BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
club


__ADS_3

Liburan berakhir, Radit dan Rain harus kembali bekerja, malam ini Rain berangkat kerja diantar oleh Radit.


Ia juga berkunjung ke club karena sudah lama ia tak bertemu dengan Dion.


Dulu mereka berempat sama-sama.


Mereka itu adalah Shaka, Sam, Radit dan Dion. Sekarang Shaka dan Sam sudah sibuk dengan keluarganya.


Tinggalan Radit dan Dion yang sering bertemu.


Rain langsung menuju meja bar tempatnya bekerja meracik minuman, ia menghampiri Viona sahabatnya.


Sedangkan Radit kini berada di ruang VIP bersama Dion.


"Rain, habis dari mana lu kemarin bolos lagi." Selidik Viona.


Tatapannya mengintimidasi.


"Gue, hmmm." bukan menjawab, Rain malah tersenyum, tatapannya menerawang entah kemana.


"Helehhhh, malah senyum-senyum sendiri, sehat kan lu? Kesambet setan mana hmm?" Viona kesal, biasanya Rain langsung cerita, ini malah senyum-senyum gak jelas.


"Gue, jadian sama mas Radit. Duhhhhh bahagiaaa banget gue." ceplos Rain.


"Hilihhh, bengek lu."


"Kok malah ngatain gue sih, harusnya lo seneng dong."


"Akh elehh Rain, gue pikir lo udah pacaran lama ama Mas Radit."


Rain mengernyit heran, bagaimana bisa Viona berfikir jika dirinya dan Radit sudah lama jadian, sedangkan selama ini Radit baru mengungkapkan perasaannya kemarin.


"Jadian?"


Viona mengangguk, tangannya masih sibuk meracik minuman.


Sesaat kemudian Andre datang meminta pesanan, ia memperhatikan Rain tapi juga enggan menyapa karena masalah waktu itu.


Pastilah Andre terkontaminasi mulut manis Neta.


***

__ADS_1


Dentuman musik dj memekakkan telinga, semua larut dalam alunan musik yang mampu menggoyangkan tubuh para pengunjung club, ada yang berjoget, ada yang berdance, ada yang hanya sekedar minum sembari menikmati alunan musik dj.


Sosok pria tinggi dan tampan menghampiri meja bartender.


"Hay nona, bisa temani aku minum." ia mengerlingkan mata sebelah, dengan senyum manis memperlihatkan lesung pipi.


"Maaf, tapi itu bukan pekerjaan saya. Tugas saya hanya meracik minuman," tolak Rain halus.


Laki-laki itu manggut-manggut, "Bisakah aku minum di depan mejamu ini. Itupun jika tak mengganggu." pintanya.


"Tak masalah."


Kemudian laki yang bernama Elkan itu meminta agar Rain mengambilkan Wine untuknya.


"Thanks nona, kamu cantik." puji nya.


Rain hanya menggelengkan kepalanya.


Elkan terus memperhatikan Rain yang ahli dalam meracik minum.


Disisi lain Viona hanya memperhatikan mereka, Rain memang cantik. Wajar jika banyak laki-laki yang tertarik, apalah ia yang hanya butiran debu.


***


"Jadi kalian bareng selama ini, baru jadian kemarin?" tanya Dion, tawanya masih pecah.


"Lu ngejek mulu si, ya gue itu masih ragu sama perasaan gue. Makanya gue enggak nyata-nyatain, takutnya Rain enggak suka sama gue, dan dia malah ngejauh kan repot."


"Ya ya ya, gue ngerti. Soalnya Rain juga dulu sama Angga, ehh!" Dion menutup mulutnya.


"Sorry, Dit. Gue gada maksud."


"Ahhh eleh, gapapa. Gue kenal deket kok sama Angga." Sahut Radit.


"Ohh, ya??"


Radit mengangguk.


"Dia laki-laki yang baik, gue tau Rain salah. Tapi biar bagaimanapun aku dan dia punya nasib hampir sama."


"Dit, lo emanggg the best deh. Ohh ya, gue lagi pedekate." curhat Dion.

__ADS_1


"Ma sapa heh."


" Ama Viona, hahhaa. Gabut gue!" jujur Dion.


"Gue tampol juga lo, sekalinya lo deket ma cewek gegara gabut."


Dion makin terkikik, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Malam semakin larut, suasana club semakin rame.


Elkan masih duduk di depan meja bar Rain.


Tiba-tiba Radit dan Dion keluar, ia langsung menuju ke tempat Rain.


"Mas Radit..."


Radit mendekat lalu duduk begitu saja di samping Elkan bersama Dion.


"Hay sayang." Sapa Radit.


"Minum lagi?" selidik Rain, sebenarnya ia tak begitu suka jika Radit minum banyak-banyak.


"Dikit sayang."


"Iya-iya yang punya sayang." sinis Vio, menatap Rain dan Radit lalu menggeleng gelengkan kepalanya.


Elkan masih memperhatikan laki-laki di sebelahnya, barangkali ia salah lihat.


Lalu menyadari, itu benar Radit. Ia menepuk pelan pundaknya.


"Dit.." panggilnya.


Yang punya nama langsung menoleh.


Dahi Radit seketika mengkerut, "Kaya pernah liat." Radit menautkan alisnya.


"Tapi lupa siapa ya?"


Radit berusaha mengingat, nihil ia tak ingat apapun.


Wajah Elkan tak begitu jelas, karena Radit jelas mabuk juga remang lampu club serta dentingan musik yang memekakkan telinga membuatnya tak fokus mengingat.

__ADS_1


"Gue Elkan..." Sahut El, ia yakin Radit langsung mengingatnya.


Mengingat hanya ia yang punya nama itu.


__ADS_2