
"Alasan, tentu alasanku karena kita sama-sama terpaksa." ucap Maura, tanpa menatap ke arah Zain sedikit pun.
Rasa kesal dan kecewa berusaha ia tutupi dengan senyuman, meski palsu.
"Aku tidak akan memaksa bertahan, kamu berhak bahagia begitu pun diriku. Kita akan menjalani hidup masing-masing dengan orang yang lebih pantas."
"Tidak, jangan begitu. Aku yakin kita bisa melewati fase ini sama-sama, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," Zain menggenggam lembut tangan Maura, meletakkannya di depan dada.
"Ada debar aneh disini, aku berusaha menghindari dirimu. Karena itu, aku hanya belum siap patah hati. Aku terlalu pengecut untuk menerima kenyataan bahwa kamu masih begitu mencintai Reynan." jelas Zain.
"Reynan?" ucap Maura tak percaya tuk kemudian menggeleng kuat-kuat, "Aku sudah putus darinya, kak! Tentu saja aku sudah move on, lagipula apa yang perlu dipertahankan dari mencintai laki-laki breng sek itu." Maura menggerutu pelan.
Akhirnya mereka berdua membuat kesepakatan untuk saling menerima dan mencoba saling memakhlumi. Dengan wajah berbinar, Maura pamit kembali ke rumah mertua. Tentu saja Radit dan Rain mengizinkan. Bagaimanapun kodrat wanita adalah ikut suami, sekalipun kasih sayang Radit dan Rain begitu besar untuk putrinya.
Sampai di rumah, Maura menyapa Kenia sementara Zain izin berangkat ke kantor menyusul papa.
"Kamu pasti kurang puas kan liburan di rumah mama, maafkan mama sayang. Tapi suamimu benar kelewatan, bahkan ia meninggalkanmu disana demi kepentingan pekerjaan, ayukurlah semalam dia menyusulmu." tutur Kenia.
"Iya, ma. Aku tidak apa-apa. Lagipula, jarak sini ke rumah papa Radit tak jauh, aku bisa pergi kapanpun aku mau asal suamiku mengizinkan."
__ADS_1
"Iya sayang, apa kamu sudah sarapan?" tanya Kenia, Maura pun mengangguk.
"Baiklah, apa bisa temani mama belanja. Hari ini adik iparmu akan berkunjung, dan mungkin menginap disini."
"Nora akan kesini, ma?" tanya Maura yang langsung diangguki kepala oleh Kenia.
Mereka pun bersiap. Balutan dress navy selutut dengan polesan make-up tipis natural, rambut panjang tergerai, Maura terlihat sangat cantik. Dia menuruni tangga, hari ini mereka belanja beberapa kebutuhan dapur di supermarket. Tadinya bi Ijah yang hendak belanja, namun karena Kenia ada sesuatu yang harus dibeli akhirnya Ibu paruh baya itu memilih mengajak menantunya.
Belanja di supermarket memang bukan pertama kali bagi Maura, akan tetapi ada yang berbeda dari hari ini. Maura pergi bersama mama mertuanya, sosok lembut yang pernah membuatnya penasaran.
"Kamu mau beli apa, sayang. Pilihlah makanan atau apapun kesukaanmu." pinta Kenia.
Benar saja, Nora dan Devano benar-benar datang hari ini. Maura pun bahagia, kadang ia merasa kesepian karena Zain kala itu bukanlah teman mengobrol yang baik. Namun, doa baik selalu ia panjatkan, berharap sikap Zain benar-benar berubah.
**
Malam yang dingin, Maura memutuskan langsung masuk ke dalam kamar lantaran Zain, suaminya belum pulang. Sudah jadi kebiasaan lelaki itu sejak menikah sering pulang malam dengan alasan lembur, entah untuk hari ini ia memilih tak lagi menunggu dan merebahkan diri di ranjang king sizenya.
"Nora menginap, apa mungkin dia akan tidur seranjang dengan denganku, tapi seharusnya memang begitu kan?" batin Maura sebelum menarik selimut dan memejamkan mata.
__ADS_1
Sekitar pukul sembilan malam, Zain pulang. Memasuki rumah yang sudah sepi, seharian konsentrasinya terganggu akan sosok Maura. Ia benar-benar dilanda gelisah, meski sudah berusaha menahan diri.
"Sial," Zain terus mengumpat kala bayangan penyatuan itu terlintas di benaknya, sepertinya memang otaknya sudah kotor karena kejadian itu.
Gegas ia membuka gagang pintu setelah sampai di lantai atas, matanya mengulas senyum saat mendapati intrinya tidur sangat lelap.
Zain mendekat, diam-diam ia menyelimuti sang istri dan mengusap kepala Maura sekilas. Kemudian ia langkahkan kaki pelan keluar kamar lewat pintu balkon, tentu saja ia ingin tidur di kamar Nora yang jelas bisa ia masuki sesuka hati lewat pintu balkon.
Perlahan ia membuka pintu. Namun, matanya membulat sempurna demi melihat Devano dan Nora tidur dengan saling memeluk, tanpa apapun dan hanya tertutup selimut.
Damn it, kenapa aku gak tau kalo mereka pulang! mana habis *** **!
Zain langsung menutup pintu, sebisa mungkin mencoba meminimalkan suara, lalu melangkah pelan kembali ke kamar, benar-benar memalukan.
Namun, yang lebih malu lagi. Maura menatapnya tanpa berkedip begitu masuk ke dalam kamar.
"Dari mana kak?" tanya Maura, yang baru terbangun karena ketiduran.
"Ahh, dari balkon, cari angin! Sudah ayo tidur." ia pun merebahkan diri ke atas ranjang.
__ADS_1