
"Maaf telah membohongimu, maaf! Aku hanya tak ingin kamu khawatir, Sayang!" Seru Radit dengan tatapan sendu.
Rain masih memandang lekat kekasihnya, "Sekarang tidurlah, sudah larut!"
"Asal kamu disini," Radit menempuk bed sampingnya, mengisyaratkan Rain agar ikut berbaring menemaninya.
Ranjang pasien VIP memang lebih luas, bahkan seukuran dengan ranjang di apartemen Rain yang notabenenya muat untuk tidur dua orang.
"Aku malu, nanti kalo ada perawat dan dokter masuk bagaimana? Aku akan tidur di sofa, kamu harus istirahat biar cepet pulih." Rain hendak beranjak, namun Radit mencekal pergelangan tangannya, " Jangan pergi, jangan jauh-jauh." pinta Radit dengan wajah memelas.
Ceklek!
Pintu terbuka, dokter Elkan dan juga Shaka masuk.
"Ehmm," Deheman dua orang tampan itu, seketika membuat Rain bersemu merah, ia mencoba melepaskan tangan Radit.
"Ceh, ganggu ya kalian." decak Radit.
Elkan dan Shaka hanya menggeleng, gedek dengan pasangan bucin itu.
"Gue fikir, lo masih sendiri." Seru Elkan, dokter itu mulai memeriksa tubuh Radit.
"Dan gue, gue mampir, niat banget ini mau begadang sama El, nungguin elo."Sahut Shaka enteng, lalu duduk di sofa.
"Pergi lu pada, deh! gue mau sama pacar gue!" usir Radit, ia menarik Rain hingga gadis itu hampir terjatuh, beruntung tak menimpa Radit.
"Sabar napa, tahan dulu kek, gue sama El itu baru dateng, kita khawatir sama lu!" omel Shaka.
"Ck, iya iya! kalian emang deh, btw emang Nora dan Zain kaga rewel lu tinggal, nggak kasian ama Kenia lu, ya?"
"Lagi pada nginep di rumah oma, dah lu mending cepet nikah terus punya anak, dan kita jodohin deh mereka." ucap Shaka asal.
"Lu kira gampang apa bikin anak," kesal Radit.
"Yaelah gampang-gampang susah, yang penting kan rajin." makin ngawur Shaka.
Sedang si Elkan memilih menyimak obrolan mereka, jomblo sejati memang begitu, takut jika ikut bersuara malah justru jadi bahan ketawa.
Rain sudah memerah, malu.
**
"Gue pulang ya, biar Rain jagain lu disini." ucap Shaka sebelum pergi, sedangkan Elkan, ia sudah pergi lima menit yang lalu.
"Bilang makasih lu sama El, dia yang inisiatif hubungin cewek lu."
"Serius, lu Shak?" tanya Radit, dan Shaka mengangguk.
"Aishhh, bener Rain, El yang hubungin kamu?"
Gedek Shaka, padahal jelas Shaka udah bicara sejujurnya, masih tak percaya.
"Iya, sayang. Dokter El yang menelponku lewat ponselmu." jujur Rain.
Radit menghela nafas sejenak.
"Gue pulang ya, besok gue kesini sama Kenia." pamit Shaka, " Oke hati-hati." Seru Radit.
__ADS_1
Setelah Shaka berjalan keluar, Radit meminta Rain untuk berbaring di sampingnya.
Rain menurut, ia berbaring di samping Radit, jemari itu saling bertautan.
"Masalah Angga, maaf ya, mas!"
Radit mengulas senyum, perlahan tangannya yang satu membelai rambut Rain, "Aku percaya sama kamu, sayang!"
Sedang tangan satunya masih terpasang infus.
"Cepet sembuh, aku gak mau lihat kamu kaya gini."
"Kalo aku sembuh, kita nikah bagaimana?" Radit mencoba memberi penawaran, kali ini tak ada penolakan, gadis itu langsung mengangguk mengiyakan.
"Kamu satu-satunya alasan aku bahagia, Rain. Jangan pernah berfikir untuk pergi ya, janji sama aku?" entah kenapa jauh dalam hati Radit ia merasa takut, takut akan kehilangan Rain, takut jika gadis itu meninggalkannya terlebih Rain pernah meninggalkan lelaki sebaik Angga.
"Aku janji dan aku bisa memastikan untuk itu, tapi apa kamu sedang meragukanku," lirih Rain dengan wajah berubah sendu.
Radit menggeleng cepat, " Enggak, aku sama sekali nggak meragukanmu! Sekarang kita tidur ya!" pinta Radit.
