatan." pinta Angga memohon.
Namun lagi-lagi Rain menggeleng.
Rain tak ingin memberi Angga harapan palsu, karena hatinya kini tlah berpaling pada Radit.
"Apa itu karena mas Radit, karena kamu mencintainya."
Deg!
Ucapan Angga tepat sasaran, Rain semakin menunduk namun seketika ia mengangguk.
Radit yang sedang menguping pembicaraan mereka dengan wajah yang ditutup dengan buku menu pun cukup terkejut.
Ahhh sial aku tak mendengar jawaban Rain, apa dia menjawab pertanyaan Angga tadi dengan isyarat.
Radit masih berusaha mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka.
Angga hendak berkata lagi, namun seorang pelayan datang mengantarkan pesanan.
"Makanlah dulu Rain." titah Angga.
Rain hanya menatap nanar makanan di hadapannya, bagaimana bisa ia akan makan dengan lahap di hadapan orang yang telah disakitinya.
Meski jauh di dalam perutnya sedang berdemo ria meminta di isi.
__ADS_1
Angga masih bersikap santai, meski raut wajahnya terlihat kecewa namun tak membuat nafsu makannya hilang.
"Jadi...."
Angga meneruskan perkataannya, " jadi karena kamu sudah mencintai mas Radit, kamu tak mau memberiku kesempatan."
Ucapan Angga membuat Radit hampir tersedak, beruntung ia tidak ketahuan.
"Maaf..." untuk kesekian kalinya Rain mengucapkan kata itu untuk Angga.
Sungguh ia takut menyakiti laki-laki itu.
Jadi benarkah Rain menyukaiku...
Apa aku sedang bermimpi, atau salah dengar..
Atau dia hanya menjadikanku alasan..
Terserah, tapi apapun alasannya, aku hanya cukup pura-pura tak tahu..
"Tak apa jika kamu mencintai mas Radit, Rain. Aku ngerti, laki-laki seperti mas Radit harusnya memang pantas bahagia, tapi jangan meninggalkannya seperti kamu meninggalkanku dulu." ucap Angga kemudian beranjak.
"Aku pamit." lagi ia tersenyum getir sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Rain terdiam mematung di tempat.
"Ayo pulang." titahnya dengan ekspresi datar.
Rain mengangguk, kemudian ia beranjak mengekor di belakang Radit.
"Gimana tadi?" tanya Radit saat mereka sudah sama-sama berada di dalam mobil.
"Lancar." jawab Rain sekenanya.
"Apa kalian balikan."
Pertanyaan itu hanyalah sebuah basa basi untuk memancing Rain agar jujur, meskipun sebenarnya Radit sudah tau semuanya.
"Tidak."
Lagi lagi jawaban Rain terlihat ambigu.
Radit melajukan mobilnya menuju dimana apartemen Rain berada.
Jalanan lenggang membuatnya tak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen Rain.
__ADS_1
"Sampai." ucap Radit menyadarkan lamunan Rain.
"Ohh, maaf aku melamun tadi."
"Tak apa, aku ngerti. Apapun keputusanmu ingat masih ada aku."
Rain mengangguk kemudian tersenyum,segera Rain keluar dari mobil Radit.
"Ngapain mas Radit ikut keluar."
"Tentu nganterin kamu, aku harus memastikan dulu kamu sampai di depan pintu." sahut Radit.
"Baiklah-baiklah."
Radit pun akhirnya mengantar Rain sampai depan pintu apartemennya.
"Sudah sana pulang." titah Rain.
"Ck! kamu ngusir aku."
"Enggak, tapi ini udah malem mas."
"Biasanya kamu lebih malem lagi."
Mereka terus berdebat di depan pintu, Namun tiba-tiba tangan Radit mengunci tubuh Rain.
Kedua wajah itu bersitatap hingga hanya menyisakan jarak lima senti, bahkan Rain dengan jelas bisa merasakan hembusan nafas Radit begitu dekat.
Segera Rain memalingkan wajahnya, karena detak jantungnya tak lagi terkontrol.
"Hey kenapa kau begitu gugup." goda Radit yang melihat wajah Rain merona merah.
"Enggak."
"Iya."
"Pulanglah."
"Hmm.."
Rain segera membuka pintu setelah Radit melepaskannya.
"Selamat malam Rain, mimpi indah." ucap Radit sebelum akhirnya melangkah pergi.
Rain mengulas senyum, kemudian ia masuk ke dalam apartemennya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Sesederhana itu memang rasanya jatuh cinta...
Namun ia tak berharap Radit akan membalas cintanya, baginya seperti ini sudah cukup...