BUKAN PELARIAN CINTA

BUKAN PELARIAN CINTA
Kecelakaan


__ADS_3

Dokter juga manusia, itulah sebabnya aku juga merasakan sakit..


~Raditya Permana


Sepulang mengantar Rain, Radit memacu mobilnya sedang, jalanan ramai membuat dokter tampan itu berdecak sebal, namun tetap bersikap sabar.


Lama terjebak diantara kemacetan, akhirnya mobilnya lolos juga, buru-buru Radit melesatkan mobilnya cepat sebelum kembali terjebak macet, bibirnya tak henti mengukir senyum mengingat kekasihnya.


Rain anastasya, gadis yang telah mengalihkan dunianya, gadis yang telah membuatnya selalu tersenyum setiap hari.


Angan Radit melayang jauh, hingga hilang sadar dan terjebak di dalam kehaluan akan sosok Rain, si penguasa hati.


Brukkkk!


Na'as memang, mobil Radit menabrak pohon kala menghindari seseorang yang menyebrang jalan.


Kepalanya menatap setir, benturan keras menyebabkan kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri.


Mobil bagian depan rusak lumayan parah, beruntung si penyebrang tahu jika mobil itu mengalami kecelakaan dan langsung mencari pertolongan.


**


Tar!


Rain yang sedang menikmati cappucino hangat di balkon tak sengaja menjatuhkan cangkirnya, tangannya bergetar, padahal sedari tadi ia cukup tenang. Mendadak Rain merasa khawatir luar biasa.


"Ah, mungkin perasaanku saja, mas Radit mungkin sudah sampai di apartemen dan langsung istirahat." gumam Rain, ia kemudian berjongkok, membereskan pecahan-pecahan cangkir yang jatuh berserakan.


Lagi, tanpa sengaja tangannya tergores.


"Akh," pekiknya kala menyadari tangannya sedikit berdarah.


"Apalagi ini, semoga hanya kebetulan." gumamnya.


Setelah selesai membereskan pecahan cangkir, lalu gadis itu beranjak mengambil kotak obat, dan mengobati tangannya.


Pandangannya teralih pada benda pipih miliknya di atas nakas yang sedari tadi tak berdering sama sekali.


"Apa mas Radit sudah tidur? apa dia lelah?" monolog Rain.


Pelan ia membuka pesan pada layar ponselnya, namun nihil.


Mungkin harus Rain dulu yang mengirim pesan, walaupun kadang Radit tak langsung membalasnya.


To mas Radit : Sayang, sudah sampaikah? Kenapa tak memberiku kabar, apa kamu lelah, hmm? baiklah selamat istirahat! Miss you โค


Rain kembali menyimpan ponselnya, lalu memilih merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar.


Satu jam lebih Rain menunggu, namun tak ada jawaban pesan, hingga kantuk menyerangnya tanpa sadar terlelap dalam mimpi.

__ADS_1


**


Sementara itu di Rumah sakit Hermina, semua orang sedang panik, melihat pemilik Rumah sakit itu mengalami kecelakaan hingga tak sadarkan diri.


Elkan, dokter yang baru seminggu pindah tugas diutus untuk menangani Radit.


Radit langsung dibawa ke ruang IGD untuk ditangani, kondisinya sangat buruk, luka di kepalanya menyebabkan ia harus segara mendapat perawatan intensif.


"Gue harus hubungin siapa sekarang, Dit?" gumam pelan Elkan, menyadari Radit tak lagi memiliki keluarga dekat.


Terlebih El yang tak bisa membuka sandi ponsel milik Radit membuatnya terus berfikir, mengingat-ingat siapa keluarga dekat Radit selain wanita itu, sebab Elkan tidak memiliki nomor ponsel kekasihnya Radit.


Tiba-tiba otaknya mengingat sesuatu, segera ia meraih benda pipih di saku celananya.


"Hallo, pak Shaka? Apa anda sedang sibuk? Ehm, jadi gini..


Dokter Radit mengalami kecelakaan fatal, dan saya bingung harus menghubungi siapa? saya ingat jika anda adalah saudara dekat Dokter Radit."


"Astaga, Radit kecelakaan? baik, Dok! Saya akan segera kesana." Sahut Shaka di seberang sana.


"Baik, Pak Shaka tapi sebaiknya besok pagi saja, saat ini biar saya yang jagaSob."


Elkan bernafas lega kala berhasil menghubungi keluarga Radit, ia pun melakukan perawatan terbaik untuk sahabatnya itu.


