BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Viona yang polos


__ADS_3

Bulan madu, mungkin adalah hal yang paling indah untuk setiap pasangan, karena pada momen itu, kadar cinta akan bertambah.


Berbeda dengan pasangan Dion dan Viona, kenyataannya Viona masih sangat polos.


"Jangan dulu ya, bee! aku takut? katanya sakit." seru Viona kala Dion ingin mengajaknya gelud.


"Yah, bee!" wajah Dion mendadak murung, namun ia juga tak tega jika harus memaksa Viona.


Viona yang masih polos membuatnya mati penasaran, namun juga mengajarkannya arti kesabaran.


Dion berusaha mendekat, tuk sekedar mencium pipi gadis itu. Namun nasib memanglah nasib, Viona justru menjauh.


"Aaa, stop! Bee,"


"Kenapa, hmm? aku kan cuma mau cium!" Seru Dion, ingin rasanya mengumpat.


"Ohh mau cium, kirain hehe." Viona nyengir kuda, lalu tersenyum imut sembari menunjuk-nunjuk pipinya, kode agar Dion mengulang saat mencoba mencium Viona.


Cupp!


Kecupan singkat mendarat, membuat si empu pipi bersemu merah.


"Aaa, jadi seperti ini rasanya dicium." Gumam Viona sembari memegangi pipinya.


"Astaga, istriku terlalu polos ternyata. Jangan bilang ini pertama kalinya?" tanya Dion namun dengan bibir melengkung ke atas.


Viona mengangguk, dengan pandangan menunduk malu-malu.


"Iya, aku belum pernah ciuman, bee!"


"Hmm, tak apa! Aku suka, artinya kamu benar-benar menjaga diri istriku."


Viona mengulas senyum, membiarkan Dion memeluknya.


Angin malam yang menerpa mereka yang tengah berdua di balkon Villa menambah suasana roman meskipun sempat gagal.


Ya mereka memutuskan bulan madu di Yogyakarta, katanya Viona sangat menyukai kota itu. Kota yang kaya akan keanekaragaman budaya dan wisata.


"Bee," panggil Dion seraya memeluk pinggang Viona dari belakang.


"Iya, bee!"


"Sebenarnya aku mau jujur sesuatu!"


Viona membalikkan badan ke arah Dion, sejenak kedua netra itu beradu.

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Tentang aku, tapi kamu janji jangan marah." ucap Dion sembari memandang Viona intens.


Jika tadi Viona menunduk malu-malu, kini ia memberanikan diri, mendongkak dan menatap lekat sang suami.


"Aku pernah menyukai Rain, dulu sebelum aku mendekatimu!" jujur Dion, harap cemas menunggu ekspresi dari Viona.


Namun tatapan Viona masih saja polos, " Aku tau, aku tau semuanya! tapi aku bangga." ucap Viona dengan seulas senyum.


"Bangga?" Dion menautkan dua alisnya, heran dengan jawaban Viona.


Viona mengangguk lalu justru memeluk Dion dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suami.


"Aku tau kamu menyukai Rain, dulu bahkan sebelum ia sama pak Radit. Dan aku bangga, karena kamu adalah orang yang tulus, dan aku beruntung menjadi istri kamu!" Seru Viona.


"Kamu nggak egois untuk mengejar cintamu, memilih mengikhlaskan Rain untuk sahabatmu, dan aku tau kamu orang yang tulus bee," Sambung Viona.


Seketika Dion menangkup pipi sang istri dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Beruntungnya aku mendapatkan wanita sebaik kamu sayang!" Tanpa ba bi bu, Dion langsung menggendong Viona masuk ke dalam kamar, dan merebahkannya di atas ranjang.


**


Satu hari setelah Radit kecelakaan, Rain merasa benar-benar sepi. Lantaran kekasihnya melarangnya videocall dengan alasan sibuk.


Hingga malam menjelang, Rain tak dapat memejamkan mata, ia rindu dengan Radit, sangat rindu.


"Terkhusus hari ini, gue bener-bener merasa sepi! Dulu pas mas Radit sibuk, ada Viona. Sekarang...." gumam Rain pelan, ia memandangi balkon sembari mengesap capucinnonya.


Drrtttt!


Bunyi ponsel menyadarkan lamunan Rain, ia meraih benda pipih itu, melihat siapa yang menelponnya kali ini.


"Neta?" gumam Rain, namun bukan mengangkat dia justru memandangi ponselnya yang bergetar.


Sejenak ia berfikir, namun Rain mengangkat telepon itu.


"Hallo, Net?"


"Hai, Rain. Sibuk nggak? out bareng yuk, mumpung masih cuti?" ajak Neta di seberang sana.


"Kita doang?" tanya Rain.


"Sama Andre juga? gimana? Gak ada penolakan,"

__ADS_1


"Okee, gue siap-siap dulu, Net?"


"Gue sama Andre udah di bawah." Seru Neta dengan suara memekakkan telinga.


Gedek Rain, ternyata Neta orang yang lumayan asyik. Ia memutuskan bersiap, dan merias tipis wajahnya.


Bukan Rain jika tak mempesona, Rain tetaplah Rain si bartender seksi.


Ia masuk ke dalam lift, bersamaan dengan seorang laki-laki yang sangat familiar.


"Kamu? Eh maksudku kamu Nona bartender itu kan?" Sapa pria itu, tak lain adalah Elkan.


"Aku?" Rain menunjuk dirinya sendiri, bodoh memang! padahal jelas hanya ada dirinya dan Elkan di dalam lift.


"Tentu saja kamu, nona! kamu pacar dokter Radit kan? kita pernah bertemu di club Blackzone."


"Ouhhh, iya aku ingat!" Seru Rain setelah berfikir sejenak.


"Mau kemana, nona?" tanya Elkan dengan seulas senyum.


"Jalan-jalan," jawab Rain.


Saat pintu lift terbuka, buru-buru Elkan pergi melangkah lebih dulu, setelah melambaikan tangannya ke arah Rain.


Rain sampai di bawah, benar saja Neta dan Andre sudah berada di parkiran menunggu Rain dengan bersandar badan mobil.


"Masuk, Rain?" Dan tanpa pikir panjang, Rain masuk dan duduk di kursi belakang.


"Angga?" pekik Rain terkejut kala mendapati ada Angga di sampingnya.


"Rain? mas Radit mana?" Angga celingukan gak jelas.


Sementara itu, Elkan memukul stang mobilnya.


"Astaga, aku lupa bilang kalo Radit sakit, apa gadis itu sudah tahu, tapi kalo tahu Radit sakit, harusnya ia nggak jalan-jalan dong!" monolog Elkan.


Elkan merasa sangat bodoh karena lupa, lupa memberi tahu Rain kalo Radit sakit, dan lupa meminta nomer ponsel gadis itu.


"Tapi tadi, artinya kita satu apartemen dong? Kok aku gak tau, ada penghuni secantik dia, astaga mulutku suka bener kalo ngomong." Elkan merutuki mulutnya sendiri, kala terang-terangan memuji Rain.


***


Masih dalam posisi canggung, empat orang itu kini berada di salah satu mall besar di Jakarta, ya Andre, Neta, Rain dan Angga kini sedang mengantre tiket untuk menonton bioskop.


Rain mengirim pesan pada Radit, jika ia keluar sebentar, dan Radit mengiyakan.

__ADS_1


Andaikan Radit tahu, jika Rain pergi bersama Angga, Andre juga Neta. Mungkinkah Radit mengizinkan? atau justru terbakar cemburu.


__ADS_2