Malam semakin larut, dua manusia saling mencintai itu sudah sama-sama terlelap, menjemput mimpi-mimpi indah, hingga pagi menjelang, sinar mentari merangkak naik, cahayanya menyelinap lewat celah jendela hingga membuat gadis cantik itu terbangun dan membuka matanya.
Rain membulatkan matanya kala tangannya memeluk erat Radit bak guling hidup, bahkan Radit sama sekali tak mengeluh kala tangan Rain menimpa luka di tangannya.
"Astaga,"
Beruntung Radit masih terlelap, buru-buru Rain bangkit dan mengindahkan tangannya.
Rain merenggangkan otot-ototnya sejenak, sebelum akhirnya ia memilih pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai, Rain keluar dan mendapati Radit sudah membuka matanya.
"Pagi, sayang?" sapa Rain dengan senyum.
"Pagi, calon istri." balas Radit.
Brushhh! seketika pipi Rain bersemu merah bak tomat, sepagi ini Radit sudah berhasil menggodanya.
Jam menunjukan pukul 06.30 WIB, seorang suster masuk dengan membawakan semangkuk bubur dan juga obat untuk Radit.
"Pagi, Dok! Waktunya sarapan," Seru suster dengan badan sedikit membungkuk, memberi hormat.
"Biar calon istri saya, sus!" pinta Radit, kala suster hendak menyuapinya.
"Baik, Dok!"
Rain pun mengambil alih mangkuk bubur di tangan suster, lalu mulai menyuapi Radit.
Dengan telaten ia mengurus Radit, tak lupa senyumnya yang selalu menjadi obat dari segala luka.
Selesai menyuapi Radit sarapan, Rain kemudian membantu Radit meminum obat, selanjutnya menunggu dokter Elkan datang.
Selang beberapa menit, kembali Elkan datang, ia akan menganti perban dan mengobati luka luar Radit.
Namun sebelum itu, Rain mendekat ke arah Radit, meminta izin pulang sebentar mengganti pakaiannya.
Radit pun mengizinkan, toh ada Elkan disini.
__ADS_1
"Hati- hati dan cepat kembali sayang," Ahh andai Radit bisa mengantar Rain saat ini, ia merasa bersalah melihat Rain harus pulang sendiri menggunakan taxy online.
**
"Buruan nikah, biar lebih enak." seru Elkan.
"Jomblo syirik aja lu, emang udah punya pasangan buat dibawa dateng ke acara nikahan gue!" cibir Radit, seketika membuat Elkan berkacak pinggang.
Skak mat! niat mau menggoda Radit, ia malah kena sasaran.
"Gue gak tertarik sama cewek!" seru Elkan.
"What, jangan bilang lu suka sama cowok." Radit bergidik ngeri.
Ide jail terbit di otak Elkan, " Iya gue sukanya ma cowok!" ucap Elkan dengan mode wajah datar.
"Ngeri! Jangan deket-deket gue," omel Radit.
"Tapi gue sukanya ama lu, gimana?"
"Dasar, ogah gue gelay!" Radit semakin bergidik, kala El mendekat.
"Bwahahahaha..." tawa Elkan pecah tak tertahan, "Gue normal kali, masih bisa berdiri kalo liat cewek cakep!" ucapnya.
Huhhhh!
Radit bernafas lega, dia pikir Elkan beneran g*y.
"Tapi gue suka sama cewek lu!" ungkap Elkan.
Deg!
Radit langsung berubah ekspresi menjadi datar mendengar penuturan Elkan, ia diam, tiba-tiba diam.
"Tapi bo'ong!" ucap Elkan terkekeh.
Bugh! Radit melempar Elkan dengan bantal miliknya, namun tangannya yang lemah membuat bantal itu mendarat tak jauh darinya.
"Awas lu ya, gue poting gaji lu, tau rasa!" ancam Radit.
"Janganlah, dari pada lu potong, mending lu kasi gue bonus, gimana?"
"Hmm, btw makasih udah ngasi tau Rain soal keadaan gue!" ucap tulus Radit, Elkan mengangguk, kemudian pamit keluar, karena masih banyak pasien yang harus ia tangani.
**
Baru dua jam Rain sudah sampai kembali di rumah sakit, ia tak ingin lama-lama meninggalkan Radit.
"Kamu pasti capek bolak-balik." ucap Radit kala Rain mendekat.
"Gapapa, demi calon suami!" malu-malu Rain, seketika senyum Radit kembali terbit.
"Makasih, calon istri."
Kasih sajen, biar aku semangat up kak! jangan lupa tinggalkan jejak berupa jempol tangan dan kaki juga camilannya๐๐ป๐๐ป๐๐ป
__ADS_1