Semalaman Elkan terjaga, menunggu Radit sadar. Kenyataannya Radit masih belum sadarkan diri, mungkin karena tubuhnya lemah karena kehilangan banyak darah.


Hingga mentari merangkak naik, sinarnya menembus celah jendela, El tersadar semalam ia menjaga Radit hingga tertidur, dan saat mendapati Shaka dan Sam sudah berada di Rumah sakit sepagi ini, El pamit pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian.


"Dit, kok bisa sih lu kaya gini?" gumam Shaka, Perlahan Radit sadar dan membuka mata. Kepalanya terasa berat, namun ia paksa.


"Shak, lu disini? Sam?" Radit menautkan alisnya, ia hendak bangkit namun tak bisa.


"Jangan banyak gerak, lu masih lemah." omel Sam.


"Ck! gue gak selemah itu." Seru Radit tak terima, meski kenyataannya ia tak bisa tuk sekedar bangun dan mengubah posisi.


"Dokter El pulang sebentar, Rain mana? Udah tau kalo lu sakit?" tanya Shaka.


Radit menggeleng, "Gak tahu, gue..." Radit menggantung ucapannya sejenak.


Shaka menyela, " Biar gue yang kasih tau!"


"Jangan!" Seru Radit, tatapan matanya serius.


Dua perawat datang untuk mengganti infus serta menyuntikkan obat.


"Dokter, syukurlah anda sudah membaik. Kami akan memindahkan anda ke ruang rawat VIP agar lebih nyaman." Seru salah satu perawat itu dengan tubuh membungkuk tanda hormat.


***

__ADS_1


Kini Radit sudah dipindahkan di ruang rawat yang lebih nyaman, ruangan yang lebih mirip kamar dengan ranjang pasien lebih besar ini dikhususkan untuk orang-orang spesial.


Suster membawakan Radit sarapan, dan saat hendak menyuapi Radit, Shaka mengambil alih bubur itu.


"Biar saya saja, sus!" pintanya.


"Lu mesti makan, biar cepet pulih," Serunya dengan nada mengomel namun gerakan tangan menyuapi.


Radit hanya bisa menurut, sedangkan Sam menahan tawanya.


"Kenapa sih, lu gak kasih tau Rain aja, Hmm? Dia pasti khawatir, apalagi lu bilang semalem gak ngasi kabar." seru Sam.


Radit menghela nafas kasar, lalu menatap Sam dan Shaka bergantian.


"Gue gak mau dia sedih," ungkap Radit.


"Ck! dasar bucin, tapi gimanapun lu mesti kasih tau dia!" seru Shaka sembari memberikan Raidt minum setelah selesai makan.


Radit meraih ponselnya, lalu menghubungi Rain.


"*Hallo sayang, Emt! maaf aku lupa mengabarimu semalam, aku sibuk, pasien banyak, dan mungkin untuk beberapa hari ini kita nggak bisa ketemu dulu."


"Iya, sayang. Emhhh, sibuk banget ya? baiklah semangat dan jangan lupa jaga kesehatan, jangan telat makan ya." pinta Rain di seberang sana*.


Beruntung Rain tidak menanyakan kenapa Radit hanya telepon, bukan Video call. Radit mengukir senyum tanpa sadar, setelah selesai menelpon Rain, bagaimanapun ia tak ingin Rain tau jika dirinya kecelakaan, ia tak ingin wanitanya sedih dan khawatir.


"Cehh, dasar tukang bohong!" Sam berdecak.


"Namanya juga cinta, Sam! kalo elu di posisi Radit, pasti juga akan ngelakuin hal yang sama." bela Shaka.


Radit hanya tersenyum menanggapi Shaka dan Sam, ia merasa beruntung memiliki saudara sekaligus teman seperti mereka.


"Apa istri kalian tahu, lu pada disini nungguin gue?" tanya Radit.


"Tidak," jawab Spontan Shaka dan Sam, seketika membuat tawa mereka pecah.


"Gue dan Sam bilang, kami ada meeting penting!"


Radit menggelengkan kepalanya melihat jawaban Shaka.


"Fix kita bertiga tukang bohong!" Ujar Radit terkekeh.


"No no no, gue bohong demi kebaikan!" protes Shaka, "Apa lu pikir, gue bohong demi dosa, Ck!" sambung Radit.


Mereka bertiga seketika tertawa lagi.


***Like komen dan Votenya yaaaa, harus! oke sayang๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Like komenmu, semangatku***!

__ADS_1


__ADS_2